Gundik Sang Mafia

Gundik Sang Mafia
#Untuk Pertama Kalinya


__ADS_3

Bella telah sampai di gedung bertingkat berlantai 30 itu, dia pun menatap gedung pencakar langit itu dan tersenyum. Berjalan di ikuti dua bodyguard, menggunakan dres warna merah polos dan menggunakan kaca mata. Rambutnya hitam lebat di biarkan tergerai.


Para karyawan yang melihat kehadiran istri sang Presdir pun memberikan hormat dan membungkuk. Siapa yang tidak tahu dengan Bella, Dominic telah memperkenalkannya sebagai istrinya.


Bella membuka ruangan Dominic, namun hanya kursi dan meja kerjanya saja yang ada.


"Nyonya, tuan sedang rapat,"


Bella mengangguk, dia menaruh kotak bekal di atas meja kaca itu, lalu menuju ke arah meja suaminya.


Dia pun duduk dan sambil menggoyangkan kursinya, kemudian menyandarkan tubuhnya. Kedua tangannya jarinya saling mengaitkan dengan jari lainnya dan menatap fotonya yang tersenyum menggunakan kaos oblong di bawah sinar matahari, di dekat pantai waktu Dominic dan dirinya berbulan madu.


Dia mengambil foto itu lalu beralih pada foto pernikahannya dan satunya lagi foto mereka berempat.


"Hah,"


Bea menghembuskan nafasnya, dia pun memejamkan kedua matanya.


krek


Dominic melangkah dengan cepat namun pelan. Dia tersenyum melihat istri tercinta yang memejamkan matanya.


Wajahnya semakin mendekat, dan perlahan Bella membuka wajahnya, hidung keduanya pun bersentuhan. Aroma wangi dari tubuh Bella dan nafasnya membuatnya nyaman dan merasa tenang. Inilah kenyamanannya, bersama dengan istrinya.


"Sayang, kau sedang memandangi ku?"


"Ya, kau selalu bersinar," ucap Bella. Dia pun menggunakan jari telunjuknya mendorong dahi Dominic.


"Sitt!" Dominic berdecit, dia langsung memegang tangan Bella dan menyondongkan wajahnya mencium bibir Bella.


"Aku merindukan mu, setiap hembusan nafas ku."


"Gombal," ucap Bella menaikkan sebelah alisnya. Dia pun beranjak menuju meja dan sofa itu.


Dominic mendorong bekal yang telah di buka penutupnya itu, lalu mengangkat tangan Bella dan ia pun berselonjar, menjatuhkan kepalanya di pangkuan Bella.


"Kau lelah?" tanya Bella dengan wajah serius.


"Aku sangat lelah," ucap Dominic.

__ADS_1


Bella memijat dahi Dominic dan pria itu memejamkan kedua matanya. "Apa terjadi sesuatu? hem, kau seharusnya mengambil cuti, jangan terlalu lelah bekerja."


Dominic mengusap pipi Bella, ia bersyukur memiliki istri yang sangat perhatian padanya. Tapi selama menjalani pernikahan, Bella tidak bersikap aneh, justru wanita itu mengeluarkan semua rasa cintanya.


"Aku tidak lelah, aku ikan dom-dom tidak pernah lelah mencintai ratu laut."


Bella tersenyum, dia membungkuk dan mengecup kening Dominic lalu ke turun ke bibirnya. Dominic mengalungkan kedua lengannya dan terus memperdalam ciumannya.


"I Love You, I Love You More Bella."


"Aku juga mencintai mu," ucap Bella tersenyum tulus.


Bella menyudahi acara cium-ciuman itu, dia mengusap kepala Dominic dan mengingat satu hal. Dia pun tersenyum menatap pria yang kini memejamkan kedua matanya.


"Makanlah dulu, kau tidak ingin makan siang?"


"Suapi?"


"Iya sayang,"


Dominic pun duduk dengan tegap lalu melepaskan sepatunya, di berbelok menghadap Bella dan bersila.


Bella mengambil sayur brokoli itu dengan sumpit dan menyuapi Dominic. "Enak?"


"Kenapa kau selalu mengucapkan terima kasih? sudah aku bilang, aku bosan kau mengucapkannya terus."


"Tapi aku tidak pernah bosan, aku senang sangat senang," ucap Dominic. Dia tidak pernah bosan memandangi wajah ayu istrinya, wanita yang lembut dan penuh kasih sayang.


