Gundik Sang Mafia

Gundik Sang Mafia
#Penebusan


__ADS_3

"Hah!"


Jhonatan terlonjak kaget, dia langsung menoleh dan berangsur bernafas lega.


"Daddy,"


"Kau di sini? apa terjadi sesuatu?"


"Aku akan menceritakan semuanya pada Daddy," ucap Jhonatan. Dia pun bangkit dan berlalu, sejenak tuan Alexander menatap Bella yang tidur sangat pulas. Ia merasa iba dan kasihan, serpihan ombak terus menghantam kehidupannya, dalam hatinya berharap semoga semuanya cepat selesai.


"Ada apa Jho?"


Jhonatan menceritakan semuanya apa yang terjadi dan bagaimana Dominic meninggal, tidak ada satu kata yang ia tambah, ia menceritakan semuanya sesuai apa yang ia lihat.


"Begitu Dad, aku merasa bersalah pada Bella."


"Boleh Daddy jujur, Daddy tidak suka dengan tuduhan Bella. Andai saja Dominic melarang mu untuk menemui Giordan, pasti kau tidak akan mendekat."


"Bella terguncang Dad, aku merasa cemburu saat dia begitu rapuh dengan kepergian Dominic, tapi aku tidak berhak untuk cemburu." Lirih Jhonatan, dirinyalah yang menyakiti Bella, jadi menurutnya kurang pantas kalau dia cemburu pada Dominic yang telah pergi.


"Kalau terjadi sesuatu pada ku, apa Bella akan begitu?'


"Kau bicara apa?" dengus tuan Alexander dengan kesal. Dia pun memilih duduk dan memikirkan bagaimana nasib Bella kedepannya? apa yang harus ia lakukan pada Bella agar wanita itu tidak terlalu sedih.


"Tuan," sapa Jack sambil mengetuk pintu. Dia pun masuk di ikuti Gladies.


"Bagaimana keadaan Bella?" tanya Gladies. Ia sangat khawatir dengan keadaan Bella, apa lagi sehabis melahirkan dan butuh banyak istirahat.


"Dia tidak dalam keadaan baik-baik saja,"lirih Jhonatan. Betapa ia melihat tersiksanya Bella saat ini.


"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan Daddy," ucap Jhonatan. Ia tiba-tiba teringat dengan perceraiannya, kalau ia dan Gladies telah resmi bercerai.

__ADS_1


"Aku dan Gladies telah resmi bercerai," ucap Jhonatan membuat tuan Alexander dan Justin menjatuhkan rahangnya, ia tidak percaya dengan apa yang di katakan Jhonatan.


"Kau bercanda kan?" tanya tuan Alexander. Pikirannya pun melayang kalau Dominic telah pergi, apa artinya putranya ingin mengambil Bella kembali?


"Bella bukan barang yang seenaknya saja kau buang dan kejar," seru tuan Alexander menatap tajam. Dia tidak peduli dengan anaknya, kalau pikiran anaknya di jalan yang salah.


"Tidak Dad, bukan salah Jhonatan. Aku yang memintanya, lagi pula sebelum Dominic pergi dia menghubungi ku dan mengatakan semua. Aku rasa yang di katakan Dominic benar, aku ingin bebas dan kehidupan rumah tangga ku bagaikan rumah tangga yang tak hidup, tidak ada kebahagiaan di dalamnya."


Tuan Alexander sangat tak percayai, kemana sosok Gladies yang mencintai anaknya. "Bagaimana dengan Austin dan Adam? kalian tidak memikirkan mereka?" bentak tuan Alexander. "Kenapa kalian tidak bisa bertahan demi mereka."


Jhonatan langsung menjatuhkan tubuhnya, ia memegangi sebelah kaki tuan Alexander. "Aku mohon Dad, aku tidak sekuat Daddy yang menjalani kehidupan bersama Mommy, aku tidak sekuat Daddy, setiap hari aku selalu memikirkan bagaimana membahagiakan Gladies, aku takut cinta ku menyakitinya Dad."


Tuan Alexander luluh, ia paham betul bagaimana menjalani kehidupan tanpa orang yang kita cintai. Ia sudah pernah melakukannya. Kedua tangannya memegang lengan Jhonatan dan membantunya berdiri.


"Daddy paham, tapi jangan jadikan alasan ini untuk mendekati Bella. Hatinya pasti akan sulit melupakan Dominic, karena selama ini, Dominiclah yang selalu berada di sampingnya.


