Gundik Sang Mafia

Gundik Sang Mafia
#Kehamilan Bella


__ADS_3

Dominic terus menggenggam tangan sang istri, bibirnya terus menyunggingkan senyuman dan rasa syukur yang terus terucap di hatinya. Ia tidak pernah menyangka, kebahagiaannya datang begitu cepat. Kini ia akan menjadi seorang ayah dalam waktu 9 bulan. Di mana ia akan melihat sang buah hati berkembang di rahim sang istri.


Tak henti-hentinya ia mengucap rasa terimakasihnya pada sang istri dan kadang mengecup keningnya.


"Terimakasih sayang, aku bahagia. Sangat bahagia."


Dia mencium tangan Bella dan kemudian menghapus air matanya.


"Emmm.... "


Bella membuka kedua matanya, sesekali ia mengerjapkan kedua matanya agar penglihatannya semakin jelas.


Rasa pusing dan rasa mual itu membuat tubuhnya tak berdaya. Apa lagi dia mencium wangi parfumnya yang membuat kepalanya terasa pecah.


"Sayang kau sudah bangun?" tanya Dominic. Dia mencium pipi Bella dan wanita tersenyum.


"Sayang, ini wangi apa? aku tidak suka," ucapnya. Sambil menutupi hidungnya. "Aku ingin jeruk, aku suka wangi jeruk."


Dominic mengusap pucuk kepala Bella. Dia tahu, mungkin ini keinginan bayinya yang saat ini sedang tumbuh di rahim istrinya. Dokter sudah menjelaskan perihal tentang kehamilan wanita.


"Iya sayang, aku akan menyuruh bibi menggantinya dan mulai sekarang kau tidak boleh lelah bekerja, apa pun itu harus ada pelayan yang mendampingi mu."


"Kau hamil,"


Bella menatap Dominic begitu lama, sejenak ia tertegun. Kata hamil menari-nari di dalam pikirannya. Hingga akhirnya Dominic memeluknya dan menghadiahi ciuman bertubi-tubi di seluruh wajah Bella. "Terima kasih sayang, I Love You."


Bella tersenyum, akhirnya ia memberikan kebahagiaan untuk Dominic. Terlihat jelas pria itu saking bahagianya wajahnya begitu sangat bersinar.


"Ingat, kau tidak boleh bekerja apa pun itu. Masalah sarapan, makan siang, makan malam dan kalau leleh kau tidak perlu mengantarkan si Kembar. Biar tugas ku yang mengantarkan mereka." Jelas Dominic, seandainya tidak ada pekerjaan kantor. Sudah pasti ia akan mengambil alih pekerjaan istrinya yang sangat keras kepala, tapi ia sangat menyayanginya.

__ADS_1


"Pokoknya jangan membantah," imbuhnya lagi. Dia akan mengatur beberapa jadwal ahar pulang lebih awal mengingat kondisi zang istri yang masih mual dan muntah.


"Baiklah, tapi aku tidak suka wangi ini. Kapan kau akan menggantinya, aku ingin keluar."


Dominic mengangguk, dia pun membantu Bella turun dan menyuruh Bibi Mira untuk mengganti aroma kamarnya. Awalnya aroma manis itu memenuhi ruangan itu, namun kini tidak ada aroma manis.


"Selamat Dominic," tuan Alexander mengulurkan tangannya. Dominic pun menyambutnya, kemudian melepaskan tangan itu dan memeluk tuan Alexander.


"Dan selamat putri ku, kau sekarang menjadi seorang ibu," ucap tuan Alexander.


"Terima kasih Dad,"


"Daddy rasa, selain merayakan ulang tahun si Kembar, tapi kau juga mendapatkan kado terindah, kau akan menjadi seorang ibu," ucapnya, tanpa sadar air matanya keluar. Ia pun menghapus dan tertawa renyah.


"Hore, Mommy, Daddy aku akan punya adik baru."


"Terimakasih, karena kalian anak Daddy yang sangat memberikan warna untuk Daddy."


Dominic memeluk si Kembar, ia pun mengeluarkan air matanya yang tak bisa ia hindari.


***


Acara makan malam pun telah usai, Dominic begitu telaten mengupas buah jeruk untuk keinginan istrinya, sang istri kini tak bisa makan dengan nyaman, hidungnya sangat sensitif. Dia juga pemilih dalam hal makanan. Apa lagi sekarang, Bella mengeluh perutnya seakan di giling jika mencium bau ayam goreng dan hidangan laut dan membuat Dominic merasa kasihan, Bella hanya makan dengan nasi putih itu pun sedikit.


"Apa masih mual?"


Bella menggeleng, dia dengan lahapnya memakan buah jeruk. Karena tidak ingin mengganggu acara makan malam, dia pun makan malam di halaman samping dengan segelas susu dan nasi putih, lalu di lanjutkan memakan buah jeruk.


"Tidak, aku merasa enakan."

__ADS_1


"Hah," Dominic merasa kasihan pada istrinya, Dokter telah mengatakan, istrinya bisa mengalami mual bisa sampai empat bulan. Sungguh ia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada istrinya itu.


"Besok aku akan cuti, selama beberapa hari ini aku akan menemani mu,"


Bella mengangguk, ia tidak pernah mengalami hal ini. Waktu mengandung si kembar. Ia hanya pingsan dan selepas itu tidak terjadi apa pun. Jauh lebih rewel di kehamilannya yang kedua.


"Sayang aku lelah," ucap Bella. Padahal ia tidak melakukan apa pun, namun rasa ngantuk itu seakan tak membuatnya bertenaga.


"Iya sayang, ayo aku antar," ucap Dominic.


***


Dominic pun duduk di samping tuan Alexander. Dia menatap si Kembar yang sedang menonton kartu dengan alas karpet merah dan boneka yang berserakah. Setiap malam ia di suguhkan seperti ini, kadang ia harus memindahkan si Kembar ke kamarnya karena tidak ingin meninggalkan kartun kesayangannya dan berakhir tidur.


"Bella sudah tidur?" tanya tuan Alexander.


"Iya Dad, dia kelelahan. Aku khawatir dengan makannya."


Tuan Alexander memegang bahu Dominic dan membuat pria itu menoleh. "Ini bukan yang pertama kalinya untuk mu menjaga Bella, dua kalinya kau menjaganya, menjadi ayah yang siapa siaga. Terimakasih Dominic, kau menjaganya dengan sangat baik."


"Tidak seperti Jhonatan."


"Jangan berkata seperti itu Dad, aku rasa Jhonatan sudah menyesalinya, aku juga ingin Jhonatan bahagia Dad bersama orang yang ia cintai."


Bagaimana kalau yang dia cintai adalah istri mu sendiri Dominic? aku rasa dia tidak bahagia. Dia hanya menutupinya dengan senyuman. Seandainya pun kau tidak ada, aku yakin Jhonatan akan menjaga anak mu dan juga Bella.


"Iya dia pasti bahagia." Lirih tuan Alexander.


Dominic pun tersenyum, dia kembali fokus pada si Kembar.

__ADS_1


__ADS_2