
Jhonatan berjalan lunglai memasuki Apartementnya, dia menyandarkan tubuhnya ke sofa dan menatap kosong. Batinnya semakin tersiksa sebelum ia menemukan keadaan Bella. Untung saja Gladies tidak menanyai perihal keadaannya yang akhir-akhir ini mual.
Baru saja ia merasakan duduk sebentar dan lelahnya ingin beristirahat, perutnya terasa di giling. Dia pun beranjak menuju kamar mandi dan memuntahkan semua isi perutnya, bahkan ia tidak tahu harus memuntahkan apa lagi.
Dia membersihkan kedua tangannya, kemudian membasuh wajahnya. Ia menatap pantulan wajahnya, ia menoleh merasakan kehadiran seseorang.
Jho, biarkan aku yang mengelap wajah mu. Emm, calon suami ku.
Wanita itu tersenyum sambil mengelap wajahnya Jhonatan. Sebelah tangan Jhonatan, ia gerakkan mengelus pipi Bella.
Tok
Tok
Tok
Lamunan Jhonatan buyar, tangannya langsung ia turunkan. "Gla ... "
"Kau muntah lagi?" tanya Gladies. "Sebaiknya kau periksa, dokter juga mengatakan aku tidak hamil," ucap Gladies dengan wajah lesu.
"Maafkan aku, Gla. Aku tidak bermaksud mengecewakan mu, mungkin gejala yang aku alami masuk angin biasa. Ya, karena kelelahan." Jelas Jhonatan, antara percaya dan tidak percaya, yang jelas ia ingin menemukan Bella secepat mungkin.
"Ya, sudah kamu istirahatlah."
__ADS_1
Gladies mengelus pundak Jhonatan sambil menemani sang suami menuju lantai atas.
Di baringkan tubuh Jhonatan dan Gladies membuat sandaran dengan bantal di punggung sang suami, setelah itu, dia menarik selimutnya sampai ke perutnya.
"Aku mau membuat mu bubur dulu."
Jhonatan mengangguk, lalu dari arah pintu muncul Jack dan Gladies melewati Jack begitu saja.
"Bagaimana keadaan tuan?"
"Aku curiga, kalau Bella hamil."
Deg
Jhonatan mengangguk, meskipun belum ia menyelidikinya, tapi ia yakin kalau Bella tengah hamil.
"Tapi kenapa nyonya Bella tidak mengatakannya?" tanya Jack. Ia begitu heran dengan sang nyonya yang tidak mengatakan kebenarannya, mungkin dengan anak itu akan mendekatkan hubungan mereka.
"Aku tidak tahu, meskipun aku belum menemukannya, tapi aku yakin. Penjelasan dokter tadi mengatakan kalau aku sedang mengidam, tapi aku langsung menyanggah mungkin karena mabuk dan kelelahan bekerja. Untungnya Gladies tidak menanyakannya."
"Aku akan berusaha mencari nyonya Bella," ucap Jack.
"Setelah pulang dari sini aku ingin menemui Daddy,"
__ADS_1
"Aku ikut," ucap seorang wanita dari ambang pintu, dia melangkah dan menghampiri kedua laki-laki itu.
Jack langsung berpaling, sedangkan Jhonatan meneguk ludahnya susah payah.
"Gla, semenjak kapan kau di sana dan kau mendengarkan apa saja?" tanya Jhonatan.
"Baru tadi, aku mendengarkan kau ingin menemui Daddy," ucap Gladies yang terlihat bingung, apa salahnya kalau memang ia mendengarkan perbincangan suaminya.
"Aku ikut kalau kau ingin menemui Daddy," ucap Gladies mengulang perkataannya. Dia ingin mendekat ke ayah mertuanya dan menjalin hubungan yang baik.
"Emm, baik-baiklah."
"Tapi tunggu keadaan mu membaik."
"Saya pamit tuan," ucap Jack menyela pembicaraan keduanya.
Gladies duduk di tepi ranjang, dia kemudian menyendok bubur di tangannya, lalu menyodorkan ke mulut Jhonatan.
Kedua hidung Jhonatan naik turun, bau bubur itu ia tidak suka. Ia langsung menyibak selimutnya dan berlari ke kamar mandi. Gladies menaruh semangkok bubur itu, lalu menyusul suaminya.
Dia menepuk punggung Jhonatan dengan perasaan khawatir. "Honey, kau tidak apa-apa? sebaiknya kita periksa ke Dokter, kau terus muntah."
"Aku tidak apa-apa, aku hanya masuk angin biasa."
__ADS_1
Jhonatan memejamkan kedua matanya, ia semakin kesal dengan keadaan saat ini. Untungnya Gladiesnya tidak menanyakan lebih jauh. Bisa-bisa semuanya terbongkar.