Gundik Sang Mafia

Gundik Sang Mafia
#65 : Jadikan Ini Masa Lalu Mu, Jho


__ADS_3

Jhonatan menutup pintu ruang kerjanya dengan kasar, ia mengepalkan kedua tangannya dengan kuat, hingga kukunya menancap di kulitnya dan darah segar langsung keluar begitu saja dan mengeratkan giginya.


Perlahan tubuhnya merosot ke bawah, ia menekuk kedua lututnya, menatap lurus ke depan dan air mata mengalir begitu saja.


Kau akan merasakan apa yang aku rasakan? bagaimana sakitnya


Jhonatan semakin terisak, di masa lalu dengan mudahnya ia berkata, lupakan saja masa lalu, ternyata tidak mudah. Bahkan ayahnya sudah mengorbankan semuanya demi membahagiakannya dan sang ibu. Apa yang ia inginkan ayahnya selalu menurutinya, tapi hanya saat sang ibu menangis, baru ia mengerti dan terikat sebuah perjanjian, namun ia mengingkarinya.


"Sakit,"


Jhonatan menepuk pelan dadanya yang sangat sesak, bahkan ia sangat sulit menghembuskan nafasnya. "Apa ini yang di rasakan Daddy waktu itu, tatapannya ..."


Jhonatan mengingat tatapan sang ayah, kecewa dan kesedihan yang mendalam. Semuanya semakin merenggang saat ia menerima Gladies dalam hidupnya, padahal dulu, secinta-cintanya sang ayah pada kekasih masa lalunya, tapi pria itu masih melakukan ibunya dengan baik, hanya cinta yang tak bisa ia berikan, namun sang ayah tetap menghargai ibunya, meskipun sikap dingin itu selalu menghiasi wajahnya, tapi hatinya sangat baik.


"Maafkan aku, Dad. Aku mengerti, kini aku mengerti. Aku gagal Dad, aku takut ... "


Kedua bahunya bergetar semakin menangis, ia ingin berteriak dan mengatakan kalau hatinya sudah tidak kuat lagi. Dia pun menghubungi Jack dan akan melakukan penerbangan besok pagi, ia tidak sabar ingin bertemu dengan Daddynya.


"Mom, aku sendiri, aku ingin melihat mu. Aku takut Mom,"


*Jho, cintailah orang yang mencintai mu, jangan sampai kau melepaskan dia, karena sangat sulit mendapatkan orang yang mencintai kita.


Mommy, selalu menemani mu, Nak. Maafkan Mommy yang tidak bisa membahagiakan mu, Mommy titip Daddy mu, bahagiakan dia, turuti apa perintahnya dan kemauannya, karena dia sudah berkorban untuk kita, jangan pernah mengecewakannya, karena kita selalu mengecewakannya*.


Jhonatan menutup kedua telinganya, hatinya hancur luluh lantah, perkataan sang Mommy menambah kesakitan yang semakin menusuk itu, bayangan sang ayah yang tersenyum dan bayangan Bella yang tersenyum.

__ADS_1


Tok! tok! tok!


Gladies mengetuk pintu ruang kerja suaminya, tadi ia menyusul ke kamarnya, namun tidak ada Jhonatan. Dia langsung ke ruang kerjanya, karena ia yakin, suaminya berada di ruang kerjanya.


"Honey, kau di dalam?"


Tidak ada sahutan, Gladies pun memanggil nama sang suami, dia memutar handle pintu itu. "Honey, kau di dalam?"


Gladies menelusuri ruang kerja suaminya, namun tidak melihat suaminya atau bayangannya. "Kemana dia?" gumam Gladies. Dia pun berbalik dan melanjutkan pencariannya. Gladies pun mencari suaminya di bantu oleh bibi Su di luar.


Sedangkan Jhonatan, pria itu merengkuh di bawah lantai, dekat sofa. Dia berniat bersembunyi karena tidak ingin membuat Gladies tau kalau ia sedang menangis. Apa lagi ia belum siap mengatakan semuanya.


"Daddy, Mommy, aku merindukan kalian."


Sedangkan di tempat lain.


"Aku berusaha melupakan mu, tapi aku tidak bisa. Seandainya aku masih di beri kesempatan untuk menemui mu, mungkin aku tidak semenyesal ini. Aku meninggalkan mu tanpa sepatah kata apa pun." tuan Alexander meraba foto wanita yang tersenyum itu dan dia beralih ke foto satunya.


"Terima kasih telah bersabar menerima ku, aku tahu hati mu kuat. Maaf, aku membuat Jhonatan sedih, tapi aku tidak suka dengan pemikirannya. Kali ini aku memang benar-benar merestui hubungan mereka, mungkin Jhonatan bahagia dengan Gladies, jadi aku tidak akan mencampuri urusan mereka lagi dan maaf, aku harus menjaga Bella anak kekasih masa lalu ku sekaligus menantu ku, aku tidak tahu ini benar atau tidak, tapi aku menuruti keinginan hati ku."


"Hah!"


"Kau sebentar lagi memiliki cucu, tapi cucu itu dari anak masa lalu ku. Aku tidak tau, permainan apa ini? tapi aku hanya berusaha yang terbaik."


"Jhonatan, maafkan Daddy, bukannya Daddy membenci mu, Nak. Tapi Daddy kecewa pada mu, bukan karena kau tidak bisa menemukannya, Daddy masih bersabar, tapi saat kau membela Gladies, itu yang membuat ku sakit. Aku ingin kau bahagia Jhonatan, berbahagialah dan biarkan Bella bahagia, maaf aku harus menyembunyikannya."

__ADS_1


Jauh dari lubuk hati tuan Alexander, ia tidak menginginkan semua ini, tapi inilah jalan yang harus ia tempuh dan sekarang, ia hanya akan fokus pada Bella dan cucunya saja, tapi kalau Jhonatan berniat menyakiti Bella, ia tidak bisa, sudah cukup ayahnya menyakiti ibunya di masa lalu.


Drt


"Daddy,"


Tuan Alexander mendengarkan isakan tangis di seberang sana. "Iya," jawab tuan Alexander. Dia berusaha menjawab walaupun bibirnya sangat sulit di gerakkan.


"Maafkan aku Dad,"


"Seorang ayah selalu memaafkan anaknya, bukan?"


"Maafkan aku yang selalu menentang Daddy,"


"Daddy memaafkan mu, Jho."


Jhonatan mengusap air matanya. "Aku ingin minta bantuan Daddy, tolong bantu aku cari Bella, dia sedang hamil Dad. Aku tahu aku salah, dengan mudahnya aku meremehkan masa lalu Daddy, tapi sekarang aku merasakannya Dad, ini terlalu menyakitkan. Aku mohon, bantu aku Dad mencari Bella."


"Maafkan aku, Jho. Aku tidak bisa, ini terbaik untuk kalian."


"Jadikan ini masa lalu, raihlah kebahagiaan mu dengan Gladies. Aku sadar, aku bukan ayah yang baik, tapi ketahuilah, semuanya aku lakukan demi kebaikan mu, sampai jumpa di pesta nanti."


###


"Kak, kapan Bella melahirkan?"

__ADS_1


"Ini masih proses bestie, alurnya harus pas dulu. Kalau boro-boro melahirkan, akan ada alur yang kelewat." 😊😊🤭🙏


__ADS_2