Gundik Sang Mafia

Gundik Sang Mafia
#Misi Penyelamatan Velli


__ADS_3

"Jho, Daddy pernah berpikir, tindakan Bella salah karena tidak memberi mu kesempatan. Namun Daddy salah dugaan, dia memberimu kesempatan untuk menemui kedua anak mu."


"Daddy tidak bisa apa-apa, bersabarlah."


"Ayo kita temui Dominic, kita harus merundingkan ini. Si kembar pasti ketakutan, kita tidak bisa memikirkan hal lainnya."


"Benar Daddy, aku harus menyelamatkan si Kembar," ucap Jhonatan. Dengan fokus pada si Kembar, pikirannya sedikit teralihkan, walaupun tidak bisa menghilangkan rasa sakit di hatinya.


Jhonatan, tuan Alexander dan Dominic, mereka duduk di meja bundar, saling berwajah serius. Di belakangnya, masing-masing ada Asisten.


"Kita tidak bisa meninggalkan Bella sendirian dengan Gladies, bisa saja pria bangka itu mengelabui kita," ucap tuan Alexander.


"Aku akan kesana dan Jack bersama Marvin ikut aku, sedangkan kau dan Jhonatan mengambil si Kembar."


"Aku tidak percaya kalau dia membawa si Kembar ke Amerika, pasti si Kembar masih ada di sini."


"Tuan saya sudah menemuka lokasinya, mobil itu berhenti di jalan Xxx dan sopirnya membawa dua koper," ucap Theo.


Brak


"Kurang ajar mereka, apa mereka pikir anak ku bukan manusia," ucap Jhonatan dengan berapi-api.


Theo pun terus meretas jaringan mereka. Hingga menemukan sebuah titik. "Mereka berada di gedung Xxx. Saya rasa si Kembar ada di sana."


"Tapi kita tidak bisa mengabaikan ancamannya, kalau kita tidak ke Amerika si Kembar ... " Jhonatan menjeda, dia tidak bisa membayangkan sesuatu yang akan terjadi.


Dominic mengangkat wajahnya. "Kau ayahnya, kau tidak boleh berpikiran negatif, tidak akan terjadi sesuatu pada si Kembar," ucap Dominic dan membuat tuan Alexander tersenyum.


"Besok kita harus ke Amerika, lebih cepat lebih baik," ucap Jhonatan. Bayangan Vello si muka datar yang menggemaskan dan Velli yang ceria seperti Matahari selalu terngiang di ingatannya.


"Kalian harus mengesampingkan masalah pribadi kalian, yang menjadi taruhannya nyawa anak kalian," ucap tuan Alexander dengan tegas, sambil menatap keduanya dan membuat mereka mengangguk.


Keesokan harinya.


Bella dan Gladies berdiri di depan pintu, mereka memandang ketiga pria yang akan terbang ke Amerika. Waktu yang di butuhkan berkisar 22 jam sampai 24 jam. Ketiga pria itu akan memakai pesawat pribadi milik tuan Alexander.


Dominic dan Jhonatan memandang ke arah kedua wanita yang mengantarnya dan tersenyum.


Bella, aku tidak tahu apa ini terakhir atau tidak? tapi aku berjanji akan membawa Si Kembar batin Jhonatan.


Bella aku berharap, aku memiliki waktu bersama kalian dan aku berjanji akan pulang dengan selamat. Aku tidak akan mengecewakan mu batin Dominic.


"Ayo Bella kita masuk, aku yakin kedua Daddy itu pasti membawa si Kembar," ucap Gladies. Dia pun menoleh pada Justin yang berdiri di samping Bella dan pria itu hanya mengangguk. Sedangkan Austin, dia mengurungkan diri di kamarnya karena tidak ingin menemui sang ibu.

__ADS_1


***


Sinar matahari mulai redup, butuh beberapa jam, Jhonatan dan Dominic sampai di sebuah gedung yang terbengkalai. Mereka harus memasuki hutan yang jauh dari pemukiman, setelah sampai di tempat tujuannya, mereka keluar dari masing-masing mobil mereka dan memandang gedung bertingkat tiga itu.


Dominic mengaktifkan pistolnya, kedua matanya bagaikan singa yang sangat waspada.


"Kita berpencar," ucap Dominic.


Kedua punya di bagi dia kubu, Jhonatan dan Jack serta tiga pengawal ikut mereka. Sedangkan Dominic di ikuti oleh Marvin dan Theo serta dua pengawal.


Mereka pun memasuki samping gedung itu, saling mengendap-ngendap dan siap menyerang.


Dor


satu tembakan meleset dan menebus sebuah dinding, Dominic dan kubunya berpencar mencari penghalang. Dominic berjongkok dia mengintip. Melihat orang yang berbaju hitam. Theo langsung menembak ke arah mereka, satu orang meleset dan satu orang tertembak mati di dadanya.


"Tuan, biar saya yang mengurus bekicot ini. Tuan masuk saja," ucap Theo.


Dominic dan Marvin serta satu orang pengawal berjalan jongkok kadang berdiri melihat situasi sekelilingnya.


