
"Rupanya kau sangat yakin," ucap Gladies tersenyum sinis. "Yah, kau cukup menyukainya."
Justin melirik anaknya, ia merasa anaknya tidak nyaman dengan kehadiran ibunya. "Ayo Austin, kita sudah selesai," ucap Justin. Dia pun sekilas menatap wajah mantan istrinya dan kemudian berlalu.
Setelah kedua pria itu menghilang, Gladies kembali menangis. Dia menutupi kedua matanya dengan kedua tangannya yang bertumpu di atas pahanya. Hatinya sakit melihat semua orang pergi meninggalkannya.
Jhonatan, pria itu juga pergi bersama ayahnya. Mantan suaminya serta anaknya pun pergi. Semuanya pergi meninggalkannya sendiri. Ia tidak mau seperti ini terus, ia ingin mereka kembali. Ia ingin Jhonatan yang selalu tersenyum dan memberikannya bunga.
"Aku menginginkan mereka," lirihnya.
Sedangkan di dalam mobil, Justin menggenggam erat tangan Austin dan tersenyum hangat. "Kau merindukan ibu mu,"
Austin menggeleng dengan cepat, hatinya menginginkan kehadirannya, tapi di dalam hatinya masih merasakan kebencian yang amat dalam.
Justin mengusap kepala Austin, dia mengerti perasaan anaknya. Putranya itu akan menggeleng kalau menginginkan sesuatu. "Kau boleh menemuinya kapan saja."
"Tapi dia tidak menginginkan aku Dad, apa aku salah aku berharap banyak pada ibu kandung ku sendiri?"
"Tidak salah sayang, kalau dia mau menemui mu, temuilah, tapi ketika dia mengatakan yang tidak-tidak, bicarakan pada Daddy."
Justin mengangkat tubuh Austin yang berada di sampingnya ke atas pahanya. Dia memeluk putranya itu begitu erat dan mencium beberapa kali pucuk kepalanya.
###
Jhonatan pun tertawa riang dengan memangku Velli, dia bernyanyi dengan putrinya dan bertepuk tangan. Bahkan dia sering mencium pipi gembul Velli dan kadang menggelitinya. Suasana di mobil itu pun sangat ramai karena dua orang yang tertawa tanpa henti. Meskipun debaran jantung Jhonatan yang seakan meledak, tapi bermain dengan Velli sedikit menghilangkan kegugupannya.
__ADS_1
Sedangkan tuan Alexander tersenyum melihat cucu dan putra semata wayangnya tertawa ceria, seakan tidak ada beban di antara mereka.
"Daddy, bolehkah nanti kita jalan-jalan?"
"Tentu sayang, Daddy akan menuruti semua kemauan Velli."
"Dan Mommy, kak Vello."
Jhonatan mengangguk pelan dengan kedua mata yang mengembun. "Iya sayang,"
Tak terasa mobil putih itu memasuki halaman luas dan membuat tubuh Jhonatan panas dingin. Entah apa yang akan dia katakan pertemuannya dengan Bella.
Jhonatan pun turun dengan menggendong Velli, tuan Alexander meminta Jhonatan menyerahkan Velli karena melihat kondisi sang anak yang terlihat pucat.
"Tidak, Dad. Biar aku yang menggendong Velli."
Jhonatan pun menurunkan Velli dan bocah perempuan itu pun berlari riang sambil berteriak memanggil Mommy dan kakaknya.
"Mommy! Mommy! Mommy!" teriak Velli.
Karena takut terjatuh, Jhonatan ikut mempercepat langkahnya sambil memanggil nama sang putri.
"Velli! Velli jangan berlari!" teriak Jhonatan.
"Bibi, di mana Mommy?" tanya Velli pada ketua pelayan.
__ADS_1
"Nyonya ada di gazebo belakang nona," jawab sang Bibi.
Velli pum kembali berlari dan ketua pelayan itu menunduk ketika Jhonatan melewatinya.
###
"Aaaa .... " teriak seorang pria. Dia merasakan berdenyut di sikunya. Sekuat hati dia menahan perasaanya untuk tidak menghubungi wanita di sampingnya, tapi perasaan itu kalah. Dia merindukan wanita di depannya dan hasilnya, dia pun menggunakan motornya mengebut di jalan dan berakhir terluka.
Sang asisten, Marvin menawarkan untuk ke rumah sakit, namun ia bersikeukeh untuk menemui Bella.
"Katanya tidak sakit, tapi malah berteriak," ucap Bella dengan nada menekan sambil menekan luka Dominic. Ia kesal lantaran Dominic yang tidak mau ke rumah sakit, di panggil Dokter pun dia tidak mau.
"Kan aku bilang tidak sakit," ucap Dominic.
Bella menghembuskan nafas kasarnya dan kembali menekan luka di sikunya. Hingga membuat pria itu meringis, ia menahan teriakannya karena calon istrinya sedang kesal.
"Pelan-pelan sedikit sama calon suami kenapa sih?" Dominic menaik turunkan kedua alisnya, kemudian mengedipkan sebelah matanya.
Bella berdiri, lalu menyilangkan kedua tangannya. Dia memicingkan sebelah matanya dan perasaan kesal yang terus menyelimuti hatinya. "Siapa yang mau jadi istri mu, aku tidak mau sungutnya."
Dominic pun menarik tangan Bella, hingga Bella sedikit mencondongkan wajahnya ke depan wajah Jhonatan, seakan keduanya ingin berciuman.
"Kau!" Bella memberontak, namun Jhonatan tetap menahannya dengan kuat.
"Aku mencintai mu,"
__ADS_1
Sejenak Bella mematung, kedua matanya menatap lekat kedua manik Dominic, ia mencari sebuah kebohongan di matanya, namun nihil, ia melihat ketulusan dia matanya.
Jhonatan mengepalkan kedua tangannya, dadanya naik turun menahan amarah dan rasa sakit yang terus menghujaminya. Seperti hati yang telah di bakar hidup-hidup, jantung yang di tusuk beribu belati.