Gundik Sang Mafia

Gundik Sang Mafia
#7 : Kebenaran


__ADS_3

Jhonatan pulang ke Apartementnya, tempat di mana dia dan Gladies sering menghabiskan waktu bersama, jika bosan berada di dalam rumah. Di setiap sudut Apartement ini memiliki banyak kenangan dengan Gladies. Namun, hatinya tidak mengarah pada Gladies. Hatinya mengarah pada senyuman seorang wanita yang ia benci.


Perkataan itu seakan mengarah pada Bella. Pikiran yang kalut itu pun tak bisa ia tenangkan, hanya dengan sebotol anggur yang bisa menenangkannya.


###


Seorang pria tengah mengamati seorang wanita. Ia turut kasihan pada wanita itu, tidak memiliki salah. Namun, harus terjebak ke dalam perangkap sang tuan.


Wajahnya yang polos tengah memandang bulan purnama yang bersinar terang. Hidung mancung dan bibir mungilnya. Sebuah pahatan yang indah untuk di pandang.


Jack menggeleng, kedatangannya ke sini adalah untuk bertemu dengan sang tuan. Dia menghubungi sang tuan karena ada sesuatu yang penting menyangkut Gladies.


"Ehem."


Jack berderhem, wanita itu menoleh dan tersenyum. Senyum itulah yang yang menggerakkan hatinya. Melihat wajah wanita itu, ia teringat akan mendiang adiknya.


"Apa tuan ada?" tanya Jack.


"Jho keluar bersama kekasihnya." jawab Bella. "Duduklah, aku akan membuatkan teh. Kau ingin masuk ke dalam atau duduk di teras samping saja."


Jack tersenyum tipis. "Saya duduk di teras samping saja."

__ADS_1


Bella berlalu, dia mengambil teh hangat dan camilan untuk Jack. Kemudian menaruhnya di atas meja. "Minumlah, selagi hangat."


Pria itu menurut, menyeruput tehnya dan kembali melihat Bella.


"Bagaimana menurut mu tentang ku, Jack?" Bella ingin tahu, seperti apa pandangannya pada dirinya.


Jack mengamati pahatan indah itu. "Nyonya cantik, baik, ramah dan mudah tersenyum."


Hah


Kedua mata Bella mengembun. Rasanya ia sudah lelah untuk menangis. "Tapi tidak di matanya, baginya aku hanyalah sampah di antara ribuan sampah. Boleh aku tahu, siapa Gladies?"


Deg


"Ah, kau tak mampu menjawab. Pasti kau tak ingin menjawabnya." Bella tersenyum, di tengah-tengah sakitnya hati. Ia harus tersenyum. Hanya dengan beginilah, tidak akan ada orang yang kasihan padanya.


"Jack, kalau aku tak mampu bertahan. Aku titip Jhonatan, aku tahu dia laki-laki kuat. Kau pun begitu, aneh bukan kalau aku meminta bantuan mu," ucap Bella. Dia merasakan ada sesuatu.


Drt


"Hallo tuan," ucap Jack. Dia berdiri dan menjauh. Berbelok ke arah dinding.

__ADS_1


Bella penasaran, wajah Jack terlihat serius. Kakinya melangkah, dia mendekat dan samar-samar mendengarkan sesuatu.


"Nyonya Gladies sudah sadar, lalu apa yang akan tuan lakukan pada Nyonya Bella? apa perlu saya membawanya pergi?" tanya Jack.


"Tuan ini bukan salah Nyonya Bella. Kejadian itu murni karena kecelakaan. Nyonya Bella kehilangan ayahnya sedangkan Nyonya Gladies hanya koma."


Jack melirik, dia memang sengaja mengeraskan suaranya. Agar kebenaran itu terungkap. Ia memang berhutang budi pada Jhonatan, tapi melihat gadis yang tak bersalah. Dia tidak bisa, kedua mata jernih Bella selalu mengingatkan pada adiknya.


Ia tidak bisa mengatakan di hadapannya. Mungkin dengan cara ini, ia bisa mengatakannya. Biarkan saja Jhonatan menghukumnya. Ia ingin Bella pergi, tapi rasanya untuk saat ini tidak mungkin. Karena Bella sangat mencintai Jhonatan.


Mungkin kalau Bella mengetahui kebenarannya dia akan berhenti berharap dan memilih pergi. Dia sendiri yang akan membantunya.


"Maaf tuan, tapi nyonya Gladies istri sah tuan. Bagaimana kalau Nyonya Gladies tahu ada wanita lain di mansion ini."


"Baik tuan."


Jack mematikan benda pipihnya. Ia tidak berniat berbelok, tidak tega melihat wajah Bella. Sudah pasti wanita itu syok dan menangis. Seandainya bisa, sudah pasti akan menangis darah.


Benar saja, tubuh Bella seakan rapuh. Ini kenyataan yang tak bisa ia terima. Semua keambiguan itu membuatnya mengerti akan satu hal. Rangkaian ceritanya, dimana ayahnya kecelakaan, beberapa orang laki-laki yang mengawasi UGD saat sang ayah terbaring koma dan berujung kematian.


Seketika Bella memegang dadanya yang terasa remuk. "Allah... Allah... Allah... "

__ADS_1


Hanya nama itu yang ia sebut sedalam-dalam hatinya.


__ADS_2