Gundik Sang Mafia

Gundik Sang Mafia
#71 : Karma Masa Lalu


__ADS_3

Tuan Alexander menggelengkan kepalanya yang terasa pusing. Dia pun melangkah sambil di ikuti oleh Theo. Pria itu baru saja sampai setelah melakukan penerbangan untuk melihat keadaan Bella dan calon penerus AE Grup, milik tuan Alexander.


"Bagaimana keadaannya Theo?" tanya tuan Alexander.


"Nyonya baik-baik saja tuan, Dokter yang di tugaskan untuk menjaga nyonya keadaannya dan keadaan calon penerus tuan sangat sehat. Namun, masih belum bisa kita lihat apakah laki-laki atau perempuan."


Tuan Alexander mengangguk paham.


"Dia menanyakan tuan?"


Tuan Alexander mendesah, tentu saja ia merindukan putrinya itu, tapi sayang, keadaan sekarang tidak memungkinkan.


"Tapi saya menjelaskan kalau tuan memiliki banyak pekerjaan,"


"Daddy,"


Tuan Alexander menoleh bersamaan dengan Theo. Kedua pria itu melihat Gladies yang turun dari anak tangga dan sedang menghampirinya. Gladies sekilas menatap Theo, kemudian beralih pada tuan Alexander.


"Apa Daddy sibuk? bisa kita bicara?"

__ADS_1


Tuan Alexander mengangguk, kemudian memerintahkan Gladies mengikutinya ke taman depan dan wanita itu mengekorinya. Tuan Alexander pun duduk di sebuah bangku taman, sedangkan Gladies memilih berdiri di sampingnya.


"Apa ... " Gladies meremas dresnya, rasa takut menyelimutinya. Ia takut salah bicara dan sang Daddy tidak lagi menerimanya.


"Katakan,"


"Apa Daddy tidak sayang pada Jhonatan?"


Tuan Alexander sekilas melirik Gladies, wajah itu terlihat takut dan terlihat gugup, namun wanita itu memberanikan diri menatapnya.


"Seorang ayah pasti menyayangi anaknya,"


"Kau memerintahkan aku menyukai Jhonatan? dari dulu aku menyukainya, tidak sedikit pun aku membencinya, hanya saja dia mengecewakan ku, tentu saja kau sudah tau alasannya, yaitu dirimu," ucap tuan Alexander sambil menatap tajam. "Kau merasa suami mu tersakiti, aku juga merasakan sakitnya."


Gladies menunduk, semuanya salahnya? tapi apa salahnya kalau ia mencintai Jhonatan begitu pun dirinya.


"Aku menyukai Jhonatan Dad, begitu pun sebaliknya."


"Karena aku miskin Daddy tidak menyukai ku atau karena lainnya."

__ADS_1


"Kau melupakan masa lalu, miskin karena tidak kesukaan ku hanyalah perkataan semata, tidak mungkin aku mengatakan hal yang mencoreng nama baik ku. Kau dan Jhonatan sama saja, pantas Tuhan tidak akan memberikan kalian keturunan, karena sebuah masa lalu."


Gladies semakin mengeratkan kepalan di tangannya. Dadanya naik turun menahan sesak.


"Kau sudah melupakan kejadian bertahun-tahun."


"Dad! apa yang Daddy lakukan pada Gladies?" tanya Jhonatan. Dia langsung merangkul tubuh istrinya. Mendekapknya dengan erat dam Gladies semakin terisak di dalam pelukan Jhonatan.


"Untunglah kau datang, jadi kau tau kemana pembicaraan ku."


"Apa yang Daddy lakukan pada Gladies? apa Daddy tidak puas menyakiti ku?" geram Jhonatan. Dia mengingat penolakan sang ayah dan pria itu masih tertawa di atas penderitaannya.


Tuan Alexander berdiri, tangan kekarnya pun langsung menghunus ke arah pipi Jhonatan. Pria itu merasakan panas dan nyeri di bagian pipinya.


"Kalau kau datang kesini hanya menyakiti Daddy, lebih baik kau pergi Jho. Kau dan istri mu sama saja, minta maaf tapi mengulanginya lagi. Kau tahu kenapa saat ini kau belum di berikan keturunan? masa lalu, kau tidak ingat apa yang kau lakukan seseorang dan juga istri mu? hah," tuan Alexander tertawa mengejek. "Bahkan, walaupun kau memiliki keturunan, bisa saja dia pergi. Kau tidak melupakan semua keburukan mu kan? aku memang bukan ayah yang baik, tapi aku berusaha menjadi ayah dan mertua yang baik, sedangkan kau?" tunjuk tuan Alexander tepat di wajah Jhonatan.


"Ibu mu juga akan kecewa dengan sikap mu ini Jho."


"Anggap saja, ini perbuatan kalian di masa lalu."

__ADS_1


Tuan Alexander pun melenggang pergi, sedangkan Jhonatan dia pun mematung dan melepaskan Gladies yang memeluknya. Ucapan sang Daddy mengingatkannya di masa lalu, ia kini tahu, kenapa dia merasakan semua ini.


__ADS_2