Gundik Sang Mafia

Gundik Sang Mafia
#24 : Kedatangan Tuan Besar


__ADS_3

"An, emmm .... "


Air liur Bella seakan menetes melihat mangga di pinggi jalan, ia ingin memakan mangga muda itu dan rasa pedas, air ludahnya seakan membanjir, membayangkan mulutnya memakannya.


"Ana, bisa berputar balik tidak? aku ingin beli mangga," ucap Bella.


"Oh, kenapa kamu gak bilang?"


"Pak kita berputar arah, Bella katanya mau beli mangga di pinggir jalan tadi," ucap Ana memberikan perintah.


Sang sopir pun berputar balik, dia menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Dan Bella membeli dua kilo buah mangga, sebagai stok sewaktu-waktu dia menginginkannya.


"Makasih ya, An. Kamu paling ngerti aku,"


"Tapi aku aneh deh sama kamu, kamu kok kayak orang hamil saja."


Bella melirik ke arah lain dan tersenyum tipis. Dia menang hamil, tapi tidak ingin mengatakannya. "Masak hanya orang hamil saja yang boleh makan mangga," ucapnya.


Sesampainya di kediaman Jhonatan.


Bella langsung membawa mangga itu ke kamarnya, duduk di kursi kecil dan sebuah meja kecil di depan jendela, sebelumnya ia mencucinya lebih dulu mangganya. Bagaikan orang kelaparan, dia memakan mangga itu seadanya, dengan kulit yang sudah di kupas. Tadi ia membayangkan memakannya dengan bumbu yang pedas, tapi rasanya sekarang tidak perlu. Cukup enak di lidahnya, walaupun tidak ada bumbunya.


Mangga itu pun ludes separuhnya, tiba-tiba ia teringat dengan Jhonatan. Seandainya, pria itu mencintainya, mungkin ia akan di manja seperti wanita lainnya.


"Sudahlah,"


Bella mengelus perutnya, sekarang ia harus fokus pada anak di dalam perutnya. Tidak perlu memikirkan hal yang yang tidak perlu di pikirkan dan menguras pikirannya.


Tok

__ADS_1


Tok


Wanita itu menoleh ke arah pintu, dia kemudian beranjak dan memutar kuncinya, lalu membukanya.


"Ana?"


"Masuklah," ucap Bella samberi menggeser tubuhnya, memberikan celah agar Ana masuk kedalam.


"Iya,"


Ana merasa curiga, Bella memakan buah mangga itu tanpa ada rasa asam. Mendadak ia menoleh dan matanya menatap perut Bella. Walaupun ia tau sang tuan tidak mencintai Bella, tapi yang namanya laki-laki memiliki hasrat.


"Ana ada apa?"


"Aku ingin memberikan ini," ucap Ana, dia menyodorkan kartu identitas laki-laki yang pernah Bella temui.


Ana menghembuskan nafas kasar, ia menarik sebelah tangan Bella, lalu menaruhnya di atas telapak tangannya, dan menggenggamnya. "Dengarkan aku Bella, aku tau kamu tidak bahagia, aku ingin kamu bahagia. Oke, kalau kamu tidak dekat, tapi mungkin saja, sewaktu-waktu kamu membutuhkannya, jadi aku harap jangan menolaknya dan aku ingin mengatakan satu hal, kamu harus menguatkan hatinya."


Ana menarik Bella ke sisi ranjang, dia akan menceritakan semuanya, sebagai seorang perempuan, walaupun pekerjaannya sebagai pembantu, ia tidak pernah merendahkan dirinya. Wanita seharusnya di jaga dengan baik, bukan di siksa batin dan fisiknya seperti ini.


"Tuan memiliki rahasia."


Deg


"Tentang istrinya," ucap Bella. Ana terkejut, dari mana Bella tau dan mengapa masih tinggal?


"Aku mengetahuinya, aku hanyalah alat untuk membalas dendamnya." lirihnya tersenyum dan air mata yang telah keluar. Dia menggenggam tangan Ana. "Kamu ingin tau alasannya, mengapa aku tinggal?"


"Aku mencintainya,"

__ADS_1


"Jadi kau tetap melakukan hal gila ini," tatap Ana dengan tajam. Nasib Bella mengingatkannya pada almarhum ibunya, ayahnya begitu meninggalkan ibunya dan mereka demi wanita yang di cintainya. Namun, ibu tetap mencintai ayahnya.


"Aku tidak ingin kamu merendahkan diri mu dan bertahan di sini, pergilah, aku akan membantu mu keluar dari rumah ini."


"Tapi aku tidak memiliki tujuan, aku tidak memiliki siapa-siapa selain ayah ku."


"Kamu bisa tinggal di kampung bibi ku," ucap Ana. Dia ingin membawa Bella pergi jauh, sebagai seorang wanita ia merasakan apa yang Bella rasakan.


Bella tersenyum haru, ia memeluk Ana dengan erat. Baginya, Ana sahabat terbaiknya. Selama ini ia tidak memiliki seorang teman, ia hanya fokus bekerja dan bekerja.


"Terimakasih, tapi aku tidak ingin melibatkan mu," ucap Bella sambil melerai pelukannya.


"Seseorang yang butuh bantuan, pasti akan melibatkan orang, anggap saja Tuhan mengirim ku untuk membantu mu. Dan aku ingin menanyakan satu hal, apa kau hamil?"


Deg


Bella diam, ia mengangguk sebagai jawabannya dan membuat Ana mendesah pelan.


"Aku ingin pergi dari sini, Jho tidak akan menerima ku dan bayi ku, sebelum Jho mengetahuinya," Bella menggenggam erat kedua tangan Ana. Aku ingin kau membantu ku.


"Aku sudah mengatakannya, aku akan membantu mu."


Tok


Tok


Bella dan Ana menghentikan ucapannya, Ana melepaskan tangan yang menggenggam Bella dan beralih membuka pintu.


Seorang wanita dengan wajah datar itu menatap Bella, kepalanya sedikit memiring melihat Ana yang duduk di sisi ranjang. "Tuan Besar datang, semua pelayan harus menyambutnya," ucap ketua pelayan.

__ADS_1


__ADS_2