
"Kau melakukan kesalahan yang luar biasa," ucap Jhonatan dengan mata melotot tajam dan bibir bergetar, dia memanggil beberapa bodyguardnya dan dua pria berjas hitam pun datang, lalu memberikan hormat.
"Jangan gila, Jho." Pekik Frank. Inilah yang ia takutkan dengan kemarahan anak dan ayahnya itu, tanpa pandang bulu, tanpa mempertimbangkannya, kalau sudah salah pasti keduanya tidak akan melepaskannya, jangan manusia, nyamuk saja yang menggigit kulitnya langsung mati.
Dia mendekat dan membantu bibi Su untuk berdiri. "Ini bukan kesalahannya, lagi pula tuan Besar yang membawanya."
"Kau tahu?" tanya Jhonatan memicingkan matanya.
Frank sejenak melihat ke sembarangan arah.
Bodoh kau Frank, kenapa kau tak mati saja? mati, kau sekarang yang mengundang kematian mu sendiri. Mulut ember mu sama sekali tidak bisa di rem umpet Frank dalam hati.
"Itu, aku hanya menebak."
"Jangan pikir aku bodoh, Frank!" teriak Jhonatan.
Frank menatap Jhonatan, sejenak dia menangkan jantungnya. "Iya aku tahu, aku tidak bisa berbohong pada mu. Waktu itu, Bella pingsan, tubuhnya lemah dan badannya kurus."
Deg
Jhonatan merasakan hatinya berdenyut, ia pun menepis perasaan itu. "Oh begitu, dia hampir mati, tapi tidak ada yang memberitahu ku," ucapnya santai.
"Ya, buat apa aku mengatakannya. Kau sudah mempermainkan Bella, membuatnya jatuh cinta sampai dia selalu menurut pada mu dan sudah cukup, kau harus melepaskannya."
"Siapa yang memanggil mu?" tanya Jhonatan. Tidak mungkin bibi Su tiba-tiba memanggilnya, karena Frank Dokter pribadi keluarganya.
__ADS_1
"Tuan besar yang memanggil ku."
Bibi Su menatap nanar ke Frank, ia ingin mengkilah, bahwa dirinyalah yang memanggil Frank agar tidak ada kecurigaan di hati Jhonatan.
Jhonatan berpikir keras, tidak mungkin ayahnya memanggil Frank kalau tidak menemukan sesuatu. "Apa Daddy tau sesuatu? oh sial!"
"Te-tenang tuan, waktu itu saya yang meminta pada tuan Besar," ucap bibi Su.
Jhonatan menatap kedua manik bibi Su dan membuat wanita itu menunduk.
"Jho, kau jangan berbuat kasar pada orang yang sudah mengasuh mu, meskipun dia di bayar oleh keluarga mu, tapi dia setia dan mengabdi pada keluarga mu. Tidak pernah sekalipun dia meninggalkan mu, dia menganggap mu sebagai anaknya."
Frank memasukkan kedua tangannya ke saku celananya dan menunduk dengan wajah lesu. "Bella pasti kecewa,"
Kecewa, Jhonatan menghembuskan nafasnya dengan kasar. "Baiklah, kali ini kau boleh pergi, tapi jika nanti ada sesuatu tanpa memberitahu ku, aku pastikan kau tidak akan tinggal di rumah ini lagi."
Dia goyah
Frank mendekat, dia mengulurkan tangannya dan Jhonatan menatapnya dengan tatapan bingung.
"Selamat Jho," ucap Frank tersenyum. "Selamat karena sudah bebas dari Bella dan Gladies sudah sadar, kau bisa menikmati hidup mu dengan Gladies."
Jhonatan menepis kasar tangan Frank. Perkataan Frank menusuk dalam hatinya, entah mengapa kata 'bebas' itu ia tidak suka, tapi tidak bisa di pungkiri, kesembuhan Gladies membuatnya senang.
"Aku hanya mengatakan, jangan serakah."
__ADS_1
"Aku pamit Jho,"
Jhonatan tak menggubris, ia justru memikirkan Bella. Bagaimana keadaannya sekarang dan sedang apa? selama berhari-hari ia ingin menghubunginya, tapi rasa gengsi yang terlalu tinggi dan takut ketahuan Gladies, akhirnya dia mengurungkan niatnya.
"Oh iya, aku harus menghubungi ayah."
Jhonatan menghubungi nomor ayahnya, langkahnya bolak balik tak karuan dengan wajah di liputi rasa kecemasan.
"Hallo Jho," suara tegas itu menghentikan langkah Jhonatan.
"Apa yang Daddy lakukan pada Bella?" tanya Jhonatan. Daddynya, bukan orang yang mudah di bodohi, ia tidak menanyakannya dengan jelas pada bibi Su, bagaimana Daddynya bisa mengetahui siapa Bella?.
Dia lupa, bahwa Daddynya bisa melakukan apa saja.
"Aku Alexander, tentu saja aku bisa melakukan apa pun dan kau seharusnya berterimakasih, karena Daddy mu yang baik hati ini telah menyingkirkan Bella."
"Daddy!" teriak Jhonatan. Hatinya seketika sakit, bayangan Bella yang tersenyum tanpa sadar membuat air matanya jatuh. "Kau tidak boleh melakukan sesuatu."
Terdengar gelak tawa meremehkan. "Anggap saja ini kebaikan dari ku Jho, kau pikir aku bodoh sampai menyembunyikannya, kau menyembunyikannya ke dalam lubang semut pun pasti aku akan menemukannya."
"Dad, jangan main-main." Tanpa sadar, Jhonatan meremas ponselnya dan mengeraskan rahangnya.
"Dia hanya mainan mu, tenanglah, bukankah kau seharusnya berterimakasih karena Daddy membantu mu, kau tidak perlu repot-repot menyingkirkannya sebelum istri pertama mu tahu kan,"
"Jangan main-main, kembalikan Bella pada ku Dad."
__ADS_1
Tut
Jhonatan langsung melemparkan ponselnya ke lantai, hingga ponselnya hancur. Dadanya naik turun dengan amarah yang semakin meningkat. Ia menggeleng dan dalam hatinya mengatakan, 'tidak boleh kehilangan Bella'.