Gundik Sang Mafia

Gundik Sang Mafia
#37 : Sesuatu Yang Terungkap dan Rencana


__ADS_3

"Hallo tuan," sapa seorang laki-laki, dia memakai kaca mata hitam dan jas berwarna gelap. Kedua matanya mengamati kediaman Jhonatan dan melihat Ningsih serta kedua pelayan yang di seret keluar.


"Ada sesuatu yang ingin saya sampaikan, Nyonya .... "


Tok


Tok


Tok


Ketukan pintu di jendela kaca mobilnya, membuat laki-laki itu menoleh. Dia melihat seorang laki-laki yang sama dengannya. Ia pun menurunkan kaca jendelanya.


"Keluar!"


Laki-laki itu pun keluar, kedua orang yang sama persis dengan pakaiannya menyeretnya masuk. Ia pun tidak bisa apa-apa ketika sebuah pistol di sodorkan ke kepalnya. Sedangkan satu laki-laki mengambil ponsel miliknya dan melihat nama 'Tuan Jack', dia pun mematikan ponselnya.


Sedangkan Ningsih, dia di awasi oleh seseorang, saat hendak menghubungi seseorang. Tiba-tiba seorang laki-laki turun dari mobil hitam, lalu memukul tengkuknya dan menyebabkan Ningsih pingsan, ponselnya jatuh ke tanah. Laki-laki itu menyeret Ningsih ke dalam mobilnya dan mengambil ponselnya yang tergeletak di lantai.


Dikediaman Jhonatan.


Tuan Alexander di suguhkan oleh kedua pengawal kepercayaannya. Mereka membawa seorang pria dan pria itu pun jatuh tersungkur ke lantai, dia membenarkan posisinya dan menunduk.


"Tu-tuan,"


"Ini tuan." Seorang pria mengambil ponsel di saku jasnya. Dia memberikan ponsel itu ke tuan Alexander dan tuan Alexander pun mengotak atik ponselnya. "Dia menghubungi tuan Jack, tuan."


"Apa kau mata-mata yang di kirim Jhonatan?"


"Tidak tuan," pria itu menggeleng dengan cepat. Dalam hatinya, ia meminta maaf pada tuan Jack karena tidak bisa menjalankan tugasnya dengan baik.


"Selama ini aku diam, bukannya aku bodoh, tapi aku pura-pura bodoh."

__ADS_1


"Beribu maaf tuan, saya hanya menjalankan tugas, maafkan saya tuan."


"Jelaskan!"


Satu kata yang membuat gunung seakan meletus. Pria itu seakan tenggelam di dalam lahar panasnya.


"Begini, tuan Jack memerintahkan saya dan saya harus merahasiakannya pada tuan Jhonatan," ucapnya menjelaskan.


Tuan Alexander mengangguk, kini ia mengerti, Jack asisten pribadi anaknya ingin melindungi Bella diam-diam.


"Katakan pada Jack, Bella baik-baik saja dan jangan mengatakan apa pun,"


Tuan Alexander pun memberikan ponsel miliknya dan saat ponsel itu di pegang olehnya, ada sebuah panggilan masuk dan tertera nama sang tuan.


Dengan ragu-ragu dia mengangkat panggilan itu. "Hallo tuan," ucapnya dengan gugup. Dia menatap tuan Alexander dengan takut.


"Ada apa? apa terjadi sesuatu? bagaimana keadaan nyonya? apa nyonya baik-baik saja?"


"Nyonya baik-baik saja tuan, maaf tadi saya bersembunyi dari pengawal Jhonatan."


"Baiklah, aku tutup dulu dan jaga nyonya baik-baik."


Tuan Alexander menoleh di saat melihat seseorang yang sedang membawakan jus untuknya. "Tuan saya bawakan jus," ucapnya tersenyum.


"Bella, kau harus istirahat. Jangan sampai terjadi sesuatu pada mu."


"Saya baik-baik saja tuan, ini?" Bella menatap bingung melihat pria yang sedang duduk di lantai itu.


"Keluarlah,"


Pria itu pun berdiri dan membungkuk hormat, dia bergegas pergi meninggalkan tuan Alexander dan Bella serta Theo dan satu pengawal.

__ADS_1


"Bella, nanti malam kita makan di luar dan kau temani aku," ucap tuan Alexander mengalihkan kebingungan Bella. Dia tidak mungkin menjelaskan semuanya, ia takut keadaan yang berjalan lancar jadi kacau.


"Baiklah tuan,"


Tuan Alexander meminum jus yang di buatkan Bella. Dia tersenyum hangat pada mantu satu-satunya itu. Benar, ia belum mengakui Gladies, jika pun ia mengakuinya, ia harus menyembunyikan Bella dengan rapat.


###


Sedangkan Jhonatan, dia uring-uringan, sudah beberapa hari dia mengingat senyuman Bella. Ingin meninggalkan Gladies, ia takut terjadi sesuatu. Apa lagi pelakunya belum tertangkap, ia begitu penasaran siapa yang menerornya.


"Jack, apa kau sudah menemukan pelakunya?" tanya Jhonatan. Pria itu tampak lesu, hatinya bergejolak merindukan Bella.


"Apa aku hubungi saja dia ya?" gumam Jhonatan, tapi rasa ego yang melebihi kerinduannya, ia pun urungkan.


Jack, pria itu terdiam dan menenangkan hatinya. "Nyonya Bella baik-baik saja dan masalah teror ini, maaf saya belum berhasil menemukannya."


"Huh!" dengus Jhonatan. Dia bahkan ingin memenggal orang itu karena telah mengacaukan rencananya.


"Honey," sapa Gladies. Dia datang dan duduk di samping Jhonatan. Bergelut manja di lengannya. "Aku takut,"


"Jangan takut, ada aku," ucap Jhonatan. Dia mengecup Gladies dengan penuh cinta.


###


"Hallo tuan," sapa seseorang di seberang sana. "Saya ingin memberikan kabar, bahwa tuan Alexander akan membawa nyonya Bella keluar untuk makan malam."


Dominic tersenyum, malam ini ia akan bertemu dengan Bella sekaligus ayah dari musuhnya.


"Bagaimana kalau aku mengganggu Bella? apa dia akan merasa terancam? sepertinya semakin menarik? kalau aku meminta dari ayah mertua untuk musuhnya?"


Dominic, pria itu tersenyum licik. Ia akan merebut apa pun yang di miliki oleh Jhonatan. Sekalipun, istri rahasianya. "Semua milik mu harus menjadi milik ku Jhonatan."

__ADS_1


"Baiklah, aku akan mentransfer uangnya pada mu."


Dominic menutup panggilannya dan tersenyum, nanti malam ia harus bersiap-siap semenawan mungkin. Penampilannya tidak boleh kalah dari Jhonatan.


__ADS_2