Dor


Dor


Dor


Dia mengintip dan banyak pengawal yang berdiri di lantai dua dan seorang pria yang ia kenal. "Dia, Kendrix," ucap Dominic.


Dominic mengamati situasi saat ini, dia melihat beberapa pengawal lainnya yang berada di belakang Kendrix, pria itu pun duduk sambil menyilangkan kedua kakinya dan tersenyum sinis.


Cetak


Dia memberikan kode pada anak buahnya dan sebuah jeruji besi perlahan turun dari lantai atas dengan di tutupi kain hitam, sedangkan di bawah jeruji besi berbentuk kotak segi empat itu sebuah benda tajam yang sangat runcing.


"Kau apakan putri ku?"


Kendrix tertawa, siapa sangka dia mendapatkan suatu informasi yang sangat ia tidak ketahui. Ternyata seorang Jhonatan memiliki anak dari wanita lain.


"Daddy!" teriak Velli. Dia menangis dalam ketakutan, ia di pisahkan dengan sang kakak dan tidak tahu kakaknya berada di mana.


Jhonatan dan Dominic merasakan nyeri, Dominic ingin keluar, namun di cegah oleh Theo. "Biarkan saya yang keluar dulu, tuan harus muncul di waktu yang tepat."


"Lepaskan putri ku bajingan." Jhonatan berlari ke arah Kendrix, namun suara tembakan itu membuat langkahnya berhenti dan menoleh pada putrinya.

__ADS_1


"Kau ingin membunuh ku, bunuh aku Jhonatan dan kau akan melihat putri mu, akhhhh, mati." Kendrix tertawa puas. Akhirnya dia tahu kelemahan Jhonatan, musuhnya itu. Tangannya gemetar mengepal dengan kuat.


"Kau masih ingat dengan sebelah mata ku? gara-gara kau, aku kehilangan salah satu mata ku," ucapnya dengan aura menekan.


"Urusan mu dengan ku, lepaskan putri ku bajingan tengik," ucap Jhonatan. Hatinya berdenyut nyeri mendengarkan putrinya menangis memanggil nama Mommy dan dirinya.


"Cih," Kendrix berdiri dan meludah ke samping, dia mengambil sebuah pistol yang di sodorkan oleh salah satu pengawalnya.


"Kalau kau ingin putri mu, maka aku Kendrix Rostom harus melangkahi mayat mu dulu."


Jack dan tiga pengawal itu pun maju, namun Jhonatan memberikan kode agar tidak bertindak gegabah.


Kendrix menyodongkan pistolnya, ini kesempatannya untuk membunuh Jhonatan, jadi ia tidak perlu menghilangkan tenaganya lebih banyak.


Theo dan Marvin serta dua pengawal saling mengangguk, Dominic siap menyelamatkan putrinya, salah langkah saja putrinya akan merenggang nyawa. Hanya beberapa senti saja benda runcing ke atas itu akan menancap di tubuh putrinya. Theo akan menyerang di bagian lantai dua. Ada empat pengawal yang berdiri kokoh di sana. dan satu pengawal memegang tali jeruji besi itu.


Dengan rencana yang matang, Theo langsung menghunuskan pistolnya ke arah pengawal di atas, sedangkan Marvin dan dua pengawal lainnya langsung menyerang beberapa anak buah Kendrix, begitu pun Jhonatan, Jack dan pengawal lainnya langsung mencari posisi aman. Sedangkan Dominic berlari dengan kencang, kaki kanannya mencari pijakan untuk membantunya melayang dan membuat jeruji besi itu jatuh ke samping.


Hap


Trang


Terdengar sebuah teriakan yang sangat keras dan ketakutan dia jeruji besi itu. "Sayang," sapa Dominic. Dia langsung merobek kain hitam itu, ia menggertakkan giginya melihat putrinya bersimbah air mata. Dominic pun membuka jeruji besi itu dan membuat putrinya keluar.


"Sayang, oh Tuhan, syukurlah."


"Dimana kakak mu?"


"Velli tidak tahu, Velli sendirian."


Bagikan di sambar petir, Dominic sejenak mematung. Berarti mereka di pisahkan, wajah Dominic langsung di hujani oleh keringat dingin. Air bening itu menetes dan degupan jantungnya semakin cepat.


"Sayang, jangan takut ada Daddy Domi dan Daddy Jho. Kita akan membawa mu pulang."


Dor


Velli menutupi kedua telinganya dengan kedua tangannya. "Velli, di sini jangan kemana-mana." ucap Dominic. Dia mengintip dan Jhonatan serta Kendrix mulai saling serang.


Beberapa tembakan Dominic tak meleset, Jhonatan yang melihat putrinya menggigil ketakutan pun berpindah-pindah, tentunya dengan suara tembakan yang menghiasi gedung berlantai tiga itu.


"Daddy!" teriak Velli melihat Jhonatan. Tanpa sadar Velli berdiri, dengan sigap Dominic menjadikan tubuhnya sebagai tameng dan satu tembakan menusuk tubuhnya.


Sedangkan Jhonatan dia langsung berlari dan menembak beberapa orang pada mereka.

__ADS_1


__ADS_2