
Ada rasa yang menggelanyar aneh di dadanya, ia merasa tenang hanya dengan menatap kedua matanya, ia merasa seolah hatinya telah terikat.
"Tuan, apa perlu saya menyelidikinya?" tawar Jack. Ia pikir sang bos penasaran siapa anak yang tengah dekat dengan Dominic.
"Tidak perlu," ucap Jhonatan. Ia berharap, Tuhan mempertemukannya dengan Bella dan kembali melihat anaknya, entah seperti apa sekarang anaknya itu? perempuan atau laki-laki?
Ia pun pulang dengan hati yang terasa aneh, dia harus istirahat, menghilangkan penatnya. Karena esok, ia harus melakukan penerbangan ke Itali.
Sesampainya di rumahnya.
Jhonatan di sambut dengan Gladies dan menggendong anak kecil yang masih berumur 6 bulan. Setelah bujukan dari Gladies untuk mengadopsi anak. Akhirnya ia menyetujuinya.
"Daddy," sapa Gladies menirukan anak kecil. Dia menggerakkan bocah laki-laki itu seakan melambaikan tangan ke arah Jhonatan.
Jhonatan tersenyum, lalu mengelus pucuk kepalanya. Dia pun mengambil anak itu dari gendongan Gladies. "Hey, boy."
Jhonatan mencium pipi gembulnya dan membuat bocah itu terkekeh geli.
"Imutnya," ucap Gladies.
Jhonatan pun melirik istrinya. "Apa kau sudah tahu anak mu kemana?" tanya Jhonatan. Memang dia tidak mencari tahu putra sang istri, karena ia pikir Gladies telah mengetahuinya.
"Belum, aku belum menemukannya."
__ADS_1
"Carilah dia, terlepas dia mau menjadi anak kita itu terserah dia, yang penting aku berusaha menjadi ayah sambung yang baik. Walaupun aku tahu, dia tidak mungkin membutuhkan ku karena sudah memiliki ayah."
"Jho, sebaiknya kita fokus pada .. "
"Gladies, dia putra mu, tidak seharusnya kau membencinya, apa hati mu tidak bergerak sedikit pun?"
Gladies diam, ia masih mengingat penghinaan itu yang membuatnya enggan mengakuinya. "Dia butuh seorang ibu, kalau dia butuh seharusnya dia mendatangi ku."
"Seharusnya, kau yang mendatanginya, bukan anak mu, kau yang membutuhkannya."
"Honey, aku tidak ingin bertengkar," ucap Gladies. Dia mengambil putranya dari tangan Jhonatan dan berlalu pergi. Ia lelah harus bertengkar dengan Jhonatan dan masalahnya hanya itu-itu saja.
###
"Tapi Dad, bagaimana kalau?" Bella menghentikan ucapannya dan melirik putranya Vello yang tengah menggambar di tabletnya. Telinganya putranya sangat sensitif, otak cerdasnya yang bisa menebak itu membuat Bella kadang tidak mampu memberikan alasan yang tepat.
"Dia tidak mungkin mengetahuinya," ucap tuan Alexander. Dia melipat koran di tangannya, lalu menyeruput teh hangat yang telah di buat oleh tangan Bella sendiri. Apa pun yang Bella buat, ia sangat menyukainya, masakannya sama persis dengan ibunya.
Bella pun sudah mengetahuinya, ia menceritakan semuanya, awalanya Bella menolaknya karena takut di sangka memanfaatkannya, tapi ia bersikeras memohon, apa lagi Bella tidak bisa menolaknya, karena ia tahu, ia takut tidak mampu memenuhi kebutuhan anaknya.
"Sampai kapan Mommy akan merahasiakannya?" tanya Vello. Dia mengangkat wajahnya dan menatap sang ibu. Ia tahu kakek dan ibunya menyembunyikan sesuatu. Ia bisa mencium gelagat aneh sang ibu.
"Apa maksud mu Vello? siapa yang menyembunyikannya?" Bella melangkah, dia duduk di samping Vello.
__ADS_1
"Masalah Daddy ku?"
"Tenang saja, aku tidak akan meninggalkan Mommy," ucap Vello. Dia menggenggam tangan Bella.
Tuan Alexander mengelus kepala Vello. "Kau harus menjadi laki-laki yang kuat, yang kelak menjaga ibu dan adik mu."
"Tentu Kek, aku juga akan menjaga Kakek," ucap Vello.
"O iye Bella, kapan kau menerima Dominic?" tanya tuan Alexander. Bella berhak bahagia dan ada seseorang yang menjaganya serta anaknya. Dari dulu Bella selalu menolak, alasannya karena belum Jhonatan mentalaknya. "Kau hanya menikah siri dengannya? apa perlu aku mempertemukan kalian?" tawar tuan Alexander. "Dia sudah bahagia dengan Gladies dan sekarang mengadopsi anak, alasannya karena Daddy tidak mau dia seenaknya saja pada kedua anak mu. Kalau dia sampai memisahkan dirimu dan kedua anak mu, aku akan berusaha melindungi kalian."
"Apa Daddy ku bukan orang baik?" tanya Vello. Dia menoleh ke arah sang kakek.
Tuan Alexander tersenyum kecut, seandainya cucu pertamanya tahu, apa yang akan di lakukannya? ia yakin cucunya itu akan membenci ayahnya.
"Dia ... Dia ayah yang baik," ucap Bella sambil meremas kedua tangannya. Ia di luputi ketakutan, takut sewaktu-waktu putranya akan lengket dan takut Jhonatan akan mengambil anak-anaknya, meskipun sudah mendapatkan jaminan dari sang kakek, tapi bukan berarti ia tenang.
"Kalau dia ayah yang baik, dia tidak mungkin meninggalkan anaknya dan istrinya, bukan?"
Deg
Tuan Alexander tak mampu mengatakan apa pun, dadanya terasa sesak seperti di apit oleh dua batu. Ia malu mengatakan kebenarannya, tapi Bella selalu mengatakannya.
"Justru karena itu kakek selalu menyuruh ku menjaga ibu dan adik ku, kakek tidak menyuruh pun aku akan menjaga mereka dan tidak akan membiarkan Daddy ku menyakiti Mommy,"
__ADS_1
"Sayang," tuan Alexander langsung menarik Vello ke dalam pelukannya, ia menangis dengan perasaan yang amat menyesal, seharusnya anak-anak seumuran dia tengah bermain dengan kedua orang tuanya, menghabiskan waktu dengan orang tuanya.