
"Aku tidak mau tahu, kau harus mencarinya Jack, hidup atau mati, kau harus mencarinya!" teriak Jhonatan nyaring, wajahnya di penuhi amarah, bahkan urat di lehernya pun seakan terlepas.
"Saya akan terus mencari nyonya Bella, tuan. Tapi bagaimana dengan nyonya Gladies?"
"Jangan sampai dia tau," ucap Jhonatan dengan nada pelan, namun tegas. Ia berhak pada anak di dalam perut Bella, ia berhak memilikinya.
"Tuan, kalau tuan menemukan nyonya Bella, sama saja tuan menyakiti nyonya Gladies, apa tidak sebaiknya saja niat tuan urungkan? tuan bisa memilikinya dengan nyonya Gladies."
Jhonatan menarik kerah baju Jack, dia menatap nyalang pria di hadapannya. "Kau tau apa Jack? dia tetap anak ku, terlepas dia anak Bella atau bukan, dia darah daging ku." Jhonatan mengingat tentang masa kecilnya yang terlepas dari kasih sayang ayahnya. Bahkan perusahaan yang ia pimpin, J.A Group adalah perusahaan dari ibunya. Seharusnya dua perusahan dari sang ayah dan ibunya adalah miliknya.
"Aku memang tidak menyukai Bella, tapi dia anak ku. Terlepas dia perempuan atau laki-laki. Dia tetap anak ku," ucap Jhonatan melepaskan kerah Jhonatan.
"Jika nyonya Gladies mengetahuinya,"
"Kau hanya tutup mulut mu, jangan sampai ada yang mengatakannya."
"Tuan serapat-rapatnya tuan menjaga rahasia, nyonya Gladies pasti mengetahuinya."
"Kau tidak perlu mengurusinya, urusan mu adalah mencari Bella dan membawa Bella." Titah Jhonatan. Dadanya naik turun, ia ingin mengobrak abrik wajah pria di depannya.
__ADS_1
"Baik tuan, saya akan berusaha," ucap Jack. Dia pamit pergi dan meninggalkan sang majikan.
"Jack!"
Tepat di ambang pintu, pria itu menoleh.
"Bawakan aku beberapa botol Wine," ucap Jhonatan dan Jack hanya bisa menyanggupinya.
Jhonatan berteriak kesetanan, dia tidak bisa menahan amarah, sakit di hatinya dan sebuah kekecewaan. Ia harus kehilangan anaknya. Ia tidak bisa, hatinya menginginkan seorang anak. Ia akan mencari Bella sampai ke ujung dunia pun.
##
"Iya Nyonya,"
"Dimana Jhonatan? katanya pelayan melihat terburu-buru keluar,"
"Oh, itu. Ada urusan mendadak nyonya," ucap Jack. Sekarang tuan masih berada di kantor, baiklah nyonya, saya tutup dulu," ucap Jack. Dia mematikan handphonenya dan melemparkannya ke kursi di sampingnya. Dia mengelap sudut bibirnya yang robek.
"Semoga saja aku berhasil menemukan nyonya Bella," gumam Jack, apalah daya nasibnya yang menjadi seorang bawahan, apa pun, kemana pun, ia harus menuruti perintah sang atasan.
__ADS_1
##
Perasaan Gladies tidak enak, ia merasa ada sesuatu, tapi ia terus berusaha meyakinkan kalau suaminya, Jhonatan, tidak menyembunyikan apa pun darinya. Ia yakin, meskipun ia ragu dengan penjelasan sang Dokter.
"Jhonatan tidak mungkin mengkhianati ku, selama ini dia tidak pernah membahas masalah anak, karena tidak ingin menyakiti ku, itu saja."
Gladies mengingat semua perjuangan Jhonatan, dia berusaha keras menginginkan dirinya sebagai miliknya, seutuhnya.
Dia juga melihat perjuangan Jhonatan, usia pernikahannya baru memasuki 7 tahun, Jhonatan tidak pernah membentak dan memarahinya, pria itu justru memanjakannya bagaikan seorang Ratu.
Drt
Lamunan Gladies buyar, dia melihat ponselnya.
"Ayah mertua?"
Gladies mengangkat panggilan itu, dia sejenak terdiam menunggu sang ayah berbicara lebih dulu.
"Hallo Gladies," suara tegas itu membuat tubuh Gladies merinding.
__ADS_1
"I-iya Dad."