
"Kau tidak bisa melakukannya? apa kau tidak kasihan pada Jhonatan, selama bertahun-tahun aku hidup bersama Jhonatan, pria itu sudah berubah. Dia tidak memandang dengan cinta, tidak ada ekspresi di wajahnya. Seakan aku adalah hantu yang hanya berkeliaran di matanya. Aku mohon jangan lakukan ini, aku datang kesini hanya memohon pada mu," lirih Gladies.
Dominic langsung berdiri, ia tidak terima Gladies mencegah Bella. Ia tidak suka Bella berada di dekapan Jhonatan yang sudah membuatnya menderita. "Apa yang kau lakukan? hah! apa kau suka lelaki bajingan mu itu menyakiti Bella?" bentak Dominic. Wanita di depannya begitu egois, ingin nyaman sendiri tapi tidak memikirkan perasaan orang lain.
"Aku mohon, jangan lakukan ini Dominic, Velli dan Vello menginginkan keluarga yang utuh, setidaknya biarkan mereka bersatu menebus semua rasa bersalah mereka."
"Yang salah di sini suami mu Gladies! dia yang membuat Bella terluka, bukan Bella dan juga dirimu,"
Gladies bungkam ketika Dominic menyalahkannya, kalau waktu bisa di putar kembali. Ia tidak ingin kejadian kecelakaan itu menimpanya, yang harus melibatkan gadis lain demi dirinya dan Jhonatan terjerat padanya. Ia tidak pernah menginginkan yang menyakitkan.
"Pergilah, jangan mengganggu Bella," ucap Dominic. Awalnya ia kasihan melihat wajah pucatnya, tapi setelah berniat mencegah Bella, ia tidak merasa kasihan lagi. "Aku bilang pergi,"
"Aku mohon Bella," lirih Gladies.
Bella menggeleng, ia tidak bisa melakukannya. Kalau ia bertahan, hanya ada luka dan menyakiti perasaan orang lain.
"Ada apa ini?" tanya tuan Alexander.
Semua orang pun menoleh dan Gladies menunduk, sedangkan Bella membuang wajahnya, sementara Dominic malah menahan emosinya. Dadanya naik turun menahan amarah.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Jhonatan. Dia pun menghampiri Gladies, menatap sengit wanita di depannya, lalu beralih pada Bella.
"Bella kamu tidak apa-apa kan? apa dia mengatakan sesuatu atau melakukan sesuatu?"
Bella tidak menjawab dan membuat Jhonatan mengepalkan tangannya. Ia hendak menarik lengan Gladies, namun suara tegas itu menghentikannya.
"Perlakukan dia dengan baik Jhonatan,"
Jhonatan melepaskan tangannya. "Tapi dia menyakiti mu."
"Dia tidak menyakiti ku, justru dia memohon agar aku mau kembali pada mu, tapi maaf," Bella menoleh, menatap tajam kedua manik Jhonatan. "Aku tidak menerima mu lagi, dan aku akan menikah dengan Dominic setelah si kembar di temukan."
"Benar, kami akan menikah!" tegas Dominic.
"Daddy, bagaimana keadaan mereka?" tanya Bella mengalihkan pembicaraan. Ia lelah menjelaskan pada Jhonatan dan Gladies.
"Orangnya sudah menghubungi ku, dia meminta kami untuk terbang ke Amerika."
"Maaf, dia musuh Daddy, tapi Daddy berjanji akan membawa si kembar dengan baik."
__ADS_1
"Aku akan iku Dad,"
"Tidak, ini sangat berbahaya. Aku, Jhonatan dan Dominic akan kesana, kau tunggu di sini saja," ucap tuan Alexander. Dia akan mempertaruhkan nyawanya untuk kedua cucu.
"Benar Bella, kamu tunggu di sini. Aku akan membawa si kembar dengan selamat," timpal Dominic. Dia pun mengelus pipi Bella dan tersenyum hangat.
Jhonatan tersenyum miris, dia berbalik dan melangkah gontai. Ia tidak ingin terlalu lama berada di ruangan pengap itu, meskipun ada udara yang masuk tapi dadanya begitu sesak.
Jhonatan mencengkram sisi sandaran kursi putih itu, dia mencengkram erat dan tanpa sengaja membanting kursi itu.
"Argh!"
Gladies menghentikan langkahnya, niat hati ingin menenangkan Jhonatan, tapi ia takut mendekatinya. Ia takut Jhonatan akan bertambah marah padanya.
"Kenapa? apa ini hukuman? kenapa sangat sakit? kenapa Engkau tidak mencabut saja nyawa ku?!" teriak Jhonatan sambil memukul dadanya.
###
Maaf Ya, Aku Nulis Dikit-Dikit, Author Nulis bukan karena banyak kata, tapi nunggu waktu senggang entah berapa kata ya baru update.
__ADS_1