Gundik Sang Mafia

Gundik Sang Mafia
#42 : Kedatangan Jhonatan


__ADS_3

Jhonatan telah sampai di kediamannya tepat di malam hari. Dia berlari masuk ke dalam dan melihat sekelilingnya. Dia pun ke lantai atas dan mencari Bella di kamarnya, tidak ada. Sepertinya dia telah lupa kalau Bella telah di pindahkan ke kamar belakang, kamar pembantu.


Dia mengalihkan pandangannya ke kamar satunya, tidak ada siapa pun, kamar itu rapi. Dia pun berlari ke ruang kerjanya, kosong, tidak ada siapa pun.


"Kemana Daddy?"


"Bella, dia kemana?"


Jhonatan kembali turun dari lantai atas. Dia ingin mencari Bella ke kamar dan sampai di ujung anak tangga, dia bertemu dengan bibi Su.


"Tuan," sapa bibi Su. Wanita itu mengusap sebelah keningnya yang berkeringat. Perasaannya mengatakan sesuatu yang akan terjadi.


"Dimana Daddy?"


"Tuan besar sudah pulang tuan,"


Jhonatan bernafas lega, "Apa Daddy mengatakan sesuatu?"


"Ti-tidak tuan," ucap bibi Su dengan gugup. Dia mulai keluar keringat dingin. Jantungnya berdebar-debar dengan sangat kencang.


Jhonatan melangkah ke arah sofa, ia duduk dan menyandarkan lehernya ke kepala sofa. Menatap langit-langit bercat putih itu.


"Bibi Su, bilang pada Bella aku ingin camilan," titahnya tanpa menatap ke arah bibi Su.

__ADS_1


Wanita itu terlihat bingung, entah dia harus memulainya dari mana menjelaskannya.


Jhonatan melirik dan melihat bibi Su yang tak bergeming, tidak ada jawaban malah menunduk dan mengabaikannya.


"Bibi Su, panggil Bella, suruh dia menyiapkan camilan." Tegas Jhonatan.


"Anu tuan, saya menyiapkan air hangat dulu. Tuan pasti lelah dan saya akan menyiapkan makan malam." Bibi Su mengalihkan pembicaraannya.


Jhonatan beranjak dan mengelus dagunya. Benar saja, ia memang lapar, tapi ia ingin camilan yang pedas. Entah mengapa, makanan seblak yang pedas yang bersama Bella saat itu, ah dia menginginkannya.


"Baiklah." Ia menyerah dan nanti akan meminta Bella untuk membelikan Seblak yang sangat pedas.


Bibi Su langsung jatuh lunglai ke lantai, berhadapan dengan Jhonatan sama saja berhadapan dengan harimau, ia merasa lega, Jhonatan tidak menanyakannya panjang lebar. Dia pun meraih ujung sofa sebagai tumpuannya.


"Kenapa aku mesti takut, tuan Jhonatan tidak akan marah. Tuan tidak akan peduli,"


Akhirnya ia sadar, sang tuan tidak akan peduli dengan kepergiannya dan kini ia bisa bernafas lega.


Bibi Su memanggil Ana dan Ani serta yang lainnya untuk menyiapkan makan malam. Ana dan Ani pun tak kalah terkejut, tapi bagi Ani ini pasti akan terjadi. Ia pun juga was-was, takut terkena semburan dari Jack. Kini meja itu tersaji beberapa makanan dan tinggal menunggu sang tuan.


Tak berselang lama, Jhonatan datang dengan menggunakan kaos oblong dan celana santai. Dia pun menatap hidangan itu, namun hidungnya naik turun merasakan bau tak sedap.


Dia mengapit hidungnya dengan tangannya dan mengibas-ngibas makanan di depannya.

__ADS_1


"Apa yang kalian masak? bau sekali, kalian berniat meracuni ku ya."


Bibi Su terkejut, makanan yang enak itu di bilang bau busuk, padahal ia dan yang lainnya telah menyiapkan sesuai kesukaan sang tuan.


"Tuan saya menyiapkan sesuai dengan selera tuan."


Hoek


Hoek


Jhonatan membungkam mulutnya, ia segera berlari ke lantai atas dan mengeluarkan semua isi di dalam perutnya.


"Sial! tidak biasanya aku mabuk."


"Tuan saya akan panggilkan Dokter Frank," ucap bibi Su yang tampak khawatir.


Hoek


Hoek


Jhonatan kembali membuang seluruh isi perutnya, kedua matanya seolah akan keluar saat memuntahkan isi perutnya. Tubuhnya mendadak langsung tak bertenaga.


"Panggil Frank," lirih Jhonatan.

__ADS_1


__ADS_2