Gundik Sang Mafia

Gundik Sang Mafia
#92 : Maafkan Daddy sayang.


__ADS_3

Frank yang tak suka dengan sikap Gladies pun memilih menghubungi tuan Alexander. Pria itu pun melihat ke arah Bella yang sedang bermain dengan Vello dan Velli di ruangan khusus untuk mereka.


"Ayo cepat tangkap Vello!" teriak Velli, dia melemparkan bola ke arah Vello dan bocah laki-laki itu dengan tangkas menangkap bola kecil itu.


"Heh!" Vello meremehkan Velli. Dia berkacak pinggang dan sebelah kakinya berada di atas bola, siap menendang bola. Sedangkan Velli, dia memilih melemparkan bola, karena tendangannya selalu meleset.


Vello pun menendang bola itu dan dengan sigap Velli menangkapnya, namun kalah cepat. Vello memasuki gawangan nya dan membuatnya kesal. Ia tidak mau kalah dengan sang kakak dan ia akan berlatih dengan daddy nya.


"Vello, awas saja kau. Aku akan berlatih,"


Velli duduk di samping Bella dan memanyongkan bibirnya.


"Velli sayang, sebaiknya main boneka saja," bujuk Bella. Ia menggaruk kepalanya yang tak gatal. Putrinya sedikit bar-bar, ia takut kalau sudah dewasa tidak ada yang mau dengannya.


"Aku tidak mau kalah,"


"Makanya, perempuan hanya bisa main boneka."


"Tapi aku bisa main bola,"


"Kok kalah?" ledek Vello.


Hidung Velli kembang kempis, dia siap menangis dan bahkan ini sudah berteriak bahwa kakaknya jahat. Tuan Alexander pun mematikan ponselnya. Ia tidak bisa menghiraukan tangisan kedua cucunya itu. Sesibuk-sibuknya dia, pria itu akan mengabaikan pekerjaannya.


"Velli sayang kenapa?" tanya tuan Alexander. Bella pun tak nyaman, meskipun sudah terbiasa, tapi sang kakek selalu memanjakan Velli. Apa yang Velli inginkan, pasti tuan Alexander akan memberikannya, hanya bulan dan bintang yang dia tidak bisa berikan.


"Daddy sudahlah."


"Apa sayang?" tuan Alexander menggendong Velli dan menimang-nimangnya. "Sudah, Velli itu anak pemberani, tinggal Velli banyakin belajar saja, nanti bisa mengalahkan kakak Vello."


"Tapi kakak jahat Kek."


Tuan Alexander mencium pipi Velli yang menggemaskan. Kalau tidak mau menerima kekalahan, Velli pasti menangis.


"Sudan sayang, Vello minta maaf pada adik mu," ucap tuan Alexander.


Vello mendekat, dari dulu ia tidak pernah membantah siapa pun. Menurutnya, mengikuti apa kemauan sang kakek dan sang Mommy dan membuat mereka bahagia adalah tugasnya.


"Maaf," ucap Vello.


Tuan Alexander pun menurunkan Velli dan bocah perempuan itu mengangguk. Sekalipun Vello sering meledek adiknya, tapi Vello selalu memanjakannya.


"Bella, Daddy ingin bicara. Tadi Frank menghubungi Daddy, Jhonatan sakit, sudah tiga hari pria itu tidak menyentuh makanan. Daddy khawatir dan bermaksud membawanya ke sini."


"Kalau membuat mu tidak nyaman, aku bisa mengurungkannya." imbuhnya lagi.


"Tidak Dad, Daddy lakukan saja. Lagi pula Jhonatan juga anak Daddy,"

__ADS_1


"Boleh, Daddy membawa mereka. Aku rasa Jhonatan merindukan mereka."


Bella menatap Velli dan Vello. "Aku terserah mereka Dad,"


"Velli ikut Kakek ya ke rumah Daddy sama dengan Vello."


