Gundik Sang Mafia

Gundik Sang Mafia
#Satu Wanita


__ADS_3

Saking asiknya menyuapi Bella, Dominic tidak menyadari kalau ada seseorang yang tengah datang. Bella hanya makan nasi putih, kadang dia ingin makan sayur ini, setelah di masak, dia tidak bisa memakannya dan hal itu membuat Dominic kasihan. Kini istrinya tidak lagi makan dengan enak. Seharusnya dia saja yang menderita, bukan istrinya. Kata Dokter ada juga yang di sebut dengan kehamilan simpetik. Dimana suaminya lah yang mengalami rasa mual dan ngidamnya sang buah hati.


"Aku ingin minum," ucap Bella.


"Sayang, maaf aku belum bisa membahagiakan mu," lirih Dominic. Dia pun mengelus perut Bella yang masih rata. "Jangan menyiksa Mommy, Nak. Jangan buat Daddy merasa bersalah," ucapnya dengan wajah khawatir.


"Waktu hamil si Kembar pun kau tidak pernah seperti ini,"


Bella menggenggam tangan Dominic, ia melihat ketakutan di wajahnya dan ia cukup senang, suaminya selalu siaga padanya. Bahkan mengabaikan pekerjaannya yang menumpuk.


"Sayang, jangan khawatir. Bagi ku, tidak masalah jika harus menanggungnya demi anak kita."


Nyes


Hati Dominic begitu teriris, ia bisa bertahan lebih lama dalam hidup ini demi buah hatinya dan Bella serta kedua anaknya. Dalam hidup ini, jika pun mati tidak akan ada rasa penyesalan.


Dia pun memeluk Bella dan mengecup pipi sebelahnya. Tuhan sangat adil padanya, setelah mengalami lika liku di masa lalu, ia di beri kesempatan untuk merasakan keindahan dalam hidupnya.


"Terimakasih Honey, kau segalanya bagi ku." Dominic mengepalkan kedua tangannya, ia ingin terlihat kuat di hadapan semuanya. Walau sejujurnya ia rapuh saat melihat Bella tersenyum padanya.


Dominic melepaskan pelukannya. "Sekarang makan lagi, kau hanya memakannya separuh sayang."


Tuan Alexander tersenyum dengan hati teriris, ia teringat waktu Bella hamil membuat perasaannya begitu sakit. Masih terekam jelas di hatinya, waktu Bella terjatuh dan membuatnya pendarahan. Di saat itu bukan putranya yang ada, melainkan Dominic dan juga dirinya.


"Tuan,"


Bibi Mira menyapa tuan Alexander yang sangat memperhatikan percakapan Bella dan Dominic.


"Iya,"


Bibi Mira melangkah ke samping sehingga membuat seseorang terlihat olehnya.


Tuan Alexander begitu terkejut melihat kedatangan seseorang, dia melebarkan kedua matanya. Dia melihat kedatangan Jhonatan, Gladies dan kedua cucu angkatnya.


Kedua mata Jhonatan beralih pada Bella, dia pun tersenyum dengan kehampaan yang selama ini ia jalani. Air mata selalu saja tak bisa di kompromi.


"Jhonatan,"


Deg


Bella menoleh bersamaan dengan Dominic. Wanita itu meremas dresnya dan tersenyum hangat pada Gladies.


"Kalian kesini," sapa Bella. Dia hendak berdiri, namun rasanya kedua kakinya terasa lemas. Dominic berhasil menangkap Bella, bersamaan dengan itu tangan Jhonatan langkah kakinya berhenti di tempat. Tuan Alexander dan Gladies memperhatikan Jhonatan yang mengurungkan niatnya.

__ADS_1


"Kau tidak apa-apa sayang?" tanya Dominic. "Dokter sialan itu, padahal aku meminta obat untuk mu, tapi tidak ada efek-efeknya," kesal Dominic.


Gladies mencairkan keheningannya. Dia pun mendekat dan duduk di samping Bella. "Apa kau sakit?" tanya Gladies.


"Istri ku hamil,"


Nyut


Gladies terdiam sejenak dan akhirnya tersenyum. "Selamat Bella, kau akan menjadi seorang ibu."


Ia memeluk Bella dengan erat, beberapa anak panah menancap di hatinya. Ia begitu iri, wanita yang bisa hamil. Sedangkan dia, Dokter sudah memeriksanya dan menyatakan dirinya sangat kecil bisa hamil kembali. Tapi sekarang ia sudah tidak mempermasalahkannya.


Ia pun melepaskan pelukannya dan menoleh pada suaminya yang masih berdiri.