Jhonatan tersenyum dan mengangguk mantap. "Baiklah, aku akan melihat Bella dulu,"


Tuan Alexander kini beralih pada Gladies, meskipun ia tidak melihat air mata yang jatuh, tapi ia melihat kedua matanya berkaca-kaca. "Kau tidak apa-apa?"


"Daddy sempat kecewa, tapi Daddy bangga padamu, kau berubah dan menyesalinya, kau bertahan demi orang yang kau cintai."


Tuan Alexander merentangkan kedua tangannya, dan Gladies pun berhambur memeluk Daddy mertuanya dan menangis dalam pelukannya.


"Terima kasih Dad, terima kasih Dad."


Sedangkan Justin, pria itu tersenyum tipis melihat mantan istrinya yang sekarang benar-benar menyesalinya.


"Ya sudah, kau beristirahatlah."


Gladies melepaskan pelukannya, dan kembali tersenyum. "Terima kasih Daddy,"

__ADS_1


Rasa terima kasih, seakan belum membuat hatinya lega. Dia bahkan memiliki seorang ayah mertua yang seperti ayahnya sendiri.


Selepas kepergian Gladies, tuan Alexander malah berpaling menatap Justin. "Kau tidak ingin kembali padanya?"


Justin membeku, pikiran dan hatinya tidak sejalan. Ia bingung harus menanggapi perkataan tuan Alexander seperti apa dan akhirnya menggeleng sebagai jawabannya.


***


Jhonatan yang telah sampai di kamar Bella, kedua matanya langsung tertuju ke arah ranjang. Dia pun mempercepat langkahnya saat melihat wanita yang tengah ia jaga beringsut duduk.


"Bella, kau sudah sadar."


Bella mendesis, kepalanya sangat sakit, bahkan membuka kedua matanya saja terasa berat dan kedua matanya pun panas.


Melihat keadaan Bella yang lemah, Jhonatan dengan cepat membuat sandaran menggunakan bantal di punggung Bella.


"Aku akan memanaskan bubur dulu, kau harus minum obat supaya pusing mu mendingan," ucap Jhonatan. Tadi ia menyuruh bibi Mira untuk membuatkan bubur untuk berjaga-jaga kalau Bella siuman.


Jhonatan beranjak, dia meninggalkan Bella yang memegangi kepalanya yang terasa pecah.


"Dominic,"


Bella menunduk, dia menarik kedua kakinya yang berselonjor dengan menekuk, dagunya pun ia letakkan di atas lututnya, sedangkan kedua tangannya menyilang memeluk tubuhnya yang terasa panas. "Aku merindukan mu,"


Bella kembali menangis dalam diamnya, ia berharap semuanya hanyalah mimpi buruk dan ia akan bangun menyambut kenyataan yang indah.


Jhonatan mengelus kepala Bella dan membuat wanita itu mengangkat wajahnya, setelah siapa yang dia lihat, dia pun kembali menenggelamkan wajahnya.


"Kau ibu dan istri yang kuat, saat aku menyakiti mu, kau tidak selemah ini."


"Beda Jho, semuanya Beda, aku masih bisa melihat mu, sedangkan Dominic, aku tidak bisa menggenggamnya," ucapnya dengan suara serak. Tenggorokannya terasa sakit, namun rasa sakit itu tidak sepadan dengan rasa sakit di hatinya.

__ADS_1


"Kau masih memiliki Giordan, bertahanlah dan tersenyumlah demi putra mu. Kau tidak ingin membuat Dominic kecewa kan, maafkan aku, aku tidak bermaksud mengambil hati putra mu dari Dominic, dia sahabat ku, mana mungkin aku tega. Karena tidak ada lagi Dominic, Giordan akan memanggil ku sebagai omnya, tapi aku mohon, jangan larang aku bertemu dengan Giordan, anggap saja ini sebagai penebusan apa yang Dominic lakukan pada kedua anak ku."


"Aku tahu, kau ragu, sebulan sekali aku akan mengunjungi Giordan, aku harap kau baik-baik saja. O iya, makanlah buburnya selagi masih hangat, aku keluar dulu, kalau butuh apa-apa, kau boleh memanggil ku. Aku akan tidur di sofa depan," ucap Jhonatan. Dia tidak akan lagi mendekati Bella sama seperti sebelumnya dan membuat wanita itu tak nyaman.


__ADS_2