Gundik Sang Mafia

Gundik Sang Mafia
#52 : Kecewa


__ADS_3

Jhonatan keluar dari ruangan dokter kandungan, dan ternyata memang benar, Gladies tidak hamil. Dia berjalan dengan lunglai, tubuhnya panas dingin, jantungnya berdetak lebih cepat. Seakan ia mengingat sesuatu.


Dadanya naik turun begitu cepat, ia mengusap wajahnya secara kasar.


Gladies yang berada di sampingnya juga merasakan kecewa, seorang istri pasti menginginkan menjadi seorang ibu dan hal itu belum ia dapatkan. Ia menoleh, melihat wajah suaminya, ia merasa bersalah dan merasa menjadi wanita yang tidak sempurna untuk suaminya, padahal suaminya mengatakan bahwa ia menjadi wanita yang sempurna untuknya.


"Tuhan ... "


Jhonatan duduk di kursi depan ruangan itu, entah ruangan apa? yang jelas ia memikirkan sesuatu, air matanya menggenang. Perkataan Angelina dan semua yang ia alami membuatnya teringat akan Bella.


Dadanya terasa sesak, ia merasa terpukul. Jangan-jangan Bella yang telah hamil.


"Honey,"


Gladies duduk di depan Jhonatan dan menatap lekat wajah suaminya. Air matanya turun dan bibir bergetar menahan tangis. "Aku minta maaf, aku mengecewakan mu."


Jhonatan menghirup dalam nafasnya, bukan salah Gladies, semua ini adalah salahnya.


"Ini bukan salah mu," ucap Jhonatan dengan bibir bergetar. Dadanya seakan di himpit oleh batu besar. "Kau sudah melakukan yang terbaik, maafkan aku."

__ADS_1


Pertama kalinya Jhonatan terisak, seumur hidup baru kali ini ia menangis. Merasa bersalah sampai ke tulang belulangnya.


Pertama ia bersalah pada Gladies, kedua ia merasa bersalah pada Bella. Hatinya bercampur aduk, sakit, nyeri, sesak, semuanya bercampur menjadi satu. Sampai ia tidak bisa mengeluarkan suaranya. Isaknya yang semakin dalam membuatnya semakin di landa rasa bersalah, apa lagi dengan Bella, bagaimana kalau Bella memang di nyatakan hamil? anaknya .. bagaimana dengan anaknya?


"Sayang," Gladies semakin bersalah melihat Jhonatan yang semakin menangis dengan tubuh bergetar. Tidak pernah ia melihat Jhonatan serapuh ini. "Aku akan berusaha,"


Jhonatan hanya mengangguk, ia tidak bisa berpikir apa pun. Ia semakin takut menerima kenyataan, ia takut menghadapinya.


"Ayo kita pulang," Gladies merangkuh tubuh tegap Jhonatan sambil berjalan.


Sesampainya di mobilnya, Jack melihat sang tuan yang menunduk dan mata yang memerah. Ia bisa menebak, apa yang telah terjadi. "Tuan bersabarlah, suatu saat nanti tuan akan memilikinya," ucap Jack. Dia membukakan pintu untuk sang tuan.


Bukan itu Jack, bukan itu tapi bagaimana?


"Tuan," Theo menunduk memberikan hormat.


Tuan Alexander memutar kursinya menghadap ke arah meja, lalu menatap Theo. Beberapa hari ini ia memang meminta Theo untuk mengawasi Jhonatan.


"Apa ada sesuatu?" tanya tuan Alexander. Dia menegakkan punggungnya, kemudian bersandar.

__ADS_1


"Tuan, ada sesuatu yang ingin saya sampaikan."


Tuan Alexander menyunggingkan bibirnya. "Masalah Jhonatan atau lainnya."


"Tuan Jhonatan menjemputnya nyonya Gladies dan sekarang memeriksa keadaan nyonya Gladies Dokter kandungan."


Tuan Alexander tersenyum kecut, Gladies di periksa sedangkan keadaan Bella tidak ada yang tahu, bahkan Jhonatan pun tidak tau kalau Bella sedang hamil.


"Tapi setelah keluar dari rumah sakit, tuan Jhonatan tampak sedih tuan."


Tuan Alexander tersenyum, "Dia salah sasaran, yang tidak hamil di periksa, mungkin dia berharap memiliki anak dengan istri pertamanya."


"Bagaimana kalau nanti nyonya Gladies hamil?"


Tuan Jhonatan menarik sebelah sudut bibirnya. "Aku tidak peduli, yang penting sudah ada cucu ku yang akan mewarisi kekayaan ku, tugas mu hanya menjaga Bella dan cucu ku."


"Kalau cucu anda perempuan,"


"Apa perempuan akan kalah pada laki-laki? tidak, aku akan mengajarkannya, dia harus menjadi perempuan yang kuat, tidak lemah, kelak dia juga bisa melindungi ibunya. Jika ayahnya mengancam ibunya lagi, akan aku jadikan di singa betina."

__ADS_1


Theo mengangguk paham, kalau sudah ada di tangan tuan Alexander tidak akan ada yang namanya kata lemah.


"Kau awasi Jhonatan, sebenarnya aku kasihan pada kebodohannya, tapi ya sudahlah, aku juga pernah bodoh mempercayainya. Mari kita lihat, bagaimana nasibnya?"


__ADS_2