Gundik Sang Mafia

Gundik Sang Mafia
#76 : Menjadi Pelayan Cinta


__ADS_3

Setelah membersihkan tubuhnya, Dominic keluar dari kamar mandi dengan bathrobe putih yang menutupi tubuhnya. Dia melangkah ke arah cermin, menatap wajahnya. Ia merasa wajahnya terlalu tampan, banyak wanita yang tergila-gila padanya, hanya saja, ia yang terlalu bodoh menyukainya mantan istrinya itu.


Sejak ia bertemu dengan Bella, ia merasa suasana baru, hidup baru dan awal yang baru.


Dia pun tersenyum, menyugar rambutnya yang basah.


Tok! tok! tok!


"Tuan, saya membawakan baju yang di pakai khusus untuk tuan," ucap Bibi.


Marvin yang berdiri di depan pintu terkekeh geli melihat pakaian itu, ia sampai memegangi perutnya yang terasa kram. Karena tidak kuat, ia duduk berjongkok di lantai dan menepuk lantai, ia tidak sabar melihat sang tuan memakai pakaian pelayan itu.


"Masuklah!"


Bibi memutar handle pintu itu, dia pun masuk dan membawa pakaian berwarna putih dan gelap itu. "Ini tuan,"


Dominic di buat terkejut, ia menatap tak percaya dengan apa di depannya. Ia membuka lipatan itu dan sungguh, jantungnya seakan copot.


"Ini, buat ku?" tanya Dominic, dia membuka lipatan lagi dan celana berwarna hitam.


"Benar tuan, tuan Alexander menyuruh saya memberikan tuan pakaian pelayan, bukankah tuan memang menjadi pelayan laki-laki di sini."


"Aku, aku bisa Bodyguard." Ucap Dominic terbata-bata.


"Oh syukurlah, sangat jarang seorang pelayan laki-laki bisa bela diri. Silahkan tuan mengantarkan kue untuk nyonya Bella,"


"Benarkah aku akan bertemu dengan Bella?" tanya Dominic. Setelah serangkaian acara, akhirnya ia bertemu dengan wanita pujaan hatinya.


"Benar tuan,"


Dominic langsung mengambil pakaiannya dan berlalu ke kamar mandi. Dia pun memakai pakaian pelayan itu lengkap dengan dasi hitam dan tuxedo hitam.

__ADS_1


"Ayo cepat!" ajak Dominic, dia tidak sabar untuk bertemu dengan Bella. Meskipun ia tidak setuju dengan pakaian yang ia kenakan, tapi untuk Bella, ia akan berusaha.


Demi pelayan Cinta


Marvin menatap tak percaya, sekuat tenaga ia menahan gelak tawanya yang menggelitiki perutnya. Seandainya tidak takut ketahuan, sudah pasti ia memotret sang tuan untuk di jadikan kenang-kenangan.


"Marvin, ikut aku."


"Untuk tuan Marvin anda di perintahkan menjadi Bodyguard nyonya Bella, sedangkan tuan Dominic di khususkan melayani nyonya Bella sebagai pelayan khususnya, jadi anda akan menyiapkan semua keperluan nyonya Bella, tapi ingat jangan macam-macam."


"Oh siap, aku bersedia."


Dominic melirik tajam Marvin yang membuang mukanya sambil menggigit bibir bawahnya. "Awas saja kalau kau bertindak macam-macam," ancam Dominic sambil menatap tajam.


"Tidak tuan,"


Dominic pun mengikuti sang Bibi, mereka menuju dapur dan telah di siapkan kue cokelat dan segelas susu di atas meja makan. "Silahkan anda bawa ke kamar tuan Bella, tapi kalau nyonya tidur, anda tidak boleh membangunkannya. Untuk beberapa hari, saya akan mengawasi kinerja anda," ucap sang Bibi. Padahal Dominic bukanlah tipe pria yang suka di perintah, tapi demi Bella ia melupakan egonya itu.


"Anda harus hati-hati, jangan sampai tumpah. Kalau susu itu tumpah, maka anda harus membuatnya lagi."


"Cerewet sekali," ucap Dominic semakin kesal. Telinganya cenat-cenut mendengarkan perintah sang Bibi.


"Nyonya, ini saya membawa roti kesukaan nyonya," ucap Bibi yang berada di depan pintu.


"Masuklah," perintah Bella.


Dominic pun masuk dengan mengekori ketua pelayan. Dia mendekat dan melihat wanita yang tengah fokus dengan kuas di tangannya. Ia jatuh hati dengan lukisan indah pegunungan itu.


"Hay Bella," sapa Dominic tersenyum nakal. Dia mendekat dan membuat Bella menoleh, sontak ia membulatkan kedua matanya dan langsung beranjak dari kursinya.


"Anda? kenapa anda bisa ada di sini?" tanya Bella. Dia menatap dari ujung kaki sampai ujung rambut.

__ADS_1


"Anda harus sopan terhadap nyonya Bella, jangan memanggil nama, tapi panggil lah dengan sopan." Tegur ketua pelayan, dia mengangkat sedikit kaca matanya dan menatap tajam. "Jika anda tidak bisa menjaga kesopanan Anda, saya akan memecat anda," imbuhnya lagi.


Dominic menatap garang, berkali-kali ia harus mendengarkan ceramah wanita tua itu.


tidak bapak tua, sekarang wanita tua. Telinganya ku sampai gedeg mendengarkan ceramah mereka, awas saja kau bapak tua, akan aku buktikan, Dominic ini bisa.


"Baiklah,"


Bella menatap ketua pelayan, ia ingin meminta penjelasan, sungguh ia tidak percaya, laki-laki yang ia temui dengan jas hitam mahal itu, kini menggunakan pakaian pelayan.


Apa yang aku temui itu waktu dia berpura-pura menjadi pria kaya untuk menjerat wanita?


"Mulai saat ini, dia adalah pelayan nyonya, tuan Alexander yang memerintahkannya, silahkan nyonya memberikan perintah semau nyonya," ucap ketua pelayan.


"Saya pamit nyonya,"


"Tapi, Bi ... "


Bella menatap pintu yang telah tertutup rapat itu, ia pun kembali melanjutkan dengan lukisan di depannya.


"Sangat indah, sama seperti orangnya."


Bella menghentikan kuas di tangannya dan menarik sudut alisnya. Lalu kembali melanjutkannya.


"Bahkan wajah pelukisnya tidak sebanding dengan lukisannya."


Bella tetap acuh, ia tidak peduli dengan pria yang pernah ia temui. Baginya, tuan Alexander memerintahkan pria itu adalah demi kebaikannya.


"Boleh aku meminta untuk di lukiskan?" tanya Dominic.


Bella melihat Dominic sejenak dan melihat nampan yang masih berada di tangannya, sedangkan pria itu malah tersenyum menatapnya. "Kau boleh pergi, tinggalkan kue itu di atas meja."

__ADS_1


__ADS_2