
Jhonatan ingin tersenyum, tertawa bahagia.Ia senang karena di karunia dua anak, tapi ia takut, kedua anaknya membencinya.
Hiks
"Tuan," sapa Jack.
Jhonatan langsung memeluk Jack, ia memeluk erat pria itu, bahkan Jack merasa kehabisan nafas.
"Aku memiliki sepasang anak Jack, aku akan bertemu dengan mereka." Jhonatan melepaskan pelukannya. "Ayo kita pulang Jack, aku harus mengatakannya pada Gladies, ayah ku akan berkunjung."
"Baik Tuan," ucap Jack, ia sudah menebak apa yang akan terjadi besok, tapi kebohongan ini tidak akan baik jika terlalu lama di lanjutkan.
Jack mempercepat laju mobilnya, bahkan sang bos menyuruhnya mempercepat lajuannya, padahal menurutnya, ia telah menyetir dengan kecepatan tinggi. Sebagai seorang ayah yang tidak bertemu selama bertahun-tahun, ia paham betapa sang bos merindukan sang nyonya, tapi masih sempurna menyimpan rahasia. Bahkan tida ada penjaga atau pelayan yang angkat bicara, apa lagi Ana dan Ani, wanita kembar itu, acuh tak acuh.
Sesampainya di rumah, Jhonatan berlari ke arah dapur, bahkan Gladies yang meneriaki namanya, tidak di hiraukan.
"Bibi Su, Bibi Su!" teriak Jhonatan menggelegar di dapur. Semua orang pun menoleh, mereka langsung menghentikan acara memasak makan siang.
"Iya Tuan, ada apa?" tanya Bibi Su keheranan. Baru kali ini ia melihat sinar binar di kedua mata sang majikan setelah bertahun-tahun lamanya.
"Besok pagi siapkan makana yang enak, ayah akan berkunjung," ucapnya sambil tersenyum, kedua sudut mulutnya tertarik ke atas dengan lebar.
Bibi Su tersenyum senang, setelah sekian lama, akhirnya majikan besarnya berkunjung. Ia berharap, hubungan ayah dan anak bisa di perbaiki.
"Tolong kamu siapkan udang kecil dan loobster." Titah Jhonatan.
Gladies menahan amarahnya, ia tidak suka papa mertuanya berkunjung, pasti yang akan di bahas apa yang tidak perlu dan akan menimbulkan masalah lagi, sudah cukup di masa lalu ayah mertuanya membuat Jhonatan berubah sampai sekarang.
"Apa yang di lakukan Daddy? apa dia akan merusak kembali?"
Jhonatan menoleh dan melihat Gladies bersendekap. Ia tahu, istrinya itu belum menerima sang ayah, tapi baginya, menemukan Bella dan kedua anaknya, ia merasa memiliki hutang budi.
"Gla, apa yang kau bicarakan? Daddy berkunjung kesini dan mungkin ada satu hal yang ingin dia sampaikan."
__ADS_1
"Masalah Austin, aku rasa Daddy mu terlalu ikut campur."
"Gla! Daddy ikut campur demi kebaikan ku, demi kebaikan kita. Apa kamu tidak memikirkan apa yang terjadi dengan kita, aku merasa ada sangkut pautnya dengan masa lalu dan besok, kamu harus mengetahui satu hal. Kau akan tahu," ucap Jhonatan, dia langsung pergi meninggalkan Gladies dan wanita itu membalikkan tubuhnya sambil berteriak nama Jhonatan.
Ia merasa begitu sial memiliki seorang ayah yang terlalu ikut campur. Ia ingin hidup tenang tanpa ada bayangan sang ayah mertua.
"Entah apa yang akan terjadi besok, pasti akan terjadi masalah baru. Aku yakin, ayah mertua ku itu, pasti akan membuat masalah, hah!"
Keesokan harinya.
Sebuah hari yang di tunggu-tunggu dalam kehidupan Jhonatan, pria itu bangun pagi-pagi sekali, tepat jam 3, dia telah terbangun dan merasa waktu berjalan dengan sangat lambat. Dia mondar-mandir di balkon, sambil tersenyum dan akan melihat Bella sekaligus kedua anaknya. Ia tidak sabar, ia ingin memeluk mereka. Bertahun-tahun ia menunggu hari ini, hari yang merupakan paling bersejarah di hidupnya.
Dia pun menatap pantulan wajahnya di cermin, bulu halus di jakunnya pun ia bersihkan dan sekarang tinggal memakai kaos biasa, kaos santai yang Bella pernah membelikannya untuknya, ia akan memakai kaos itu sebagai tanda pengingat untuk Bella.
