Gundik Sang Mafia

Gundik Sang Mafia
#Kehidupan Baru Telah Di Mulai


__ADS_3

Kehidupan baru telah di mulai, arus singkat kehidupan masa lalu telah berlalu begitu cepat. Ada cinta yang baru bersemi dan ada cinta yang harus di lupakan, namun tidak bisa di lupakan.


Jhonatan, kini menjadi pria pendiam, tapi murah senyum. Pria itu kini menjalani kehidupan bersama Gladies, sesuai permintaan Bella. Demi wanita itu, mau tidak mau, ia harus menjalani kehidupannya bersama Gladies.


"*Kalau kau mencintai ku, bahagiakan Gladies. Aku sudah cukup menyakitinya di masa lalu. Masalah Gladies atau hukuman apa pun karena masa lalunya, aku tidak ingin ikut campur. Aku tidak berhak memberikan hukuman."


"Kau tidak mencintai ku? apa ini hukuman untuk ku?"


"Aku tidak berhak memberikan mu hukuman Jho, aku hanya pasrah pada yang di Atas. Kita tidak harus menjadi orang egois, cinta tidak harus memiliki. Ada beberapa kisah yang harus di korbankan."


Bella menggenggam tangan Jhonatan, dengan cepat dia menggenggam tangan Bella dengan erat.


"Kita harua berpisah Jho, Velli dan Vello mari kita merawatnya dengan kehidupan masing-masing. Kau mencintai ku kan?"


Jhonatan mengangguk dengan cepat.


"Kalau begitu, ini permintaan ku. Bahagiakan Gladies, dia sudah berubah. Kau berhasil membuatnya berubah, dia sudah menerima Austin. Kini tugas mu mendekatkan mereka, tugas mu menjadi seorang suami dan seorang ayah. Mari kita jangan egois*.


Jhonatan tersenyum mengingat pertemuannya dengan Bella untuk terakhir kalinya. Dia merapikan dasinya yang berwarna navy itu, memandang wajahnya. Meskipun ada rasa sakit di hatinya, tapi ia percaya. Tuhan akan memberikannya yang terbaik.


Sesuai dengan permintaan Bella, ia kini menjalani kehidupan bersama Gladies, wanita itu pun lembut pada Austin. Putra pertamanya itu kadang menginap di rumah besarnya. Tak jarang mereka mengobrol bersama.


Sedangkan untuk Velli dan Vello, kini kedua anaknya sekarang berada di inggris. Ia begitu senang, kedua anaknya selamat. Ia bersyukur dan sangat berterima kasih pada Daddy nya yang telah menyelamatkan Vello dan membawanya dengan selamat.


Kedua anaknya hidup bahagia dengan Dominic sebagai ayah sambungnya dan Bella. Setelah insiden menyeramkan itu, Bella telah resmi menyandang status sebagai istri sah Dominic.


"Bella, aku harap kau bahagia."


Dia pun menarik sebuah laci kecil, di sana ada foto Bella yang tersimpan rapi untuknya. "Bolehkah aku berharap, walaupun rasanya tidak mungkin."


Tok


Tok


Tok


"Honey, kau sudah bangun?" tanya Gladies dari luar pintu. Sesuai perjanjiannya, dia tidak akan ikut campur dalam kehidupan Jhonatan. Mereka pun berpisah tempat tidur. Jhonatan tidur di tempat pernah yang di tempati Bella. Sedangkan dia tetap di ruang utama.

__ADS_1


"Iya aku sudah bangun, kau sudah membangunkan Austin dan Kinan?" tanya Jhonatan dengan suara meninggi agar mudah di dengar oleh Gladies.


"Iya mereka sedang menunggu mu," ucap Gladies. Sungguh kebahagiaan bagi dirinya bersama Jhonatan walaupun dia tidak bisa memiliki Jhonatan dengan seutuhnya. Kadang ia juga menghubungi Bella sekedar menanyakan kabarnya dan kedua anak tirinya.


Vello dan Velli pun kini sudah menerimanya dan ia begitu sangat bahagia.


"Aku tadi menghubungi Bella, pesta ulang tahun Vello dan Velli akan di adakan di sana. Kita harus mencari kado untuk Vello dan Velli," ucap Gladies.


"Iya, aku sudah memikirkan hadiahnya," ucap Jhonatan. Dia pun mengambil tas kerjanya dan melihat Gladies yang berkacak pinggang.


Jhonatan pun menghela nafas, ia pun melewati Gladies dan membuat wanita itu kesal.


