
Mau tidak mau, suka atau tidak suka, akhirnya tuan Alexander terpaksa menerima Dominic di rumahnya, karena pria itu bersikeras untuk makan malam bersama dan menempelinya.
Tidak segan, tuan Alexander kadang mencemoh, mencibir, namun bagi Dominic, perkataannya bagaikan angin lewat, padahal tuan Alexander telah mengeluarkan angin ****** beliung yang sangat dashyat, namun pria itu tak mempan terkana anginnya.
"Kapan kau pulang?" tanya tuan Alexander.
"Aku minta kuncinya, Om," ucap Dominic. Dia meneguk segelas air di sampingnya dan menyisakan setengah, lalu kembali melahap makanannya.
"Kunci apa?" tanya tuan Alexander. Sejujurnya ia merasa senang, sudah lama tidak ada yang menemaninya, berbicara dengannya dan Dominic, pria muda dan tampan itu mengingat akan kebersamaannya dengan Jhonatan, tapi mungkin tidak akan kembali lagi.
"Ya, kunci akses khusus untuk membuka pemblokiran nama," cetus Dominic yang langsung membuat tuan Alexander menyemburkan air yang ia minum.
"Om kalau mau berdukun, jangan di sini lah, kan kasian makanannya pada basah gegara Om nyemburin pakai hujan meteor," celutuk Dominic. Ia sangat senang membuat ayah Jhonatan naik darah, karena sudah membuat naik hati.
"Kau, lama-lama aku bisa gila mendengarkan mu,"
Tuan Alexander mengelap bibirnya dengan sapu tangan putih. "Kapan kau pergi? melihat mu merusak mata ku,"
"Makanya, Om harus merestui aku,"
Dominic melirik pria di sampingnya, selain garang pria di sampingnya juga baik. Hanya saja, karena waktu yang membuat hubungan mereka merenggang.
"Dom-dom, kau tidak perlu khawatir, setelah kau mengejar Bella setengah, aku menjodohkan Bella dengan orang lain."
"Om, nama ku Dominic bukan Dom-dom, seperti katak kecebur saja," ucap Dominic sambil berdesis.
"Sudahlah, kau mau apa?"
"Aku mau Bella, titik tidak ada komanya,"
"Jangankan koma, itik saja aku tidak akan memberikannya."
__ADS_1
Kepala Dominic seperti mengeluarkan asap yang banyak, bukan hanya gila, tapi mungkin ia akan jadi orang gila gembel. Sejujurnya ia merindukan masa-masa ini, dimana ia, Jhonatan dan tuan Alexander pernah makan malam bersama.
"Kenapa kau tidak habiskan? jangan makan di rumah ku kalau tidak bisa menghabiskan, karena beras itu mahal." Celutuk tuan Alexander, dia melihat Dominic yang tampak murung.
"Aku merindukan Jhonatan, Om. Sudah lama ya, kita tidak makan seperti ini."
Tuan Alexander membisu, ia mengerti tatapan kesedihan itu. Tak jarang mereka akan makan bertiga.
Seorang pelayan pria muda berjalan setengah berlari, dia menghampiri tuan Alexander dan Dominic yang sedang makan. "Tuan, di luar ada tuan Jhonatan dan nyonya Gladies," ucap laki-laki itu.
"Daddy," sapa seorang laki-laki. Dia berjalan menghampiri meja makan itu dengan seorang wanita yang menggandeng lengannya.
Tuan Alexander menatap Dominic, pria itu tetap santai, padahal permusuhan mereka telah terjadi selama bertahun-tahun.
"Daddy," sapa Gladies tersenyum ramah.
Keduanya belum menyadari seorang pria yang tengah memunggungi mereka.
Dominic menoleh dan melihat ke arah Jhonatan dan Gladies. Pasangan suami istri itu menatap terkejut, tidak di sangka keduanya bertemu setelah bertahun-tahun lamanya. Jhonatan pun terbakar emosi, ia ingat betul saat istrinya Dominic menghajar istrinya, Gladies.
"Dad,"
"Kalau kau mau ikut makan malam, duduklah," ucap tuan Alexander. Dia kembali melanjutkan santapannya dan menghiraukan Gladies serta putranya itu.
Gladies mengelus lengan Jhonatan dan menggeleng, sebagai tanda bahwa dia harus menuruti perintah sang ayah.
Kedua orang itu pun duduk berhadapan dengan Dominic, seorang pelayan pun membawakan piring dan menaruh di depan mereka.
Dominic mempercepat santapannya, ia lalu meneguk air di sampingnya. "Dad, aku pulang dulu."
Tuan Alexander mengangguk. "Jho, setelah makan malam aku ingin berbicara dengan mu," ucapnya. Dia pun bangkit dan berlalu ke ruang kerjanya.
__ADS_1
"Gla, aku pergi dulu. Kau lanjutkan saja makan malamnya," ucap Jhonatan.
"Tapi Honey," Gladies mencekal lengan Jhonatan dan pria itu tersenyum, menurunkan tangan Gladies yang memegangi lengannya.
krek
"Kau cepat sekali datang kesini?" tuan Alexander menaruh ponselnya dan memandang putranya. Dapat ia lihat, kedua bola matanya yang memancarkan kesedihan.
"Apa maksud Daddy mengundangnya? apa Daddy melupakan masa lalu?"
"Kau datang kesini hanya ingin mengatakan itu, jangan buang-buang waktu ku. Itu urusan mu dengan Dominic, bukan aku. Masa lalu, tentu aku tidak melupakannya."
Jhonatan menunduk, ia tahu ia telah salah berbicara. "Maafkan aku Dad,"
"Lalu apa yang ingin kamu bicarakan?"
"Aku ingin meminta bantuan Daddy, Bella menghilang. Sebenarnya Daddy membawanya kemana? Aku bahkan tidak menemukannya," ucap Jhonatan Frustasi.
"Masa lalu harua di lupakan, kemana Jhonatan yang tegas mengatakan masa lalu harus di lupakan? kemana mulut pinta mu itu Jho, kau sudah memiliki Gladies, cukup bersamanya, aku sudah merestui kalian dan aku berharap kalian secepatnya memberikan aku cucu."
"Dad, tidak semudah itu. Bella hamil, aku ... "
Jhonatan tak melanjutkan ucapannya, ia menghapus air matanya. Sedangkan tuan Alexander merasa kasihan, tapi ia bisa apa? ia tidak mungkin membuat Bella tersakiti kembali.
"Kau bisa memilikinya dengan Gladies,"
"Dad, dia anak ku, juga cucu Daddy!" bentak Jhonatan, dadanya naik turun. Takut, sakit, khawatir, kini bercampur aduk.
"Maaf, hanya itu yang bisa Daddy katakan, Ketahuilah, Jho. Itulah yang aku rasakan bertahun-tahun, kau harus menghargai Gladies, sama seperti dulu aku menghargai mu dan ibu mu."
Tuhan, apa yang aku lakukan ini benar atau salah?
__ADS_1