
Bella memangku Velli yang duduk di atas pahanya, sering kali dia mencium kening Velli bertubi-tubi, kadang air matanya mengalir mengingat dua pria yang tengah berjuang antara hidup dan mati. Kedua pria itu lah yang menyelamatkan Velli, kini tinggal Vello yang belum di temukan. Menurut salah satu pengawal tadi yang telah di siksa habis-habisan, ternyata Vello di bawa ke Inggris.
Sedangkan Kendrix telah tewas di tangan kedua pria yang terbaring lemah di meja operasi.
Marvin menyandarkan kepalanya ke dinding sambil memejamkan kedua matanya, sedangkan Jack berada di samping Gladies menjaga wanita itu agar tidak tumbang.
Sedangkan Theo, pria itu bersandar ke dinding, membungkuk sedikit, tangan kanannya berada di depan dadanya dan menyanggah tangan kirinya yang sedang menekan pelipisnya.
Semua orang pun sangat khawatir dengan keadaan kedua orang di dalam ruangan operasi itu.
"Tuan Dominic ingin menyelamatkan Nona Velli, sedangkan Tuan Jhonatan ingin menyelamatkan tuan Dominic dan Nona Velli."
Kedua mata Bella seakan tidak bisa di gerakkan kembali, mata panas dan bengkak itu terus saja mengalirkan air bening. Dia ketakutan, apa lagi mengingat perjuangan mereka. Semuanya ingin menyelamatkan Velli.
Bibirnya kembali bergetar dan menangis, ia kembali mencium kening Velli.
Lain halnya dengan Gladies, dia terus mengusap kedua matanya, dia beranjak berdiri di depan pintu ruangan Jhonatan sambil melihat lampu yang menyala itu.
Frank keluar dari ruang operasi Jhonatan, dia membuka maskernya dan menatap Gladies.
"Dia baik-baik saja?" tanya Gladies.
"Berdoalah," ucap Frank sambil memegang bahu Gladies. Wanita itu semakin terisak, hatinya begitu sakit hingga ia tidak bisa menahan lagi dan jatuh tumbang.
__ADS_1
"Nyonya!" pekik Jack.
"Bawa dia ke ruangan pasien," titah Frank pada Jack.
Pria itu pun membopong Gladies ke ruang pasien. Sedangkan Bella, tubuhnya semakin bergetar hebat. Satu sisi ia memikirkan kedua pria yang bertaruh nyawa itu dan satu sisi dia memikirkan sang mertua sekaligus putranya.
"Bagaimana keadaanya?" tanya Frank yang melihat sahabatnya keluar dari ruangan operasi.
"Lukanya sangat dalam, kalau dia mampu melewati masa kritisnya kali ini, berarti Tuhan masih memberikan kesempatan,"
"Apa hidup ku memang menjadi duri?" Bella tersenyum pahit. Ia selalu bertanya-tanya, kenapa hidupnya selalu membuat orang lain menderita.
"Sebaiknya Nyonya beristirahat," ucap Theo.
Marvin pun menghampiri Bella. "Benar Nyonya, tolong jaga kesehatan Nyonya."
Velli yang tengah tertidur pulas pun membuka kedua matanya. "Kenapa Mommy menangis? apa terjadi sesuatu pada Daddy Jho dan Daddy Dominic? apa mereka akan meninggalkan kita?"
Bella tak menjawab, ia tidak mampu mengatakan apa pun. Dadanya dan hatinya sangat teriris, ia sangat ketakutan menghadapi kenyataan.
"Nona Velli, apa ingin saya gendong," ucap Jack. Dia menawarkan diri karena melihat sang Nyonya yang tengah menangis dan bocah kecil itu pun mengangguk.
Velli mengulurkan kedua tangannya dan di sambut oleh Jack. "Saya akan membawa nona Velli keluar Nyonya," ijin Jack dan hanya di angguki oleh Bella.
__ADS_1
Jack pun membawa majikan mudanya keluar menuju ke basemant. Dia mengambil Jaket untuk menyelimuti tubuh Velli.
***
Bella memasuki sebuah ruangan, dia menatap pria yang tengah tertidur pulas itu. Beberapa selang menempel di tubuhnya. Sebuah jahitan di keningnya dan sudut bibirnya yang robek.
"Kau berjuang untuk kami sampai seperti ini? apa aku dan si Kembar sangat berarti untuk mu? selama ini kami belum bisa membahagiakan mu sedetik pun."
Tangan kanan Belle bergetar, dia mengerakkan ke arah tangan Dominic. "Kalau kau ingin melihat ku bahagia, maka bangunlah. Kami menunggu mu," lirihnya.
"Aku bersedia menikahi mu dan aku bersedia membahagiakan mu," ucap Bella di iringi tetesan air matanya.
"Si Kembar tidak ingin kehilangan mu, sama seperti diri ku. Kau pria yang baik, rasanya tidak adil kalau kau harua pergi seperti ini," imbuhnya.
Jarum jam kecil terus berputar, entah berapa jam dia beridiri menatap wajah Dominic. Hingga akhirnya dia memilih keluar.
"Aku akan menemui Jhonatan," ucap Bella pada Marvin.
Bella memejamkan kedua matanya untuk mendapatkan kekuatan, kekuatan kakinya terasa berat ia gerakkan, seluruh urat di tubuhnya seakan putus seketika.
"Kau tidak lelah seperti ini?" tanya Bella. Dia tersenyum kecil. Pria arogant yang sangat dingin dan bermuka datar itu kini terbaring, begitupun dengannya yang memiliki luka yang sama. Hanya saja, di wajahnya tidak tergores sedikit pun.
"Kemana pria tangguh dan pria dominan itu? katanya kau ingin membahagiakan si Kembar, lakukan lah." Bella menunduk erat, kemudian kembali mengangkat wajahnya.
__ADS_1
"Maaf, kalau selama ini aku menyakiti mu. Tapi rasanya tidak mungkin kita bersama setelah apa yang kita lalui, aku sudah menyerahkan mu pada Gladies. Wanita itulah yang akan menggantikan ku menjaga dirimu dan aku sekarang memiliki tugas untuk membahagiakan orang lain dan mencintainya, aku harap kau bangun dan melihat si Kembar tumbuh dewasa."
Bella menggerakkan tangannya ingin menyentuh tangan Jhonatan, namun ia menghentikannya dan tersenyum.