Gundik Sang Mafia

Gundik Sang Mafia
#21 : Pertemuan Jhonatan dan Istri Pertamanya


__ADS_3

Bella meremas dadanya, kedua bahunya bergetar. Ia tidak tahan, ia ingin berlari dan memeluk Jhonatan, namun semakin ia berlari. Pria itu semakin jauh, tangannya pun tak sampai meraihnya.


Dadanya sangat sesak, bagaikan tertimpa runcingnya batu dan berat. Seakan mencabut nyawanya saat ini juga.


"Bella,"


Ana dan Ani menghampiri Bella. Kedua wanita itu memeluk dua posisi tubuh Bella. Keduanya bersandar di bahu yang rapuh itu.


"Sabar Bella, ini hanya sementara," ujar Ana. Ingin sekali ia mengatakan semuanya pada Bella.


"Iya Bella, kau harus kuat. Aku yakin suatu saat nanti kau akan bahagia.


Bella semakin menangis tersedu-sedu. Semuanya, tidak akan pernah terjadi padanya. Bahagia? apa ia bisa bahagia tanpa Jhonatan. Sementara? apa bisa kesakitan ini hanya sementara, sedangkan Jhonatan selalu menorehkan luka di hatinya.


Seorang wanita di belakang mereka yang sedang mengamati interaksi kedua pelayan dan nyonya mudanya. Tanpa ia sadari, kedua sudut air matanya keluar. Dia membuka kaca matanya, lalu mengusap air bening yang sudah mengalir itu.


Aku berharap, ini akan berakhir.


###


Di sebuah pesawat yang dengan menampilkan gaya kemewahan, seorang pria berjas hitam, tampak gagah dan menggunakan kaca hitam yang bertengger di atas hidungnya. Senyum di wajahnya tak pernah hilang dan hatinya tak sabar ingin bertemu.


"Jack kapan kita sampai?" tanya Jhonatan sambil tersenyum melihat ke luar, langit yang terang berwarna biru. Keindahan yang menenangkan hatinya.


"Sebentar lagi tuan," ucap Jack. Sesekali ia melihat gawainya, menunggu panggilan masuk atau sebuah pesan.


Apa nyonya tidak berniat? batin Jack.


Dia sudah menempatkan mata-mata untuk menjaga Bella dan membantunya jika di butuhkan dan menjaganya jika ada sesuatu yang mengancam, mengingat sang bos bukanlah sembarangan orang. Musuh pasti mencari celah mengejarnya dan mencari titik kelemahannya.

__ADS_1


Jhonatan, ia yakin bosnya itu tidak akan memberikan pengawalan pada Bella. Karena publik tidak mengatakan siapa Bella, namun ia tetap harus mewaspadainya, takut rahasia sang bos bocor.


Jack sangat gelisah, ia merasa khawatir meninggalkan Bella.


"Jack, kau kenapa?" tanya Jhonatan, tidak biasanya pria itu menampakkan wajah gelisah atau tidak nyaman.


"Tidak ada tuan, saya hanya senang akan bertemu dengan nyonya," ucap Jack.


Jhonatan mengangguk, begitu pun dirinya yang merasa senang, namun hatinya sedikit merasa kehilangan, entah apa itu?


Tak butuh waktu lama, pesawat jet pribadi itu mendarat sempurna di bandara. Jhonatan keluar dengan di ekori Jack dan sepuluh pengawal di belakangnya. Mereka langsung menuju ke salah satu rumah sakit terkenal dan VVIP, tempat di mana Gladies di rawat.


Mereka telah meluncur dengan mobil yang telah di siapkan oleh Jack.


Iringan mobil mewah itu pun berhenti di salah satu rumah sakit ternama. Jhonatan dan Jack masuk di temani dua pengawal. Kehadiran kedua pria gagah itu menjadi sorotan semua orang di lobi.


Ting


Krek


Pintu itu terbuka, Jhonatan langsung masuk dan mendapati seorang wanita yang tengah duduk di brankar rumah sakit sambil melihat ke arah TV lebar itu.


"Jho ... " Sapa nya dengan suara serak. Butiran air itu merembes keluar. Pria itu sedikit mempercepat langkahnya dan memeluk istrinya.


"Jho ... "


Dadanya terasa terhantam oleh batu, ia bersyukur masih di beri kesempatan melihat wajah suaminya.


"Honey, Like You ... "

__ADS_1


Jhonatan mencium seluruh wajah Gladies, istri yang selalu ia rindukan setiap hembusan nafasnya. Bibirnya pun mendekat, mengecup singkat bibir yang masih pucat itu.


"Honey."


Gladies menggenggam kedua tangan Jhonatan. Air matanya menjadi saksi betapa ia merindukan Jhonatan.


Jhonatan duduk di sisi brankar itu, menghapus air mata sang istri. "Jangan menangis, aku akan sakit melihat mu menangis. Kau tahu, jantung ini rasanya berhenti berdetak melihat mu terbaring koma."


"Aku sangat merindukan mu, Jho. Kenapa baru datang?" tanya Gladies, setiap waktu ia berharap bisa melihat Jhonatan mendatanginya.


"Sorry Honey, aku sibuk. Maafkan aku sayang, sebenarnya aku sangat merindukan mu, sangat merindukan mu," lirih Jhonatan.


Dia menarik Gladies ke dalam pelukannya. Mengecup pucuk kepalanya berkali-kali dan mengelus punggungnya.


"Tidak apa, asalkan kamu selalu mencintai ku, Jho."


Jack tersenyum, ia senang sang nyonya lepas dari maut. "Selamat atas kesembuhan nyonya," ucap Jack dengan tulus.


"Jack ... " Gladies mengangguk sebagai balasannya.


Jack pun pergi meninggalkan sepasang insan yang baru bertemu itu. Dia menoleh di balik kaca kecil di pintu itu, ada rasa bahagia, namun ada rasa sedih.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Jack. Pikirannya mengingat sosok wanita yang sedang rapuh di tinggalkan oleh suaminya demi istri pertamanya.


Jack melangkah ke arah jendela, dia mendekatkan benda pipih itu ke telinganya.


"Bagaimana?" tanya Jack. Kedua matanya melirik empat pengawal yang berjaga di depan pintu.


"Aman tuan, nyonya Bella tidak keluar dari rumah utama."

__ADS_1


"Terus awasi, kalau ada sesuatu yang mencurigakan, cepat hubungi aku !!! " titah Jack.


__ADS_2