Dominic mengusap perut Bella yang masih rata, ia tiba-tiba teringat kalau dirinya dan Bella memiliki keluarga kecil, sebuah harapan yang selalu ia nantikan. Bella pun menggenggam tangan Dominic yang berada di atas perutnya.


"Kau menginginkannya? aku juga menginginkannya."


"Ya, aku ingin memiliki anak dengan mu," ucap Dominic.


***


Bella melambaikan tangannya saat si kembar terlihat di depan pintu sekolahnya. Si kembar pun berlari, begitu pun dengan Bella yang berjongkok dan menyambut kedua buah hatinya.


"Mommy,"

__ADS_1


Cup


Si kembar memberikan ciuman secara bersamaan di kedua pipi Bella dan Dominic pun berjongkok, kini mereka beralih mencium kedua pipi ayah angkatnya.


"Anak Daddy," Dominic mengusap lembut kepala si Kembar. "Bagaimana dengan sekolahnya? apa kalian mengalami kesulitan, katakan saja pada Daddy, Daddy akan memberantas kesulitan kalian," ucap Dominic sambil menepuk dadanya.


"Tidak Dad, aku senang. Teman-teman ku baik, tapi semua teman perempuan ku malah mendekati kak Vello."


"Itu karena pesona kakak mu menawan sayang," ucap Dominic yang semakin gemas dengan putrinya. Dia menggenggam tangan Velli dan Vello.


"Sayang, Daddy mengajak mu ke Mall," ucap Dominic yang membuat Velli tertawa senang dan membuat Bella tersenyum dengan pemandangan di depannya. Dia pun mengusap kedua pipinya yang berair.


"Semoga kebahagian ini tidak akan pernah berakhir."


Sesampai di Mall terbesar dan ternama, Dominic benar-benar memanjakan Vello dan Velli. Si kembar bebas memilih baju apa saja yang di sukai mereka. Bella menoleh pada dua bodyguardnya yang tangannya berisi banyak paper bag. Bella meringis, ia merasa suaminya ingin mengosongkan Mall.


"Sayang, kita sudah pulang saja."


"No Mommy, kita harus berbelanja untuk Mommy dan Daddy, kita harus beli baju kembar."


Dominic setuju dengan perkataan putrinya, ketiganya pun melanjutkan langkah mereka. Hingga akhirnya mereka menemukan sebuah kaos berwarna merah dengan nama Daddy, Mommy, Kakak dan Adik dengan hiasan kelinci lucu.


"Dad, kita juga harus beli untuk Daddy Jho dan Mommy Gla," ucap Velli.


"Iya sayang, kita akan membelinya," ucap Dominic. Ia bersyukur, rasa sayang putrinya tidak pernah berat sebelah. Keduanya tidak pernah membedakannya dengan Jhonatan.


Drt


Dominic menggeser tombolnya, lalu munculah wajah Jhonatan. "Kau di mana?" tanya Jhonatan. Walaupun ia kadang merasa cemburu dengan Jhonatan yang menghubunginya, karena ia takut Jhonatan akan bertemu dengan Bella, tapi tingkat kepercayaannya pada istrinya tak pernah pudar. Bella telah bersamanya.


"Aku sekarang berada di Mall, ya biasa," ucap Dominic.


"Hey Daddy," sapa Velli dan Dominic menggeser ponselnya menuju arah Vello yang tersenyum.


Jhonatan tersenyum, jantungnya berdegup kencang melihat siapa yang berdiri di belakang Vello, dia adalah mantan istrinya. Sudah lama ia tidak bertemu dengan mantan istrinya itu, selam ini dia membatasi dirinya. Setiap ia menghubungi Vello dan Velli, ia tidak pernah melihat Bella dan kali ini, untuk pertamanya setelah perpisahannya dia melihat wajah mantan istrinya.


"Hem, kau ingin berbicara dengan mereka?" tanya Dominic. Siapa yang suka melihat istrinya di pandang oleh mantan suaminya, semua suami pasti akan cemburu.


"Ck, tentu aku menghubungi mereka karena ingin berbicara, tapi sepertinya kalian sibuk. Aku akan menghubungi nanti," ucap Jhonatan tersenyum lalu mematikan ponselnya.

__ADS_1


Jhonatan meremas ponselnya, dia pun menaruh ponsel itu di atas nakas. Seperti kebiasaannya setiap malam yang tidak pernah absen menghubungi kedua anaknya.


"Aku senang kau baik-baik saja," Jhonatan tersenyum dan bernafas lega. Dia pun menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur, sebelah tangannya berada di atas dahinya dan pikirannya menerawang jauh.


__ADS_2