Gundik Sang Mafia

Gundik Sang Mafia
#Jhonatan Juga Berhak


__ADS_3

Pesta terus berjalan lancar, acara potong kue pun berjalan dengan lancar. Vello dam Velli memberikan potongan kue untuk ibunya. Karena keduanya memiliki dua Daddy, Vello akan memberikan kuenya untuk Jhonatan sedangkan Velli untuk Dominic dan membuat pria itu mengakui kecerdasan Velli dan Vello serta cepat tanggap, kedua Daddy itu yakin, Vello dan Velli akan memiliki hubungan yang kuat dan bekerjasama dalam segala hal.


Potongan berikutnya pun untuk tuan Alexander dan Gladies. Setelah menemani dan menyapa para tamu, Jhonatan berpindah tempat. Sebagai seorang ayah yang sedang menahan amarahnya dan seorang kakek yang menahan kekesalannya. Jhonatan langsung mengambil cairan merah yang di tawarkan oleh pelayan laki-laki itu, dalam sekali teguk. Cairan merah itu langsung tandas.


Dominic menatap tuan Alexander dan Jhonatan, keduanya seakan memalingkan wajahnya, dan juga Justin. Sepertinya mereka serempak ingin marah padanya. Tapi ia tidak peduli, ia ingin lakukan apa yang ingin dia lakukan.


Jhonatan mengendurkan dasinya, lehernya seakan sesak. Ingin sekali ia melepaskan jasnya yang terasa panas di tubuhnya.


"Jho, kau baik-baik saja?" tanya Gladies. Dia merasa suaminya saat ini tidak baik-baik saja, apa lagi Jhonatan seakan ingin menghabiskan semua Wine di semua gelas di hadapannya itu. "Apa kita pulang saja?" tawar Gladies.


"Aku baik-baik saja, Gla. Aku tidak bisa meninggalkan mereka. Ini acara mereka, acara yang aku tunggu-tunggu selama ini."


"Aku akan berbicara dengan Bella," ucap Gladies. Dia pun berbisik pada Bella dan menyuruhnya untuk mengikutinya ke balkon.


Dan di sinilah keduanya saat ini, dua wanita itu kini saling berhadapan.


"Bella, apa kamu tidak merasa perbuatan Dominic benar-benar keterlaluan, bisa-bisanya dia melakukan ini. Jhonatan berhak pada Velli dan Vello."


Bella menaikkan sebelah alisnya, ia rasa perbuatan suaminya pasti ada alasannya. Apa pun yang di lakukan suaminya saat ini, sebagai seorang istri, kalau salah ia akan menegurnya, tapi kalau benar ia akan mendukungnya.


"Aku akan meminta penjelasannya pada suami ku dan untuk saat ini, aku tidak ingin membahasnya." Bella pun berbalik, namun tangannya langsung di cegah oleh Gladies.

__ADS_1


Wanita itu belum menyerah, ia ingin Bella tidak hanya memikirkan Dominic sebagai Daddy dari si Kembar, tapi juga Jhonatan.


"Jhonatan lebih berhak dari pada Dominic. Aku tidak tahu apa yang kamu pikirkan, tapi kalau tidak ada Jhonatan tidak akan ada si Kembar."


"Kau benar, si Kembar adalah benihnya. Jhonatan mantan suami ku atau lebih tepatnya masa lalu ku, sedangkan Dominic, suami ku, masa depan ku. Kalau dia merasa kesakitan kecewa, aku minta maaf atas mama suami ku, tapi aku percaya pada Dominic, dia akan melakukan apa pun demi si Kembar."


Bella melirik Jhonatan yang menatap nanar padanya, dia pun melepaskan tangan Gladies yang memegang tangannya dan melewati Jhonatan begitu saja.


Jhonatan menunduk atau ingin menegakkan wajahnya, ternyata Bella menaruh kepercayaan yang besar pada Dominic.


"Jho, kau baik-baik saja."


***


Tak hanya Jhonatan, tuan Alexander pun menegur Dominic setelah acara itu usai. Tuan Alexander meminta agar mereka mengurungkan niatnya untuk menginap di hotel. Awalnya sesuai rencana, kalau mereka akan menginap di hotel setelah selesai acara ulang tahun Vello dan Velli.


"Apa yang kau lakukan Dominic?" tanya tuan Alexander. "Nama Vello dan Velli harusnya terselip nama Jhonatan, aku tahu putra ku salah, tapi dia juga berhak Dominic." Tegas tuan Alexander, wajahnya memerah dan menahan amarah. Kalau saja Dominic bukan suami dari Bella yang ia anggap sebagai putrinya, sudah pasti ia akan menghabisi nyawanya saat ini juga.


"Aku ingin melakukan apa yang ingin aku lakukan."


"Dominic!" bentak tuan Alexander. "Kau ingin merebut Vello dan Velli dari kami, kalau begitu aku akan merebut hak asuh mereka."

__ADS_1


"Daddy!"


Untuk pertama kalinya dia tidak percaya apa yang di katakan tuan Alexander yang telah di anggap sebagai ayahnya. "Aku percaya pada Dominic, dia pasti melakukan ini karena ada alasannya. Aku percaya pada suami ku, apa pikir hanya Jhonatan yang menderita. Selama aku mengandung si Kembar, aku yang menderita."


"Kau lihat dia,"


Tuan Alexander menunjuk Jhonatan yang terdiam membisu di samping Gladies. "Dia juga menderita, selama ini dia hidup dengan rasa penyesalan. Oke, kau bukan Tuhan yang tidak akan memberikan kesempatan untuk seorang suami yang ingin memperbaikinya. Demi dirimu, demi cintanya pada mu, dia ingin melepaskan Gladies. Lalu siapa yang memohon pada saat itu? kau Putri ku. Kau ingin Gladies di berikan kesempatan, tapi kau tidak memberikan kesempatan pada Jhonatan. Kau sangat bijak Putri ku. Aku salut dengan kebaikan hati mu."


"Daddy!" Dominic menatap tajam, ia tidak suka ada seseorang yang memarahi istrinya.


"Jangan membentak Bella Dad, dia tidak salah," timpal Jhonatan. Ingin sekali ia memeluk Bella, sayangnya, ia tidak memiliki hak itu.


Gladies mengeluarkan air matanya, siapa sangka ia akan di ungkit seperti ini.


"Daddy kecewa pada mu Dominic dan Bella." Tuan Alexander pun melenggang pergi. Sedangkan Jhonatan, dia menatap sepasang suami istri itu.


"Aku mohon jangan batasi aku untuk menemui si Kembar," ucapnya. Kemudian mengekori tuan Alexander.


"Bella, aku harap keputusan mu tepat," ucap Gladies yang akhirnya juga meninggalkan sepasang suami istri itu.


Dominic langsung menarik tubuh Bella masuk ke dalam pelukannya dan mengecup pucuk kepalanya. Sungguh bukan hal yang pernah ia rencanakan, Bella sangat mempercayainya bahkan melawan tuan Alexander demi dirinya.

__ADS_1


__ADS_2