Gundik Sang Mafia

Gundik Sang Mafia
#Mengutarakan Isi hati


__ADS_3

Emm


Kedua mata yang terpenjam itu perlahan terbuka, kelopak matanya berkedip, dahinya langsung berkerut seakan ia menyadari sesuatu. Dalam sekejap ia pun bangkit dan mengingat putranya yang ia tinggal sendirian.


Deg


Langkahnya berhenti seketika, dia melihat Jhonatan yang tengah memakaikan baju untuk Giordan dan Velli serta Vello yang berada di sampingnya pun ikut membantu.


"Daddy, Adik Gio harum," ucap Velli.


"Dad, jangan lupa minyak rambutnya," ucap Vello.


"Dad, apa dulu kita seperti adik Gio?" tanya Velli menatap ke arah Jhonatan.


Hati Jhonatan tercubit nyeri, bagaimana ia tahu keadaan putrinya dan putranya saat itu? bahkan karena dialah mereka pergi.


Ia bahkan tidak tahu bagaimana perkembangan kedua anaknya?


"Daddy tidak ikut andil dalam hidup kalian,"


Velli dan Vello saling tatap, mereka tidak mengerti apa yang di katakan Jhonatan.


"Daddy Dominic lah yang menjaga dan merawat kalian, bukan Daddy, Maaf."


Vello yang sudah tahu kalau dan lebih mengerti dari pada Velli, dia pun tersenyum dan tidak ingin mengungkit masa lalu lagi. "Tapi Daddy tetap menyayangi kami kan?"


Jhonatan mengelus kepala Vello. "Iya sayang, Daddy sangat menyayangi kalian."


Ayah dan anak itu pun tertawa secara bersamaan, seakan baby Gio mengerti, dia pun juga ikut tertawa memamerkan giginya yang baru tumbuh.


Apa ini kebahagiaan mu, Dominic? apa kau senang melihat mereka tertawa?


Bella memutar tubuhnya dan Jhonatan langsung menangkap tubuhnya yang membelakanginya.

__ADS_1


"Bella?"


Secepat mungkin Bella menghapus air matanya, dia pun berbalik dan tersenyum pada kedua putranya. "Maaf mengganggu, tadi aku bermaksud ingin menemui baby Gio, tapi karena ada kau, ya aku tidak jadi. Aku tidak ingin mengganggu waktu kalian," ucap Bella.


Kerutan dia dahi Jhonatan semakin terlihat jelas, tidak biasanya Bella berbicara panjang. Tapi ia cukup senang, entah ini sesaat atau selamanya.


"Ah, tidak kok. Aku senang kau datang."


Jhonatan beralih pada baby Giordan. "Gio pasti senang melihat Mommynya, iya kan Nak?"


"Kau lanjutkan saja," ucap Bella. Dia tidak ingin mengganggu waktu ayah dan anak itu. Dia pun beralih pada lemari dan mengambil bathrobe, lalu menuju kamar mandi.


"Dad, ayo ajak adik ke taman, bersama Mommy," ucap Velli.


"Bagaimana kalau Mommy tidak mau? Mommy pasti capek sayang, kan kemarin jagain adik yang lagi rewel."


"Nanti aku tanyain ke Mommy ya Dad," ucap Velli yang di angguki oleh Jhonatan.


*Aku sudah bercerai dengan Jhonatan, sebelum Dominic meninggal. Sebenarnya Dominic menceritakan perihal sakitnya pada ku dan aku sadar, perkataan Dominic ada benarnya, aku tidak bisa hidup lebih lama dengan Jhonatan tanpa ada cinta, sekarang aku merasa bebas Bella.


Bella, Dominic memiliki harapan kau kembali pada Jhonatan. Dia sangat menginginkan dirimu kembali dengan Jhonatan, jangan sia-siakan keinginan terakhirnya dan harapannya*.


"Akan aku lakukan keinginan terakhir mu,"


Ia kembali menangis, sakit sangat sakit, ia tidak menginginkan semua ini, tapi apalah dayanya.


Bella menyelesaikan ritual mandinya dengan cepat, ia ingin mengatakan sesuatu pada Jhonatan. Ia pun keluar, namun ketiga orang itu telah pergi membawa baby Giordan.


Ia pun kembali melanjutkan aktivitasnya, memolesi wajahnya sedikit polesan tipis dan natural. Memakai sebuah dress selutut, dres yang sangat di sukai Dominic, walaupun ia akan mengatakan sesuatu yang tak ingin ia katakan, ia tidak akan melupakan siapa dirinya saat ini.


Bella menuruni anak tangga, rambutnya di biarkan tergerai dan berjalan menunduk. Tanpa ia sadari sepasang mata tengah memperhatikannya, pandangannya tidak pernah lepas.


Jhonatan terpaku, dia melihat mantan istrinya seperti dulu, seperti pertama kalinya. Sekali pun mantan istrinya memiliki tiga anak, tapi tubuhnya tetap ramping, wajahnya semakin berseri dan bersinar, tampak memukau.

__ADS_1


Ehem


Jhonatan tersadar, dia pun beralih kembali mengambil bebek kecil pada Giordan untuk di mainkan.


"Jaga tatapan mu," peringati tuan Alexander.


"Iya Dad."


"Daddy," sapa Bella. Dia tidak tahu, kalau sang ayah datang mengunjunginya bersama dengan Jhonatan. Dia pun menyalami sang ayah yang tengah tersenyum.


"Kau baik-baik saja kan?"


"Iya Dad," Bella tersenyum tipis. "Kebetulan ada Daddy, aku ingin berbicara serius dengan Jhonatan."


Deg


Jantung Jhonatan bergetar, ia takut karena kejadian kemarin Bella memarahinya dan melarangnya menemui baby Gio.


Bella menatap Jhonatan dengan pandangan berkaca-kaca. Bibirnya terasa kering, hatinya kembali sakit. "Aku tidak ingin mengecewakan mendiang suami ku, harapan terakhirnya aku harus menikah dengan mu, alasannya demi baby Gio." Bella meremas gaunnya, "Aku akan menikah dengan mu."


Jhonatan dan tuan Alexander menganga, kedua matanya seakan ingin keluar. Perkataan Bella seakan angin segar menyapa telinganya.


"Bella kamu," tuan Alexander belum percaya, ia belum yakin keinginan Bella. Sekalipun karena Dominic, tapi ia cukup bahagia. Bella kembali dengan Jhonatan, demi si Kembar dan Giordan. Mereka butuh keluarga yang sempurna.


"Bella, sejujurnya aku senang, tapi aku tidak mau kau terbebani. Aku bisa menjaga baby Gio,"


"Tapi Giordan merasa jauh dari mu, dan aku mohon demi permintaan terakhir mendiang suami ku," ucap Bella dengan air mata yang mengalir. "Kalau kau tidak mau terserah,"


"Bukan begitu Bella,"


"Aku sangat senang,"


Bella merasa telah selesai mengutarakan isi hatinya, ia pun tak berniat berada di antara kedua pria itu lebih lama lagi. "Ya sudah, aku pergi ke belakang dulu."

__ADS_1


__ADS_2