
Frank mengumpat dengan kasar, sepanjang perjalanan bon cabe di mulutnya ia lontarkan atas nama Jhonatan dan ayahnya. Dua manusia yang di ciptakan dari bumi dan menyemburkan apinya. Sama-sama menyebalkan dan bersikap enaknya sendiri.
Berkali-kali pria itu memukul stirnya, kadang dengan usil membunyikan mobilnya padahal jalanan di malam hari tidak terlalu padat.
"Tidak anak, tidak bapak, sama-sama monster tukang rusuh hidup orang. Di kira peri apa, langsung cut datang deh." Dia mengepresikan dengan wajah gemas dan tersenyum dan membuat kekesalannya bertambah.
Frank menekan klakson mobilnya dan pintu gerbang itu pun di buka oleh kedua orang. Dia menekan kembali gasnya dan memarkir di tempat parkir.
"Sekiranya aku di kasik mobil mewah ini, aku tidak akan pernah mengumpat hidupnya," ucap Frank. Dia melihat mobil berkelas atas dan harganya bisa ratusan juta dan miliaran.
"Tuan Frank selamat datang, tuan Jho .. "
"Sudah tau," sanggah Frank memotong perkataan bibi Su, dan wanita itu diam, mengekori tubuh Frank.
Dia membuka pintu itu dan mendengarkan suara Frank di kamar mandi, segera ia langkahkan kedua kakinya dan melihat Frank yang ingin muntah di atas wastafel.
Dia bersandar di tepi pintu dan melihat laki-laki itu tengah mencuci mulutnya, sesekali ia meludah dan menghapus keringat di dahinya.
"Apa dia ... " gumam Frank. Dia pun menghampiri sahabatnya itu. "Kau kenapa?" tanya Frank.
"Aku mabuk, sepertinya aku salah makan. Perut ku seperti di giling."
Frank melirik ke kanan, seolah memikirkan sesuatu. "Aku akan memeriksa mu,"
"Frank kau bau sekali,"
"What?" Frank malah menarik sebelah sudut bibirnya, ingin sekali ia mencakar Jhonatan, sepertinya bukan hanya perutnya yang rusak, tapi hidungnya.
"Kau gila Jho, aku orang suka kebersihan, bahkan aku mandi kembang tujuh rupa," ucap Frank dengan menunjukkan jarinya. "Sudahlah, aku tidak akan berdebat dengan orang yang bermasalah seperti mu."
__ADS_1
Jhonatan ingin menanggapi, tapi ia berusaha menahan mulutnya yang terus ingin memuntahkan sesuatu. "Periksa aku, dan cepat pergi."
"Siapa juga yang mau berlama-lama dengan mu, junior ku masih waras."
Plak
Jhonatan memukul kepala Frank dengan kasar, juniornya juga masih waras, tidak mungkin dia menyukai junior.
Frank menghembuskan nafasnya dari mulutnya, percuma ia berdebat dengan Jhonatan yang tidak mau mengalah.
"Bagaimana dengan keadaan ku?" tanya Jhonatan.
Dan Frank menduganya, tapi ia tidak bisa mengatakannya, karena ia masih sayang dengan lehernya. "Kau hanya masuk angin, aku akan memberikan pereda obatnya."
Percuma kau mau berobat ke Dokter mana pun Jho, anggap saja itu derita lho batin Frank tertawa geli.
"Kalau masih muntah dalam waktu beberapa hari, sebaiknya kau cek saja ke Dokter lain atau aku sarankan kau menginap saja di rumah sakit," ucap Frank. Dia ingin mengerjai Jhonatan dan berpikir kalau dia memiliki penyakit serius.
"O iya, apa akhir-akhir ini kau merasakan keinginan sesuatu, misalkan makanan atau yang lainya?" tanya Frank. Sekali lagi dia memastikan bahwa dugaannya benar. Kalau benar, ia akan bersyukur sambil bersujud.
"Iya, tapi aku baru kali ini mual. Apa lagi sekarang aku ingin makan yang pedas, em Seblak,"
Bibi Su mengerutkan dahinya, perkataan tuannya bagaikan orang yang lagi ngidam.
"Bibi Su, tolong beritahu Bella aku butuh air hangat." Kelakarnya, ia menyeret sedikit tubuhnya dan bersandar di kepala ranjang dengan sandaran satu bantal di punggungnya.
Bibi Su melirik Frank, keduanya saling tatap dan kedua mata orang itu saling menyapa.
*Dimana Bella? tanya Frank lewat kedua matanya.
__ADS_1
Dia sudah pergi, jawab bibi Su sambil melirik ke arah pintu*
"Baik tuan, biar saya saja yang akan membawakannya."
"Aku ingin Bella yang melayani ku, dan kau Frank, cepat pergi sana. Hidung ku tidak kuat lagi mencium bau tubuh mu," ucap Jhonatan.
Frank mendengus kesal, dia pun berbalik tanpa pamit pada Jhonatan dan melenggang. Sampai di sofa dia duduk dan menunggu kedatangan bibi Su.
"Nyonya Bella, dia emm ... dia telah pergi dan di bawa oleh tuan Besar, tuan," ucap bibi Su.
Tubuh Jhonatan sedikit menegak, kedua bola matanya melebar sempurna. Ritme jantungnya bedegup dengan cepat, seakan jantungnya akan lepas dari tempatnya.
"Nyonya Bella telah di bawa oleh tuan besar, tuan. Tapi, tuan besar tidak mengatakan apa pun hanya ingin menjadikan nyonya Bella pelayan pribadinya saja karena merasa cocok dengan pelayanannya.
Jhonatan menyibak selimutnya, dua berdiri tegak tepat di depan bibi Su. Wanita itu menunduk takut, padahal hatinya tadi mengatakan akan baik-baik saja, apa lagi tuannya tidak menyukai istri mudanya itu.
"Kenapa kau baru mengatakannya sekarang?" teriak Jhonatan dengan keras, seakan membuat dinding di sekelilingnya runtuh. Nafasnya sangat berat dan ia takut terjadi sesuatu pada Bella.
Tanpa memperdulikan bibi Su yang gemetar ketakutan, dia meraih ponselnya di atas nakasnya dan memencet nomor sang Daddy.
"Oh ****! kenapa tidak bisa di hubungi?"
Sekali lagi ia menekan nomor yang sama, namun hanya suara operator yang menjawabnya.
"Kau harus mempertanggung jawabkan semua ini," sarkas Jhonatan dengan tajam. Dia pun menarik bibi Su dengan kasar, hingga menuruni anak tangga dan kemudian melemparkannya ke lantai.
"Tuan, tuan, saya mohon ampun tuan," seru bibi Su. Dia merangkak dan memegang kedua kaki Jhonatan.
Jhonatan, pria itu berdecak pinggang dan dadanya naik turun, mengeluarkan amarahnya.
__ADS_1
Frank yang mendekat, ia begitu syok melihat Jhonatan yang sangat marah, bahkan tidak memandang bibi Su, orang yang merawatnya sejak kecil.