
Bella melangkah dengan cepat, di sampingnya Ana dan di depannya ketua pelayan.
Jantung Bella terus berdebar, ia tidak tau harus berekasi seperti apa dengan papa mertuanya. Apakah ia harus bilang dia menantunya? atau malah sebaliknya, bungkam dengan perasaan sakit. Ia sempat bertanya siapa Tuan Besar? ternyata adalah ayah dari Jhonatan.
Ia ingin sekali di akui, tapi semuanya tidak mungkin, derajat mereka tidak sama. Jhonatan yang terlahir di keluarga terpandang, sedangkan ia hanya wanita miskin. Ya, bagaikan langit dan bumi.
Ketua pelayan pun menoleh, perasaannya pun tak bisa ia artikan. Entahlah, ia tidak bisa menebak pada akhirnya. Ia berharap, semoga Bella beruntung.
Tap
Ana menunduk, dia mengikuti barisan dan kini giliran Bella yang mengikuti barisan, tepat di samping Ana. Dia pun melihat sudah ada beberapa pelayan yang menunggu, tinggal dirinya, Ana dan Ketua pelayan yang hampir terlambat.
Bella melirik dengan kepala menunduk, terlihat mobil berwarna putih berhenti tepat di depan Ketua pelayan. Kemudian terlihat sepatu berwarna hitam legam dan berkilau.
"Tuan," sapa Ketua pelayan, dia memberikan hormat dan kemudian mengangkat wajahnya. Sementara yang lain masih menunduk, tidak berani mengangkat wajah.
__ADS_1
Pria bertubuh kekar, menggunakan kaca mata dan sebuah syal berwarna merah yang melingkar di tubuhnya dan serta jas hitam.
Meskipun tak lagi muda, namun aura ketegasan dan ketampanannya mengiringi setiap langkahnya. Para wanita pun sudah pasti akan terpukau.
Sedangkan Bella, dia mengepalkan tangannya dengan kuat, hingga kukunya menancap. Kebohongan kedua, demi menarik simpatinya Jhonatan mengatakan kedua orang tuanya telah meninggal. Dan kini, ayahnya, orang tuanya tengah berjalan di depannya.
Tap
Pria itu menoleh, wanita di sampingnya seakan menarik perhatiannya. Dia membuka kaca matanya dan memperhatikan dari ujung kaki sampai ke atas. Meskipun, ia tak melihat wajahnya, tapi hidung mancung dan dagunya mencerminkan wanita di depannya sudah pasti cantik.
Kulit putih bersinar, bahkan sinar matahari pun tampak berkilau mengenai kulitnya.
Ketua pelayan menghembuskan nafasnya dengan lega, yang sudah ia tahan sejak tadi. Hampir saja jantungnya copot kalau Bella mengatakan sesuatu.
"Kalian tetap di sini." Ketua pelayan angkat bicara, ia harus memastikan sesuatu. Dia melihat sekelilingnya tidak ada siapa pun. "Tidak ada yang boleh bicara apa pun, sedikit pun pada Tuan besar, kalau tidak, nyawa kalian yang akan melayang."
__ADS_1
"Kalian boleh pubar dan untuk nyonya Bella, saya ingin berbicara."
Ketua pelayan mendekat ke arah Bella yang masih menunduk, ingin sekali ia melampiaskan panas hatinya pada sesuatu.
"Ada apa?" tanya Bella dengan tegas, ia mengangkat wajahnya dengan mata memerah. "Ingin menasehati ku agar tidak berbicara pada Tuan besar, tenang saja. Aku akan menutup rahasia itu rapat-rapat dan jangan khawatir, aku tidak merebut posisi Gladies," ucap Bella dengan tegas, dia berbalik meninggalkan Ketua pelayan yang masih shok.
Wanita itu sempat takut melihat tatapan Bella, jika nyonya Gladiesnya marah, wanita itu hanya berteriak dan melemparkan barang, tapi tidak dengan Bella, wanita itu justru ingin menguliti musuhnya.
"Dia lebih pantas di sebut nyonya Jhonatan," gumam ketua pelayan.
Dia pun buru-buru menyambut sang tuan.
"Tuan," sapanya. Pria itu duduk di ruang tamu dengan santai. Rumah tampak sepi, meskipun ada pelayan, ia merasa rumah yang di tempati putranya tampak sepi.
"Tuan ingin minum apa?" tanya ketua pelayan berusaha tenang, padahal jantungnya hampir copot melihat tatapan menyeramkan dari Bella.
__ADS_1
"Aku ingin minum kopi," ucapnya.
Pria itu terlihat fokus, dahinya berkerut seakan berpikir keras. Wanita kecil itu seakan menyita pikirannya.