Gundik Sang Mafia

Gundik Sang Mafia
#11 : Mengganjal


__ADS_3

Emm


Terdengar suara lenguhan, pria itu mengucek kedua matanya dengan satu tangannya. Sedangkan sebelah tangannya menyanggah tubuhnya menjadi sandaran.


"Hah..."


Dia menoleh ke arah dinding, tepat pukul 03.00, yang artinya ia tidur hanya beberapa jam saja.


"Bagaimana kabarnya? apa dia sudah sadar?" Jhonatan menggelengkan kepalanya, jiwanya masih belum sepenuhnya sadar. Entah melayang ke arah mana.


Jhonatan melangkahkan kakinya, ia keluar dari ruang kerjanya menuju sebuah kamar. Dimana ia akan melihat keadaan kondisi istrinya.


krek


Rupanya suasana ruangan tampak gelap. Padahal tadi sebelum pergi dia sadar, kalau ruangan itu lampu utamanya belum di matikan.


"Bell...."


Perlahan kakinya melangkah ke arah ranjang dan tidak melihat siapa pun. Selimut di ranjang itu terlihat rapi, seperti tidak ada yang menempatinya.


"Mungkin di kamar mandi," gumam Jhonatan.

__ADS_1


Ia mengetuk kamar mandi, telinganya yang tajam pun tidak mendengarkan suara air dari kamar mandi.


Ia membuka pintu itu. Namun, kosong tidak ada siapa pun.


Jhonatan kini mengerti, sepertinya Bella kembali ke kamarnya. Dengan langkah lebar, tak butuh waktu lama dia sampai di depan pintu yang telah rusak itu.


Benar saja, ia melihat Bella tidur meringkuk di kamarnya. Ia kesal, Bella kembali ke kamarnya. Padahal udara malam sangat dingin dan pintunya belum di perbaiki.


Jhonatan mendekat, perlahan duduk di sisi ranjangnya. Ia teringat saat acara pernikahan mereka. Bella selalu tersenyum padanya, wajah gadis itu tidak terlihat ada beban. Tapi, sekarang ia melihat wajah itu terlihat memiliki banyak beban.


'Jangan Menyesalinya'


"Bella.."


Bella membuka matanya, dia menoleh dan melihat Jhonatan berada di sampingnya. Ia bangkit dan menatap Jhonatan.


"Apa ada sesuatu yang kamu butuhkan tuan?" tanya Bella.


'Tuan'


Jhonatan tidak suka di panggil tuan, sesuatu mengganjal di hatinya. Tidak ingin berdebat, ia memalingkan wajahnya.

__ADS_1


"Kenapa kamu kembali?" tanya Jhonatan dengan dingin.


"Aku rasa, aku sebagai pembantu tidak cocok di sana," ucap Bella. Ia sadar, siapa dirinya untuk Jhonatan. Ia tidak ingin di bilang perebut atau apalah, yang penting dirinya saat ini hidup sesuai kemauannya.


"Tubuh mu masih panas dan aku tidak mau ada pembantu yang mati di wilayah ku."


Pedas, tapi bagi Bella ia akan menganggap perkataan Jhonatan angin lalu. Hatinya mulai mengering, tinggal beberapa hari, ia sudah kebal dengan perkataan kasar, perlakuan kasar dan kekecewaannya pada Jhonatan.


"Iya, justru itu. Kalau aku mati, aku tidak ingin mengotori rumah mu, tuan."


"Bella?!" sentak Jhonatan. Ia tidak suka Bella memanggilnya tuan dan tadi, kata mati, ia tidak sangat suka.


"Kalau tidak ada sesuatu, aku mau tidur tuan. Aku ngantuk,"


Jhonatan menatap tajam Bella, namun, Bella hanya membalasnya dengan senyuman.


Aku ingin sekali meraba wajah mu, Jho, tapi sekarang tidak mungkin. Kau bukan milik ku, bukan milik ku.


"Beristirahatlah, aku tahu tuan lelah dan besok pagi tuan pasti sibuk bekerja. Tenang saja, aku yakin besok aku sudah sembuh."


Jhonatan tak menjawab, ia berlalu pergi tanpa menoleh pada Bella. Ada sesuatu di hatinya yang tak bisa ia ungkapkan. Sesuatu yang berdenyut dan nyeri.

__ADS_1


"Padahal aku menunda keberangkatan ku hanya untuk dia. Tapi, dia malah tidak tahu berterima kasih."


Jhonatan memukul dinding di sampingnya untuk meluapkan sesuatu yang mengganjal di hatinya itu.


__ADS_2