"Jika dulu saat kehamilan si Kembar. Bella tidak merasakan seperti ini, hah. Aku merasa bersalah padanya."


"Wah, apa Mommy Bella akan memiliki anak, berarti aku nambah adik donk," ucap Austin. Dia pun menghampiri ibunya.


"Iya sayang," ucap Gladies.


"Bella mencium Austin."


Sedangkan Jhonatan merasa hatinya tercubit dan terpelintir mendengarkan perkataan Dominic, saat Bella hamil si Kembar dia tidak ada di sampingnya. Ia tidak seperti Dominic yang siap siaga.


Dominic menoleh, ia baru menyadari ada Jhonatan yang masih berdiri dan belum menyambutnya.


"Ya ampun, aku lupa." Dia pun berdiri dan menyambut sahabatnya itu. Seperti sahabat lamanya, Dominic mengulurkan tangannya lalu di sambut oleh Jhonatan dan ber tos, kemudian berpelukan.


"Hah, maaf yaa.." Dominic merangkul Jhonatan dan membuat pria itu berdecak.


"Mentang-mentang sudah memiliki anak kau lupa pada sahabat mu," ucap Jhonatan dan membuat Dominic terkekeh.


"Maaf lah, aku hanya lupa sebentar."


"Selamat kau sekarang menjadi seorang ayah."


"Dari dulu aku memang sudah menjadi seorang ayah."


Iya dia benar, dia ayah kedua anak ku.


"Ya sudah ayo duduk."


Dominic kembali duduk di samping Bella, sofa panjang itu muat untuk di duduki tiga orang. Sedangkan Jhonatan, kursinya berhadapan dengan sang ayah.

__ADS_1


"Kau kesini ingin menengok si Kembar, kenapa tidak mengatakannya pada ku? aku bisa menjemput mu di Bandara," ucap Dominic.


Jhonatan menatap Gladies, kedatangannya bukan untuk si Kembar, tapi awalnya karena mendengarkan sebuah teriakan.


"Ah iya, dia memang ingin melihat si Kembar." Gladies menimpalinya. Dia pun berdiri dan mengambil Baby Adam di dalam gendongan baby sitternya.


"Dia pasti sangat aktif," ucap Bella. Dia pun mencubit pipi gembulnya itu yang terlihat sangat menggemaskan.


"Kadang dia mengoceh sendiri, aku tidak tahu dia mengatakan seperti apa," ucap Gladies.


"Aku ingin menggendongnya,"


"Tidak, kau masih sakit." Cegah Gladies. Dia tidak mau Bella kelelahan menggendong putranya itu.


"Aku hanya memangkunya saja, Gla. Ehm, tidak akan membuat ku lelah."


Gladies pun mengalah, dia menaruh baby Adam duduk di pangkuan Bella dan Baby Adam terlihat anteng, kadang dia mendongak dan memperhatikan wajah Bella. Tangan kecilnya pun terulur melihat memegangi dagu Bella.


"Wah, baby Adam menyukai Mommy kan? lucunya ... "


Dominic tersenyum begitu pun Jhonatan, kedua memperhatikan Bella dan Gladies, lebih tepatnya, perhatian mereka jatuh pada Bella.


Tuan Alexander melihat itu pun sangat tersiksa melihat putranya masih menyimpan Cinta yang tak harus dia miliki. Dia selalu berdoa agar putranya menerima Gladies kembali. Namun doanya sepertinya belum di kabulkan.


Broot


Gladies terdiam, ia mendengarkan sesuatu yang tak asing baginya. Sedangkan Bella malah mengerutkan dahinya, sesuatu yang asing, namun pernah ia mendengarkannya.


"Maaf dia,"


"Ha ... Ha ... Ha .. "


Bella tertawa geli, saking sukanya padanya. Baby Adam pun mengentutinya.


"Pasti baby Adam ingin Pup, Bella serakah pada Ay, biar dia saja yang menggantinya."


Ayra pun mendekat, dia hendak mengambil Baby Adam. Saat Bella ingin menyerahkannya, Baby Adam langsung menangis.


"Hey, sayang. Kenapa menangis? kau tidak mau? ya sudah, biar sama Mommy saja," ucap Bella.


Bella kembali menaruh Baby Adam di pangkuan dan mengusap kedua air matanya yang mengembun itu.


"Sepertinya dia mencintai mu," ucap Jhonatan tanpa sadar. Bibirnya yang awalnya tersenyum lebar kini membuat semua orang memperhatikannya.

__ADS_1


__ADS_2