"Velli saja, aku tidak mau kesana," ucap Vello datar. Dia pun berlalu tanpa mendengarkan lebih banyak lagi pembicaraan sang ibu dan sang kakek. Hatinya masih sakit saat ibunya meneteskan air matanya. Ia tidak terlalu paham tentang orang dewasa, tapi ia tahu kalau sang ayah menyakiti ibunya.


"Velli sayang, kamu ikut kakek ya. Kasihan Daddy sakit,"


Velli pun mengangguk, ada rasa tidak menentu di hatinya saat bertemu dengan Daddynya, tapi ia takut kalau Mommynya akan menangis. "Tapi Mommy berjanji tidak akan menangis lagi kan?"


Bella tersenyum sambil mencubit hidung Velli. "Siap Velli sayang," ucap Bella dan menghormat ke arah Velli membuat bocah itu tertawa.


"Aku titip Velli Dad," ucap Bella. Dia takut Gladies akan mencelakai Velli, tapi ia tidak mau lagi menginjakkan kakinya di rumah itu.


"Austin dan Justin akan aku bawa,"


Tuan Alexander pun menggendong Velli, pria itu pun membantu Velli bersiap-siap. Mereka pun memasuki sebuah mobil putih dan Bella menunggu mobil itu keluar dari pekarangan ruman sang ayah mertua.


Velli berceloteh ria pada sang kakek. Bahkan pria yang tak lagi muda itu kadang tertawa lepas. Pernah ia memarahi Dominic karena lama membawa Velli, padahal masih dua hari pria itu justru meminta Velli di kembalikan. Ia dan Dominic bersaing merebutkan hati kedua bocah itu.


"Kita sudah sampai tuan," ucap sang sopir.


Karena fokusnya teralihkan, jadi ia tidak sadar kalau sudah sampai di kediaman Jhonatan. Tuan Alexander pun menggenggam tangan Velli. Bocah kecil itu memandang seluruh halaman kediaman Jhonatan, ia begitu suka dengan suasana yang tampak asri itu. Banyak bunga yang bermekaran, mengingat tentang bunga, ia jadi teringat dengan ibunya.


"Ayo sayang,"


"Dimana Jhonatan?" tanya tuan Alexander.


"Mari saya antar tuan," ucap bibi Su. Kebetulan sang nyonya tidak keluar dari kamarnya, jadi ia merasa tidak khawatir akan terjadi pertengkaran kembali.


Bibi Su pun membukakan pintu, Velli menjajarkan langkahnya dengan tuan Alexander memasuki ruangan itu. Bocah itu memandang seluruh ruangan, wangi yang sangat familiar menusuk.


"Wangi ibu ku,"


Tuan Alexander memandang Velli berkaca-kaca, ternyata putranya serapuh ini. Ia tidak menyangka, jiwa yang tegas itu menghilang.


"Tuan besar, kami sudah memaksa tuan Jhonatan untuk makan dan minum, namun hanya pandangan kosong. Nyonya Gladies pun sudah berusaha, namun tuan sama sekali tidak menyentuh."


"Dimana wanita itu?"


"Nyonya ada di kamarnya tuan," ucap bibi Su.


Velli perlahan mendekat, dia memandang Jhonatan dari wajah sampai ujung kakinya. Bulu matanya sangat cantik, melengkung ke atas. Hidungnya mancung dan alisnya tebal, persis dengan kakaknya. Ia terkekeh kecil sambil menutupi mulutnya. "Dia tampan sekali," ucapnya jujur.


"Kau menyukai Daddy, pegang tangannya. Dia pasti membuka kedua matanya melihat kedatangan mu."

__ADS_1


"Benarkah?" tanya Velli sambil menoleh ke arah tuan Alexander. Kedua matanya berbinar, apa dia akan menjadi anak ajaib seperti dongen yang di bacakan ibunya.


