
Jhonatan duduk sambil menopang dagu dan melihat layar ponselnya yang memperlihatkan seorang ibu dan seorang anak yang tertidur pulas. Ia membidik layar ponselnya membentuk sebuah foto, seorang ibu dan anak yang tertidur sangat pulas. Ia akan menjadikan foto ini sebagai kenangan terindahnya.
"Pfuf,"
Ia tertawa sendiri, menumpahkan kegeliannya. Cukup memaksa dan sedikit memarahi Bella, tapi akhirnya ia berhasil memaksa Bella untuk tidak mematikan ponselnya sampai baby Gio tidur dan akhirnya wanita itu tertidur pulas di samping putranya.
Ia pun ikut membaringkan tubuhnya dalam posisi miring, ingin sekali ia menahan kedua matanya agar tidak terpenjam dan tidak melewati pemandangan ini.
Sayangnya, matanya seakan kehabisan baterai dan berakhir mengikuti alam mimpi baby Gio dan Bella.
tik
tik
tik
Jam kecil terus berputar, tak terasa waktu menunjuk pukul 10 malam, berarti sudah melewati makan malam. Tak terasa tidur nyenyak itu membuat sebelah tangannya kram karena di jadikan bantal kepala baby Gio.
"Um,"
Perlahan Bella sedikit mengangkat kepala baby Gio dan menggantikannya dengan bantal kecilnya. Ia memegang lehernya yang terasa sakit dan sedikit melonggarkannya.
Saat kedua matanya menangkap sebuah benda pipih, ia jadi teringat apa yang tadi ia lakukan dan karena kelelahan ia tertidur.
__ADS_1
Ia pun dengan cepat memeriksa ponselnya, Vidio Call itu belum di matikan entah berapa jam dia tertidur dan membiarkan ponselnya menghadap ke arahnya dan baby Gio.
Bella ingin mengakhiri pandangan di depannya, Jhonatan yang tertidur pulas mengingatkan kembali di mana kebersamaanya dulu, bagaikan warna pelangi yang tidak akan pernah pudar.
Bella tidak ingin mengingatnya kembali, ia dan Jhonatan sudah memiliki kehidupan masing-masing. Tidak ada lagi sangkut pautnya hidupnya dengan Jhonatan.
Dia menaruh ponselnya di atas nakas, duduk di depan cermin, tiba-tiba sebuah bayangan muncul. Ia tersenyum melihat suaminya mencium pucuk kepalanya setiap pagi saat dia bercermin.
"Kau tidak tahu betapa aku merindukan mu," lirihnya. "Sudah cukup lama kau pergi."
Bella mengambil foto di sampingnya, mencium dalam kenangan terindah pernikahannya. Karena rindu yang terasa berat, ia keluar menuju meja kerja suaminya. Selama ini ia menyerahkan ruangan itu pada bi Mira, karena ia belum kuat menginjakkan kakinya di ruangan itu.
Aroma maskulin memasuki pernapasannya, inilah aroma tubuh suaminya. Dia pun melihat beberapa foto dirinya, baby Gio dan si Kembar serta foto pernikahannya.
"Huft," ia menarik dalam nafasnya. Dia pun menarik beberapa laci yang berisi dokumen. Membuka satu per satu dokumen itu, lalu memasukkannya kembali. Sebuah bisnis yang di jalankan suaminya dan kini di bawah tangan tuan Alexander, bisnis suaminya masih terjaga dengan aman yang kelak akan di warisi oleh baby Gio. Sedangkan Velli akan mewarisi milik tuan Alexander, sedangkan Vello akan mewarisi milik Jhonatan. Semua masa depan anak-anaknya telah terjamin oleh ketiga orang itu, namun semua harta yang mereka miliki tidak menjamin kebahagiaan, banyak tancapan yang mereka jalani.
Bella melanjutkan membuka laci berikutnya, ia merasa asing dengan buku kecil berwarna hijau itu. Karena pemasaran, ia membuka lembaran itu.
Lagi-lagi ia menemukan foto kecil yang ia yakini diary milik suami, padahal ia tidak tahu kalau Dominic juga menyukai menulis cerita tentangnya. Lembar demi lembar ia membaca tulisan indah suaminya dan ia tersenyum mengingat semuanya.
*Bella Sayang ....
Maaf aku tidak bisa menepati janji ku, setiap kali aku mengatakan iya, aku takut aku tidak bisa, ternyata memang aku tidak bisa.
__ADS_1
Aku mencintai mu, sangat ...
Maafkan aku, jika selama ini aku belum bisa membahagiakan mu. Aku tahu, suatu saat nanti kau akan membaca buku ini, pasti saat itu kau merindukan aku kan (emoticon senyuman) dan saat itu aku sudah tidak ada.
(Bella memegang dadanya yang terasa mencekik seluruh pernapasannya, ia menahan air matanya)
Bella sayang, kau wanita terindah dalam hidup ku. Wanita terakhir yang aku cintai, ah mau bilang wanita pertama, aku pernah menikah, tapi percayalah, cinta ini lebih besar dari yang pertama.
Bella sayang, saat kau membaca buku ini. Ada sesuatu yang ingin aku katakan, aku mohon jangan membenci ku. Aku tidak ingin melepaskan mu pada siapa pun, tapi inilah takdir yang harus kita lalui, aku tidak ingin kau membenci siapa pun, inilah pilihan ku.
Aku ingin kau kembali pada Jhonatan, sebelum penyakit ku parah, aku sudah menghubungi Gladies, aku yakin Gladies pasti paham.
Bella sayang, aku mohon kembalilah pada Jhonatan, Jhonatan lebih berhak dari siapa pun. Dia sosok ayah yang baik, putra ku membutuhkannya, menikahlah dengannya, untuk ku dan juga baby Gio. Aku akan bahagia, tolong berbahagialah.
Bella sayang, jangan menangis saat kau membaca tulisan ini. Aku tahu kau akan menangis, tapi tangisan mu menyakiti ku. Sangat sakit, aku tidak ingin melihat air mata mu lagi, sudah cukup, ini air mata mu yang terakhir. Kalau Jhonatan menyakiti mu, aku akan mengutuknya (emoticon tertawa), percayalah, dia pria yang baik. Mantan suami mu itu tidak sebrengsek yang kamu bayangkan. Aku tahu siapa Jhonatan, jadi aku memasrahkan dirimu untuknya.
Satu hal lagi, Jhonatan dan tuan Alexander tidak tahu, aku yang memutuskan sendiri, ini permohonan terakhir ku pada mu.
Cinta mu, Dominic*.
Bella menutup kembali Diary yang telah ia baca, tulisan suaminya pun masih beberapa lembar, jadi ia pikir saat-saat suaminya menderita penyakit itu dan menyembunyikannya, lalu malah curhat pada buku kecil ini.
"Kau tidak bisa membuat keputusan seperti ini Dominic,"
__ADS_1
Ia pun mengusap wajahnya yang terasa basah, ia tak begitu kuat untuk tidak menahan air matanya.