"Kau tidak merahasiakan apa pun kan? aku juga ingin memberikan kado untuk Velli dan Vello."


Gladies tak terima kalau Jhonatan harus memilih sendiri kado untuk kedua putranya.


"Iya, iya, dasar cerewet," ucap Jhonatan. Dia menarik kursi putih itu kemudian duduk dan menyantap roti yang telah di siapkan itu.


"Dad, nanti aku ikut mencari hadiah untuk adik-adik ku,"


"Oke boy, kau tidak akan cerewet seperti Mommy mu kan?" ucap Jhonatan dengan tatapan penuh penyelidik. Kata pepatah 'Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya'


Jhonatan menaikkan kedua bahunya, dia pun meminum susunya, kemudian mengecup singkat Kinan yang di gendong baby sitternya dan beralih pada Kinan.


Gladies tersenyum, dia menatap punggung suaminya yang menjauh.


Kau benar-benar memenuhi permintaan mu pada Bella batin Gladies.


Di belahan bumi yang berbeda.


Kini Bella tengah di sibukkan menyiapkan bekal siang untuk suaminya. Tepat jam 12 siang, ia harus ke kantor suaminya. Semenjak menikah dengan Dominic, dia dan Dominic menetap di Inggris dan Dominic kini telah memulai bisnisnya di Inggris, dia terjun dalam bidang perhotelan dan toserba yang sangat besar.


"Nyonya, biar saya saja yang menyiapkannya," tawar seorang Maid.


"Oh baiklah, aku akan bersiap-siap dulu," ucap Bella. Dia melepaskan celemek di tubuhnya dan berlalu meninggalkannya.


Beberapa saat kemudian, Bella memoles wajahnya, mengolesi lipstik tipis di bibirnya dan menyisir rambutnya yang tak lagi basah.

__ADS_1


Dia menatap pantulan wajahnya. Kini satu tahun dia menjalin rumah tangga dengan Dominic, dia pun tidak ingin terlalu berat memikirkan cintanya. Kini ia bertugas menjadi seorang ibu dan memikirkan membahagiakan suaminya Dominic. Ia bersyukur, Jhonatan menerima semua keputusan. Ia hanya bisa menjalani kehidupannya seperti air yang terus mengalir.


Drt


"Iya," Bella menyelipkan ponselnya antara bahu dan pipi kanannya.


"Sayang kau di mana?" tanya Dominic.


"Aku sekarang mau ke kantor mu setelah itu kita menjemput Vello dan Velli," ucap Bella sambil tersenyum.


"Jangan berpenampilan cantik, aku tidak mau istri ku di lirik-lirik," ucap Dominic. Pasalnya ia merasa kesal pada karyawannya yang sering melihat kehadiran Bella.


Bella melihat jam yang melingkar di lengannya, kemudian mengambil alih ponselnya. "Aku berpenampilan kucel takut suami ku di buru wanita lain karena aku jelek dan membuat malu suami ku."


"Sayang, kau tidak tahu aku kan? aku ikan dom-dom yang menyukai ratu laut. Apa perlu kau membedah jantung ku, lalu muncul gelembung love-love."


Bella tertawa, entahlah, Dominic selalu berhasil membuatnya tertawa. Pria itu selalu menggodanya.


"Sudahlah, aku tutup dulu. Sampai ketemu di kantor," ucap Bella.


Dominic menganga, dia kesal karena Bella mematikan ponselnya. "Rasanya kok sakit ya,"


"Yang tak bikin sakit itu, Wik Wik,"


Dominic menatap tajam, kalau sudah berurusan dengan teman centilnya, sudah pasti mengarah ke pikiran mesum.


"O iya, belom begini?" tanya pria itu sambil mencodongkan perutnya ke depan.


"Kau, secepatnya."


"Halah, jangan pikir kecebong mu kadaluwarsa," ejeknya.


"Keluar!"


"Ada rapat dengan hotel Qi," ucap pria itu.


Dominic berdiri, dia pun melewati Asisten barunya itu. Sedangkan Marvin, ia mempercayakan perusahannya di Jakarta.

__ADS_1


### catatan : Netizen sudah pasti bisa menebak alurnya, jadi ikutin terus ya, siapa tahu alurnya benar sesuai tebakan atau melenceng. plus plus maaf ya, ini hanya sebuah cerita. Suka, silahkan Like dan Komen. Kagak suka, gpp Author gak maksa buat baca. Karena kesenangan orang itu beda-beda kan.


__ADS_2