"Apa nanti Velli akan menjadi princess yang membangunkan pangeran? tapi di dalam cerita itu katanya pangeran yang membangunkan putri."


Bibi Su tersenyum, ingin sekali dia mencubit kedua pipi gembul. Jarinya sangat gatal ingin menyentuhnya.


"Coba saja sayang, Daddy mu sangat merindukan Velli."


Dengan perlahan Velli menggenggam tangan besar itu, dia pun mengelus. Bola mata yang terpenjam itu bergerak. Karena tidak sabar, Velli mencium sebelah pipi Jhonatan. Dia pun menengok wajah itu.


Samar-samar Jhonatan melihat sesuatu, pertama kalinya dia melihat Bella yang tersenyum, namun kembali buyar dan menjadi bocah yang menggemaskan mirip dengan Bella.


"Hore, aku jadi peri!" teriak Velli dengan girang.


Tuan Alexander pun langsung mencium pipi gembul Velli dan Jhonatan menoleh. Kedua air matanya kembali keluar dari sudut matanya. Ia melihat bocah di depannya tampak kegirangan.


"Lihat, dia sudah bangun Kek."


"Daddy,"


Velli mendekat, kedua matanya berbinar. Dia menatap lekat wajah sang ayah. Hatinya merasa senang dan senyumannya tampak memukai di mata Jhonatan.


Jhonatan beringsut duduk, dengan cepat tuan Alexander membantunya, menumpu tubuhnya dengan beberapa bantal di belakangnya sebagai sandarannya. Tangan lemahnya ia gerakkan mengelus Velli dalam sekejap dia pun memeluk putri kecilnya. Dia terisak dalam memeluk putri kecilnya, sangat hangat dan nyaman.


"Velli, tidak bisa bernafas."


"Jho, kau ingin membunuh putri mu," sindir tuan Alexander. Ia merasa cemburu cucunya di peluk erat oleh putranya. "Jangan berlebihan," ucapnya garang.


Jhonatan langsung menghapus kedua air matanya dengan sebelah punggung tangannya. "Ini Daddy, Nak."


"Mommy berkata, kau Daddy ku." lirih Velli.


"Sayang," Jhonatan mengangkat tubuh Velli ke pangkuannya, ia pun bertubi-tubi mencium pipi Velli dan kembali memeluknya. Namun di saat terakhir Jhonatan ingin mencium kening Velli kembali, secepat kilat tuan Alexander memasang tangannya, sehingga yang di cium bukan kening Velli, melainkan telapak tangannya.


"Daddy kau,"


"Aku hanya berusaha membuat mu mencium punggung tangan ku, lagian kau mencium Velli seperti itu," ucapnya dengan nada kesal.


"Dia putri ku, Dad. Aku berhak menciumnya. Sudah kebanyakan Daddy yang menciumnya, jadi sekarang giliran aku," ucap Jhonatan tak kalah kesal. Moment romantis itu langsung ambyar seketika. Kini tubuhnya langsung pulih saat melihat obat mujarab yaitu putranya, begini saja sudah cukup baginya. Ia akan mendekati Bella dan putra pertamanya dengan pelan-pelan.


Gelak tawa pun terdengar dari mulut Velli, bocah itu begitu suka melihat sang kakek dan sang Daddy saling jurus dengan mata, hanya saja tidak dengan kekuatan.


"Maafkan Daddy sayang,"


"Ya kata Mommy, Velli harus maafin Daddy."


"Dia putri ku,"

__ADS_1


"Hentikan!" teriak Gladies dari ambang pintu. Karena mendengarkan tawa anak kecil, ia langsung menuju kamar Jhonatan. Hatinya mendadak panas dan berlari ke arah Velli. Tubuh Velli langsung ia hendak turunkan, namun Jhonatan dan tuan Alexander langsung menahan tubuh Velli.


"Lepaskan!" bentak Jhonatan.


__ADS_2