
Di tempat lain.
Bella begitu senang, dia duduk di ayunan yang menghadap ke laut, menunggu matahari terbenam. Saat-saat seperti ini, ia pernah lalui dengan Jhonatan, tapi kini semuanya terasa asing dan ia akan melewatinya semua waktunya dengan anaknya kelak.
"Aku merindukan ibu, tapi aku gak bisa pulang. Daddy pasti melarang ku," gumam Bella dengan menunduk lesu.
"Nyonya, cobalah dulu, saya beru kali ini melihat tuan Alexander murah senyum dan bicaranya banyak, saya tidak pernah melihatnya seperti saat ini."
Bella menoleh, hari-harinya di temani oleh ketua pelayan berkacamata itu yang selalu mengikutinya, bahkan kadang menjaganya saat tidur.
"Apa kau tahu hubungan Jhonatan dan tuan Alexander seperti apa?"
"Saya tidak yakin, tapi hubungan keduanya tidak begitu baik. Dulu saya pernah mendengar, kalau tuan Alexander menikah karena di jodohkan, semacam bisnis. Padahal saat itu tuan Alexander memiliki seorang kekasih."
"Selama ini tuan Alexander mencari kekasihnya, tapi tidak berhasil."
"Apa aku boleh tahu siapa nama kekasih?" tanya Bella, ia begitu penasaran dengan namanya.
"Saya kurang tau nyonya,"
Bella mengangguk, ia merasa kekasihnya itu penyebab perenggang hubungan tuan Alexander dan Jhonatan. Untunglah ia pergi, jadi ia tidak merenggangkan hubungan suami istri itu.
"Bi, lihat ... " Tunjuk Bella ke arah matahari yang hampir tenggelam. "Indah kan,"
"Iya Nya,"
Drt
Bella menoleh ke sampingnya, ia mengambil ponselnya yang beberapa hari lalu di belikan oleh tuan Alexander, Theo yang mengirimnya.
Ponsel dengan harga puluhan juta itu membuatnya tercengang, jika di bandingkan dengan pendapatannya menjadi pembantu, dia bisa makan sampai satu tahun.
__ADS_1
"Iya Dad,"
"Bella, apa kau makan dengan baik? aku mencari informasi kalau ibu hamil tidak enak makan atau kau ingin sesuatu?" tanya tuan Alexander. Ketika Jhonatan masih ada di dalam perut, istrinya selalu ingin makan aneh-aneh.
"Kalau mual, tidak Dad."
"Menginginkan sesuatu?" tanya tuan Alexander lagi.
"Iya, kadang Dad."
"Sekarang kau menginginkan apa?"
"Aku, aku ingin mangga yang kecil-kecil itu Dad," ucap Bella sambil membayangkan makan buang mangga yang masih kecil dengan garam, micin dan cabe. Apa pun yang ia mau, ia akan mengatakannya tanpa ragu.
"Baiklah, aku akan menyuruh Theo mengirimkan mangga yang belum masak dan masih kecil, apa tidak ada yang kamu inginkan lagi?"
"Tidak Dad,"
##
Sedangkan Dominic, pria itu tengah memandang sebuah berlian di depannya. Sebuah kalung berlian yang ia khususkan untuk Bella, di bandrol dengan harga yang fantastis. Tidak tanggung-tanggung ia membeli kalung itu sebagai awal hubungannya dengan Bella.
"Bagaimana tuan?" tanya Marvin.
"Berlian berwarna biru, cocok untuknya."
"Jangan lupa kau harus menyiapkan beberapa gaun."
"Baik tuan," ucap Marvin. Dia pun berlalu pergi dan akan melanjutkan pekerjaan selanjutnya.
"Aku tidak sabar menunggu besok, yang pertama-tama aku harus mematahkan hati tuan Alexander dulu," ucap Dominic tersenyum.
__ADS_1
Tak terasa, waktu terus berjalan layaknya air yang terus mengalir. Tak peduli jika pun di hadang oleh batu, air itu akan mencari celah terus mengalir. Seperti halnya Dominic, dia menyisir rambutnya, menatap tubuhnya di cermin, dagunya yang telah ia bersihkan dan mata bak elang berpanduan turki dan amerika.
Dia menaruh sisirnya, kemudian mengambil dasi berwarna navy, setelah itu tuxedo hitam dan jas yang melekat di tubuhnya.
"Saatnya mengejar calon istri,"
Dominic mengedipkan sebelah matanya dan sebelah tangannya seperti pistol yang menembak cermin di depannya.
###
"Tuan, tuan Dominic sudah datang."
Tuan Alexander mengangkat wajahnya ke arah pintu, ia melihat Dominic dan dua pengawalnya yang masuk dan masing-masing membawa sebuah kotak.
"Semat pagi calon Daddy mertua." Sapa Dominic dengan tersenyum lebar, dia duduk berhadapan dengan tuan Alexander yang menatapnya datar.
"Kalian,"
Marvin dan salah satu bodyguard itu maju dan menaruh dua kotak itu di hadapan tuan Alexander.
"Apa mau mu?"
"Ingin dekat dengan putri anda," ucap Dominic tersenyum lebar.
"Aku bisa membelikan apa pun untuk Bella, tidak perlu hadiah atau bawaan dari mu," ucap tuan Alexander. Sebagai seorang ayah, ia akan bersikap tegas jika menyangkut putrinya.
"Em, begini tuan, aku rasa gaun dan kalung ini sangat cocok untuk nona Bella, jadi aku memberikannya sebagai tanda persahabatan."
"Dia tidak butuh sahabat."
"Lamaran mu, aku tolak," ucap tuan Alexander. Dia kembali membaca dokumennya tanpa melihat wajah Dominic yang seperti setan kecebur air.
__ADS_1