Gundik Sang Mafia

Gundik Sang Mafia
#89 : Menyelami Kesakitan


__ADS_3

Jhonatan menatap punggung Dominic dan sang ayah yang telah menjauh. Tubuhnya langsung merosot ke lantai, semuanya telah pergi, semuanya telah hancur. Kedua bibirnya pun tak bisa di gerakkan. Dia menepuk dadanya dengan keras.


"Tuan," Bibi Su langsung merangkul Jhonatan. Pria itu langsung berhenti menepuk dadanya dan membiarkan bibi Su memeluknya dengan erat.


Dia pun menangis, mengikuti derasnya air mata anak asuhnya itu.


"Dia pergi,"


Ana dan Ani saling lempar pandang, kedua wanita itu menatap sinis dan menyunggingkan bibirnya. Mereka puas melihat Jhonatan yang tampak sangat terpukul.


"Aku puas melihat dia yang seperti ini."


Ani menaikkan sebelah alisnya sambil menarik sebelah sudut bibirnya, dia tidak akan melewati momen ini, di mana majikannya itu begitu lemah saat ini.


"Dengar tuan, ini baru permulaan, perjalan tuan masih panjang. Jangan menyerah, tuan Alexander memberitahu tuan, berarti dia membuka peluang."


"Semuanya sudah pergi, aku ... "


Bibi Su mengeratkan pelukannya, dia memejamkan matanya mengingat perkataan sang nyonya.


*Aku tidak ingin Jhonatan seperti ayahnya, aku tidak ingin dia di tinggalkan oleh wanita yang ia cintai.


Aku merasa begitu, aku berharap dia bahagia. Jika dia salah, tegurlah dia, karena manusia tempatnya kesalahan. Aku menahan seseorang, aku tidak ingin suatu saat nanti, apa yang Jhonatan inginkan di tahan. Aku ingin dia bahagia*.

__ADS_1


"Argh!"


Jhonatan berteriak keras, namun bibi Su tetap memeluknya dengan erat. Wanita itu bergetar, bahkan tidak tahan menahan isakan tangisnya, akhirnya isakan itu lolos keluar.


"Hah,"


Sebagai seorang ibu dia juga merasakan apa yang Jhonatan rasakan, dia tidak sanggup hatinya terlalu sakit melihat Jhonatan menangis, andai saja ada air mata darah, ia yakin Jhonatan akan menangis darah. Karena melihat betapa rapuhnya dia saat anak-anak dan istrinya meninggalkannya.


"Aku mau mereka,"


Bibi Su menegakkan tubuh Jhonatan. "Dengar, kau tidak boleh lemah. Kau harus mengejarnya, luluhkan hati anak mu, dia baru mengenal mu, aku yakin esok dia akan menerima mu."


"Ini hukuman untuk ku kan, dulu aku egois dan mengatakan tidak akan menerimanya, tapi sekarang mereka yang tidak menerima ku."


Jhonatan tertawa dengan aira mata yang mengalir. Bibi Su langsung mengguncang tubuhnya. "Jhonatan sadarlah, jangan seperti ini. Ibu mu akan sedih,"


Jhonatan kembali terisak. "Aku akan mengejarnya,"


"Jangan, kau harus kuatkan hati mu dulu, Nak. Jangan, bibi mohon jangan." lirih Bibi Su. Dia kembali memeluk erat Jhonatan.


Sedangkan di lantai atas, air mata Gladies terus meluncur bebas. Teriakan suaminya bagaikan belati untuknya, betapa terpukulnya dia melepaskan istri rahasianya selama ini. Pantas, pantas suaminya selama ini berubah, jadi inilah alasannya. Dia berubah karena kehilangan istri rahasianya.


Jadi selama ini, ia di khianati. Selama ini, dia hanya merasa suaminya berubah karena ayah mertuanya, ternyata ada sesuatu yang terpendam.

__ADS_1


"Hah!"


Dadanya naik turun menahan kerasnya kesakitan. Dia menyandarkan kepalanya ke jendela kaca itu. Sakitnya, tidak pernah ia merasakan semua ini.


"Hiks,"


Tubuhnya perlahan merosot, ia menekuk kedua lututnya, lalu menenggelamkan kepalanya. Ia tidak tahu harus bersandar pada siapa lagi.


###


Sedangkan Bella, dia menatap keluar jendela mobil, ia menahan air matanya, namun tak mampu ia tahan. Ia hanya bisa membiarkannya saja dan menyembunyikannya dari kedua anaknya. Sedangkan Dominic dan tuan Alexander malah menggunakan mobil masing-masing. Kedua pria itu menyelami masing-masing pikirannya.


"Mom, apa dia benar Daddy kita?" tanya Vello.


Velli menoleh bersamaan dengan Bella. Wanita itu pun hanya mengangguk, lalu menghembuskan nafas lelahnya. "Iya, dia Daddy mu."


Bella mengelus pucuk kepala Vello. "Apa dia datang untuk memisahkan kita?"


Bella menggeleng, "Tidak, dia hanya merindukan Vello dan Velli."


"Lalu mengapa Daddy tidak pernah menemui kita?"


"Karena Mommy tidak mengatakan kehadiran kalian. Mommy menyembunyikan kalian, Mommy yang salah, bukan salah Daddy kalian."

__ADS_1


"Kalian pasti merindukan Daddy kalian kan?"


Vello dan Velli diam, kedua bocah itu menunduk. Mereka bahkan enggan menatap sang ibu.


__ADS_2