
"Hah!"
"Hah!"
Kertas putih terjatuh ke lantai, tangannya gemetar, tanpa sadar air matanya telah membelah kedua pipinya. Dadanya terasa panas, seakan menyengat tubuhnya yang mati rasa.
Dia melangkah mundur dan membentur sisi ranjang. Dia duduk di tepi ranjang dengan mata tercengang. Ia meremas dadanya yang terasa di tusuk oleh pedang tajam, lalu mencongkel jantungnya.
"Tidak, ini tidak ... "
Keduanya bahu bergetar, tubuhnya merosot dan duduk di bawah, punggungnya bersandar ke tepi ranjang. Sebelah kakinya di tekuk, sedangkan kaki lainnya berselonjor.
"Tuhan .. "
Dia menjambak rambutnya dengan kasar dan menangis tergugu.
Kau akan menjadi seorang ayah.
Tulisan tinta hitam itu terus menyetrum otaknya, dia merangkak dan mengambil kertas putih itu lagi.
"Bella, kenapa kau tidak mengatakannya?"
Dia mengusap air mata di pipinya dengan sebelah lengannya, dia tidak peduli kotor atau basah. Hari ini, hari bagaikan mimpi untuknya, namun sangat nyata.
__ADS_1
"Argh!"
Jhonatan memukul dadanya yang terasa sesak dan sakit, dia meremas kebaya putih itu dan menatapnya dengan tangan gemetar.
"Kenapa Bell? kenapa kau tidak mengatakannya? kenapa harus ... "
Dia menghapus air matanya, dia mengambil kebaya pengantin itu, cincin, parfum dan kertas putih itu. Dia mencari sebuah kotak, jangan sampai Gladies tahu dan membuangnya atau membakarnya. Hanya ini milik yang di tinggal Bella.
Tak
Jhonatan melihat sebuah benda kecil dan panjang, terselip di bawah kebaya itu. Dia mengambil, dua garis merah tertera di benda panjang dan kecil itu. Berarti bukti, kalau Bella memang hamil anaknya.
"Aku harus mencarinya."
Jhonatan mencari sebuah kotak koper dan beruntung ada koper di atas lemari, ia mengambilnya, lalu membukanya dan menaruh barang-barang milik Bella.
Melihat sang bos yang terburu-buru, perasaan Jack tidak enak. Dia menyusul mobil itu dan mengikutinya dari belakang.
Jhonatan pun telah sampai di sebuah gedung Apartement yang mewah, Apartementnya masa lajangnya yang sampai saat ini tidak pernah di tempatinya atau pun Gladies, setiap hari akan ada seorang Art yang membersihkan Apartementnya itu.
Dia langsung menyeret kopernya menuju lantai atas. Ia pun menaikkan kopernya ke atas kasur, lalu membukanya kembali, ia mengambil tes pack itu dan menatap dua garis merah.
Ia menangis kembali, menumpahkan semua kesakitan di dadanya. Ia telah kehilangan anaknya, anak yang selalu ia harapkan. Dia telah hadir, namun sebagai seorang ayah, ia tidak menyadarinya.
__ADS_1
Krek
"Tuan?"
Jack menghampiri Jhonatan yang duduk di tepi ranjang, menunduk sambil memegang sesuatu. "Tuan, apa terjadi sesuatu?"
Jhonatan mendongak dan Jack terkejut melihat mata yang tegas dan meyeramkan itu kini memerah dan mengeluarkan air mata.
Jhonatan memberikan benda di tangannya, tentu saja ia mengerti, itu sebuah alat tes kehamilan dan menunjukkan positif.
"Nyonya Gladies hamil, ini hal baik tuan." Jack belum menyadari kalau Bella hamil.
"Bukan, itu milik Bella."
Senyuman Jack langsung sirna seketika, dia melihat ke arah atas kasur, sebuah kebaya pengantin, parfum dan di atas kebaya itu sebuah kertas.
Dia pun membaca kertas itu dan menatap sang bos, lalu menundukkan kepalanya.
"Maaf tuan, saya teledor, saya tidak tau kalau nyonya Bella hamil,"
Jack merasa bersalah dan akan menanyakannya pada Ani. Sedangkan Jhonatan mengepalkan tangannya, dia langsung membogem pipi Jack, hingga pria itu jatuh ke lantai.
"Ini semua salah mu, Jack. Kenapa kau tidak bisa menjaganya? kau tidak mengawasinya dengan ketat, aku tidak mau kau harus mencarinya!" teriak Jhonatan murka, pertama kalinya dia meneriaki Jack, seumur hidupnya ia tidak pernah berteriak pada Asistennya itu.
__ADS_1
Jack bangkit, dia mengusap sudut bibirnya yang terasa sakit dengan jari jempol tangan kanannya. "Maaf tuan, saya akan berusaha mencari nyonya Bella."
"Kau!" geram Jhonatan.