
"Justin," ucap Gladies dengan pelan. Bahkan Jhonatan yang berada di sampingnya tidak mendengarkannya. Dia tertegun melihat penampilan suaminya, dulu pria itu kurus dan hitam, tapi sekarang tubuhnya bahkan six pack dan bulu-bulu di dagunya, perubahan yang sangat drastis.
Tuan Alexander tersenyum, setidaknya bisa meringankan beban di hatinya melihat sang anak yang sudah meminta maaf.
"Maafkan aku."
Gladies menoleh, kedua matanya berkaca-kaca. Ia tidak mungkin salah mendengarkan kalimat yang keluar dari mulut suaminya, seorang Jhonatan meminta maaf pada musuhnya, rasanya tidak mungkin.
"Ini bukan salah mu,"
"Ini salah ku," ucap Gladies sambil merangkup kedua pipi Jhonatan.
Justin terkekeh geli, tentu saja mantan istrinya juga bersalah. "Kau memang salah dan kau memang tidak pantas menjadi seorang ibu."
Gladies berdiri, dia memasang dinding yang kokoh untuk suaminya itu.
"Kenapa Daddy melakukan ini?" tanya Gladies. Ia tidak percaya, seorang ayah membiarkan anaknya terluka, bahkan di rendahkan orang lain. "Apa Daddy akan diam saja saat melihat anak Daddy di rendahkan?"
"Jika merendahkannya bisa membuatnya sadar, maka aku akan merendahkannya. Karena tidak ada seorang ayah yang menginginkan anaknya menjadi pria yang tidak bertanggung jawab."
"Daddy!" teriak Gladies. "Jhonatan terluka, apa Daddy akan membiarkannya?"
"Dad!"
Plak
Gladies memegangi pipinya yang terasa panas, separuh rambutnya menutupi pipinya yang tengah berdenyut.
"Apa hak mu berteriak pada tuan Alexander? bahkan wanita seperti mu tidak pantas berteriak padanya."
Gladies mengepalkan tangannya, bibirnya bergetar. Ingin sekali ia mencakar wajah mantan suaminya itu.
"Kalian bersekongkol membuat Jhonatan merasa bersalah."
"Bukan merasa, tapi dia memang bersalah Gladies. Tapi aku bersyukur, aku tidak memiliki semacam dirimu."
"Apa aku bersyukur memiliki suami seperti mu yang tidak bisa apa-apa?"
__ADS_1
"Hah!" Gladies menarik sebelah sudutnya dengan tatapan mengejek. "Sekarang kau baru merasa tenang karena berada naungan dari tuan Alexander."
"Gladies, aku kira semua kejadian ini membuat mu sadar, tapi aku salah, kau tidak menyesali tindakan mu yang dulu." Tuan Alexander menatap putranya yang masih menunduk dengan lemas dan berurai air mata.
"Jhonatan, apa kau tidak bisa mendidik istri mu?"
"Gladies, diamlah, mintaa maaflah." lirih Jhonatan.
Gladies menggeleng pelan, "Jho, kita tidak bersalah."
Gladies berjongkok, dia menatap kedua manik suaminya.
"Minta maaflah, aku ingin hati ku tenang." lirihnya dengan penuh permohonan.
Gladies pun tak tega dengan air mata suaminya, ia berdiri dan membungkuk. "Aku minta maaf."
Justin tersenyum sinis, sekalipun minta maaf tidak akan mengembalikan keadaan. "Aku tidak terima permintaan maaf mu, selamat dan semoga kalian bahagia. Tapi aku yakin, tidak akan ada kebahagiaan di antara kalian."
"Daddy!" teriak Austin. Dia berlari dan memeluk kedua kaki Justin. Kedua matanya melihat keadaan sekitar.
"Kenapa om itu ada di lantai?" tanya Austin.
Tanpa Gladies sadari hatinya seperti di cubit melihat bocah di depannya. "Apa dia ... ?"
