
"Lalu bagaimana dengan pelayan itu tuan?" tanya asisten Dominic. Keduanya memang merencanakan penculikan Ningsih. Suruhannya, Ana saudara kembar Ani, yang berteman dengan Bella menceritakan semuanya.
"Baguslah, Ningsih pelayan kesukaan Gladies, lalu wanita itu tau pelayan setianya keluar karena di usir oleh tuan Alexander dan Jhonatan, pria itu pasti akan memarahi ayahnya dan keduanya akan ... Ha ha ha, bukankah ini permainan yang sangat menarik," ucapnya.
"Sudahlah, aku akan bekerja dulu. Kau persiapkan semua kebutuhan ku nanti malam,"
"Baik tuan,"
Pada malam harinya.
Bella memakai sebuah dres yang sederhana. Berwarna Maron dan polos. Dia merias dirinya seperti biasa dan tidak terlalu mewah, hanya polesan sedikit di wajahnya. Ia pun mengambil sebuah lipstik berwarna pink, memolesi bibirnya sedikit dan kemudian terakhir, menyisir rambutnya.
Setelah menyelesaikan semua ritualnya, ia pun keluar dengan memakai tas kecil yang ia sandingkan ke bahunya. Keluar dan melihat Ana serta Ani yang menatapnya tanpa berkedip.
"Wah, kau cantik sekali Bella," ucap Ana. Dia begitu takjub pada penampilan Bella. Tidak perlu riasan yang tebal, cukup tipis saja sinar wajahnya mampu mengalahkan sinar rembulan.
"Makasih An," ucap Bella.
Ani tersenyum, kedua wanita kembar itu saling menatap satu sama lainnya dan kemudian mengekori Bella.
"Tuan," sapa Bella.
Tuan Alexander pun menatap takjub, Bella mengingatkan gadis masa lalunya. Apa yang ada di diri Bella, tidak jauh dari gadis masa lalunya.
"Kau cantik, sama seperti dia."
"Maksud tuan?" tanya Bella bingung.
Tuan Alexander merasa keceplosan, ia menggaruk ujung hidungnya. "Maksudnya, kau cantik sudah pasti ibu mu sangat cantik," imbuhnya kembali.
"Oh iya, ayo." Ajak tuan Alexander.
__ADS_1
Bella pun mengekori tuan Alexander dan melambaikan tangan pada kedua sahabatnya.
"An, aku merasa berdosa karena telah membohongi Bella."
"Sama, aku juga merasa berdosa, tapi aku lakukan semua ini demi Bella agar mendapatkan laki-laki yang mencintainya," ucap Ana.
Ana menoleh, dia memergoki saudaranya berhubungan dengan tuan Jack, hingga ia menanyakannya dan Ani pun jujur, selama ini menjadi mata-mata tuan Jack dan memberikan informasi Bella padanya.
"Kau sudah melakukan yang terbaik, aku berharap teman kita itu akan menjemput kebahagiaannya," ucapnya. Lehernya kembali menoleh ke depan dan menatap ke arah pintu gerbang yang megah itu.
Kedua mata Ana mengembang, dadanya seperti di tusuk sebilah pisau. Siksaan yang begitu mengerikan dari tuan Jhonatan membuatnya tidak kuat menahan tangisnya.
"Benar, dia berhak bahagia. Setelah Bella pergi, aku akan menyampaikan kalau dia baik-baik saja. Aku tidak ingin tuan Jhonatan pulang,"
"Kau bicara apa Ani, tuan Jhonatan tidak akan pulang sekalipun dia mati. Tuan Jhonatan hanya peduli untuk menyiksanya saja."
"Benar, tuan Jhonatan tidak akan peduli."
###
Tuan Alexander pun turun, dia menunggu Bella sampai di sampingnya. Keduanya turun dengan di bukakan oleh dua pengawal. Para pelayan Restoran dan pemilik Restoran itu menyambut kedatangan tuan Alexander dan Bella. Dengan kekayaannya dan ke kekuasaannya, tuan Alexander memboking Restoran itu agar lebih leluasa dan nyaman untuk Bella.
"Selamat datang tuan," sapa pemilik Restauran, dia menggunakan jas dan kaca mata yang bertengger di atas hidungnya.
"Selamat datang nyonya,"
"Tuan dan nyonya sangat serasi," imbuh pemilik Restoran tersenyum.
Bella melirik sang mertua, ia merasa tidak nyaman di katakan serasi. Bukan masalah umur, ia takut di sangka wanita yang tidak benar.
"Bukan, dia putri ku," sanggah tuan Alexander yang membuat kedua mata Bella mengembun. Ia merasa mendapatkan kasih sayang seorang ayah lagi. Hari ini hatinya bergetar, ia berjanji akan mengabdi pada mertuanya, menuruti semua perintahnya, ia menganggap sosok ayah mertuanya seperti ayah kandungnya.
__ADS_1
"Maaf tuan, nyonya, silahkan masuk."
Pemilik Restoran itu mempersilahkan Bella dan tuan Alexander. Keduanya berjalan beriringan dan duduk di sebuah meja yang telah di penuhi hidangan.
"Tuan, hidangan malam ini, hidangan prancis. Saya berharap tuan dan nyonya muda menyukainya."
Bella menatap hidangan itu dengan air liur yang hampir menetes, lidahnya seperti di goyang oleh makanan yang tampak bersinar di kedua matanya.
"Bella, makanlah. Kau harus makan dengan banyak untuk menutrisi bayi mu."
"I-iya tuan,"
Bella pun memakan dengan lahap, dia mengambil beberapa makanan dan sangat pas di lidahnya. Tanpa rasa malu, ia memakannya dengan cepat, lalu mengambilnya kembali.
Tuan Alexander pun memberikan kode agar menambahkan hidangan yang lainnya dan pelayan dengan sigap membawakannya.
Tap
Tap
Tap
Karena sedang fokus dengan melihat Bella, tuan Alexander tidak menyadari seseorang mendekatinya.
"Tuan Alexander."
Bella menghentikan kunyahan di mulutnya, sedangkan tuan Alexander menatap pria itu dengan datar.
"Maaf tuan Alexander dan nyonya Bella, tuan ini mengatakan kerabat tuan Alexander dan ingin memberikan kejutan pada tuan," sela pemilik Restoran.
Tuan Alexander pun tak ingin berdebat, dia mengangguk sebagai tanda setuju.
__ADS_1
Tanpa permisi, Dominic, pria itu menarik kursi di samping Bella dan duduk berhadapan dengan tuan Alexander.