Tadi pagi ia melihat sebuah kaos yang Familiar di laci lemarinya, dan tanpa sadar ia mengingat kaos itu, hatinya begitu senang, ternyata masih ada peninggalan Bella yang belum ia sadari. Ia pikir, ia hanya memiliki foto Bella saja.
"Jho,"
Gladies menatap suaminya, dia memakai kaos berwarna merah dan ada gambar sebuah kata 'Daddy'. "Dari mana kau mendapatkan kaos ini? aku tidak pernah melihatnya," ucap Gladies. Dia memang jarang menyentuh pakaian suamianya, paling yang ia sentuh hanyalah dasi sang suami.
Sedangkan Gladies, ia merasa ada sesuatu yang aneh pada suaminya. Tidak biasanya suaminya memakai kaos yang tak pernah ia belikan, biasanya suaminya itu akan selalu meminta dirinya yang akan membelikannya. Dia pun bergegas bersiap-siap dan terpaksa akan menyambut sang ayah mertua.
Sedangkan Bella.
Wanita itu memilih diam, sepanjang perjalanan ia hanya diam, melihat ke luar jendela. Ia membiarkan anak-anaknya menempel pada Dominic yang duduk di sebelahnya. Ia sama sekali tak berniat berbicara, ketika anaknya menanyakan sesuatu, ia hanya menjawab sekilas saja. Jantungnya berdebar-debar, takut, sakit dan marah, kini bercampur aduk menjadi satu.
Ia datang bukan untuk kembali, ia hanya ingin anaknya memiliki status dan tidak pernah berniat menghancurkan pernikahan Gladies dan Jhonatan. Setelah ini, ia akan kembali ke Itali atau Prancis, karena di sanalah tujuannya.
Tanpa terasa, mobil putih itu telah melewati halaman depan. Mobil yang di tumpangi tuan Alexander telah berhenti dan kemudian di ikuti mobil yang di tumpangi Bella dan Dominic.
Bella sangat gugup, ia sejenak menghembuskan nafasnya yang tak teratur itu, dia pun membuka pintu mobil itu, sedangkan ia menggandeng tangan Vello dan Velli yang di gendong Dominic.
"Bella, Daddy ingin kau mempersipkan mental mu."
__ADS_1
Bella mengangguk, sedangkan Dominic, ia memilih diam. Ia pasrah dengan apa yang terjadi kedepannya.
"Tuan,"
Bibi Su, Ana dan Ani tercengang dengan seseorang yang berada di belakang tuan Alexander. Sejak tadi mereka menunduk dan menunggu kedatangan tuan Alexander.
Bibi Su pun menatap bocah kecil yang di gandeng Bella, lalu beralih pada Velli. Mulutnya tak bisa mengatakan sepatah kata apa pun.
"Bella!" Ana dan Ani langsung memeluk Bella, mereka berpelukan erat, kemudian melepaskan pelukan itu.
"Bella, apa ini anak mu?" tanya Ani.
"Dia putra pertama ku, Vello dan ini Velli, aku memiliki anak kembar."
"Wah," kedua wanita itu begitu senang. Sedangkan tuan Alexander, dia membiarkan ketiga wanita itu bernostalgia dan masuk ke dalam.
"Daddy," sapa Jhonatan. Dia memeluk tuan Alexander dan menangis dalam pelukannya. "Terima kasih Dad,
"Maafkan Daddy, Jho."
Jhonatan melepaskan pelukannya dan tuan Alexander memberikan celah, dia melangkah ke samping dan memperlihatkan Bella serta kedua anaknya yang telah masuk.
Jedar
Satu kali tatapan itu bagaikan pedang yang menghunusnya, ia tidak mengerti dengan apa yang ada di depannya. Sebuah pemandangan yang seakan mereka adalah keluarga harmonis.
"Dia putra mu dan putri mu,"
Bella berhenti tepat di depan Jhonatan dengan menggenggam sebuah tangan kecil. Di depan Jhonatan, Bella tampak beda, auranya berbeda, seakan ia baru pertama kalinya melihat Bella. Wanita itu kini tampak cantik elegan.
Jhonatan melangkah ingin memeluk Bella, namun Bella melangkah mundur dan menggeleng pelan. Hatinya begitu sakit melihat penolakan istri keduanya. Secepat mungkin dia menghapus air matanya. Lalu berjongkok.
"Hay," sapa Jhonatan dengan suara tercekat. Bocah kecil dia depannya bagaikan cetakan wajahnya, sangat mirip. Kedua bibirnya bergetar, ia langsung memeluk bocah di hadapannya. Sedangkan Bella, malah membuang wajahnya.
__ADS_1
"Daddy, bukankah itu om garang."
Dominic mencium pipi tembem Velli dan kedua matanya pun mengembum.