"Dia putra ku, namanya Austin." Potong Justin dengan cepat.
"Siapa dia Dad?" tanya Austin. Bocah itu menatap Gladies tanpa berkedip.
"Dia tante Gladies,"
"Dia terlihat garang sekali, aku tidak suka padanya."
Sontak perkataan anak polos itu membuat hati Gladies sakit, ternyata anaknya sudah sebesar ini. Selama beberapa tahun, ia tidak tahu rupa dan dimana anaknya tinggal.
"Begitu ya,"
Justin menoleh, "Tuan apa kami boleh pergi?"
__ADS_1
"Kalian boleh pergi, biar Theo yang mengantar kalian," ucap tuan Alexander. Dia akan mengirimkan Austin dan Justin ke tempat Bella untuk membantunya menjaga Bella.
"Baik Tuan," Justin kembali menoleh pada Gladies, mantan istrinya. "Semoga kalian bahagia."
Ucapan itu bagaikan tusukan anak panah di dada Gladies, ia merasa di kutuk oleh mantan suaminya itu.
Tuan Alexander pun memandang kepergian Theo, Justin dan Austin. Lalu kembali melihat ke arah Jhonatan dan Gladies.
"Apa kau tidak bisa menerimanya? kau tahu, saat kau masuk dalam kehidupan Jhonatan, aku sudah menganggapnya cucu ku. Gladies, sebencinya dirimu pada mantan suami mu, tapi anak itu tidak bersalah."
"Semenjak kapan Daddy tahu?" tanya Gladies, ia pikir rahasianya tidak akan terbongkar, pantas saja sang Daddy mengungkit masa lalu.
"Aku selalu mengetahui pergerakan putra ku, setelah kalian membuangnya, aku memungutnya dan menjaganya. Sekarang dia adalah keluarga ku, kau tidak berhak ikut campur dalam urusan ku, suka atau tidak." tegas tuan Alexander meninggalkan keduanya.
###
Seorang laki-laki berkaca mata hitam tengah turun dari Helikopter, dia memakai syal dan jas hitam yang melekat di tubuh elastisnya. Dengan senyum yang mengembang, ia berjalan bagaikan seorang model di atas awan. Ingin sekali ia berlari, langkahnya yang ia percepat terasa lebih lambat. Ia tidak sabar menemui wanita pujaan hatinya.
"Anda siapa?" tanya bibi. Dia melihat Dominjc dari atas dan bawah. Sebagai seseorang yang menjaga Bella, tentu ia harus pandai menyeleksi, siapa musuh dan siapa suruhan sang bos.
"Perkenalkan, aku Dominic calon menantu tuan Alexander."
Bibi mengerutkan dahinya, menantu? tuan Alexander tidak memiliki seorang putri, jadi dari mana datangnya menantu?
Bibi pun mengambil ponsel di sakunya, lalu menekan sebuah nomor.
"Tuan ada yang mengaku sebagai menantu tuan?" tanya Bibi.
Tuan Alexander menggaruk alisnya yang tak gatal, entah datang dari mana kepedean Dominic itu.
"Omongannya orang gila, aku menyuruhnya untuk menjaga Bella. Anggap saja dia orang yang datang dari hutan atau apa lah, yang jelas jangan dengarkan perkataan gilanya, kau bisa stres mendengarkannya."
"Baik tuan," ucap bibi dengan tegas. "Anda, kalau anda orang gila, jangan menularkan kegilaan anda pada majikan saya."
"Hah,"
"Kalau anda datang dari hutan, seharusnya anda tidak menularkan bakteri kan, silahkan Anda membersihkan tubuh anda dulu," ucap Bibi meninggalkan Dominic yang masih melongo.
__ADS_1
Gila dari mana? ia berpenampilan cool seperti ini di anggap gila? lalu dari mana datangnya? hutan? ia berpenampilan perfect seperti ini di anggap membawa bakteri.
"Sabar tuan," ucap Marvin yang menahan tawanya.