Gundik Sang Mafia

Gundik Sang Mafia
#36 : Rasa Bersyukur Bella


__ADS_3

"Ada yang aku ingin bicarakan pada mu," ucap tuan Alexander.


Tiba-tiba tubuhnya bergidik ngeri, senyuman tuan Alexander mengerikan, dia tersenyum seakan memiliki suatu rahasia yang akan meledak.


"Tu-tuan saya .... "


Tuan Alexander pun menurunkan tangannya, lalu berbalik. "Ikut aku,"


Aduh, kenapa bisa jadi begini? seharusnya kan berterima kasih pada ku, bukan ....


Dokter Frank menggaruk kepalanya yang tak gatal, wajahnya mendadak lesu. Entah apa lagi yang akan ia temui? semoga saja Tuhan masih melindungi nyawanya. Apa lagi ia belum memiliki istri dan tidak tahu rasanya bercocok tanam.


Tuan Alexander pun memasuki ruang kerja putranya, dia menatap horor ke arah Dokter Frank, bibirnya terkunci rapat, matanya bagaikan mata elang yang siap menguliti musuhnya.


"Jangan mengatakan apa pun pada Jhonatan."


"Hah?!"


Kedua mata Dokter Frank melirik ke bawah, kedua matanya melirik ke kanan, entah apa yang ia lihat, yang jelas ia sedang berfikir, kenapa tidak memberitahukan Jhonatan? Jhonatan pasti tahu atau jangan-jangan Jhonatan tidak tahu?


Kedua matanya pun melirik ke arah tuan Alexander, jiwanya seakan menghilang dalam sekejap mata.


"Jhonatan tidak mengetahui kedatangan ku, dan aku sudah mengetahui siapa Bella."


"Jangan pernah katakan kalau Bella hamil anaknya, dia menikahi Bella hanya ingin balas dendam demi Gladies, bukan? aku akan melindungi Bella dan cucu ku," ucap tuan Alexander dengan nada tegas. "Kalau kau sampai mengatakan sesuatu pada Jhonatan, kau tidak akan melihat rumah sakit mu lagi."


Dokter Frank langsung membungkuk. "Tuan, saya akan melakukan perintah tuan."


Tuan Alexander melewati Dokter Frank yang masih membungkuk. Pria itu menegakkan tubuhnya setelah di rasa langkah kaki tuan Alexander keluar dari pintu. Dia menghapus beberapa tetesan keringat di dahinya. Kemudian mengendurkan sedikit dasinya.

__ADS_1


"Sebaiknya aku setujui saja, aku kasihan pada Bella kalau dia mendapatkan siksaan terus menerus."


"Maafkan aku Jhonatan, tapi aku tidak setuju dengan ide mu. Bella berhak bahagia, lagi pula Gladies sudah sadar. Kini saatnya dia melepaskan Bella."


Sedangkan tuan Alexander menatap tajam Ningsih, wanita yang telah membuat Bella syok dan tertekan. Ia rasa tamparan di pipinya masih kurang.


"Tuan sa-saya ... "


"Pecat mereka semuanya."


Ningsih dan kedua pelayan itu bersujud di lantai, mau kerja apa keduanya? Hanya menjadi pelayan di rumah ini saja lah gajinya lebih banyak.


"Tuan maafkan saya, saya tidak akan mengulanginya lagi."


"Maafkan saya tuan saya bersalah, bagaimana dengan ibu dan bapak saya di kampung? adik saya masih sekolah."


"Saya mohon ampun Tuan, saya bersalah."


"Tuan, saya mohon, saya masih ingin bertemu dengan nyonya Gladies, bagaimana nanti kalau dia tahu saya tidak ada."


Ketiga pelayan itu pun menangis tersedu-sedu, kedua pelayan di samping Ningsih, sangat menyesali perbuatannya. Mereka pikir karena Ningsih berada di bawah nyonya Gladies, sehingga mereka bisa menjilatnya dan berteman dengan Ningsih, tapi siapa sangka, justru dirinya malah terjebak dan berakhir mengenaskan.


"Tidak ada hubungannya dengannya, aku menghukum mu kalian karena kesalahan kalian. Kalaupun dia mau dengan mu, dia akan mencari mu."


"Berikan gajinya dan bonusnya,"


"Tuan saya ... "


Ningsih mengepalkan tangannya, kali ini ia sangat benci pada Bella. Kalau bukan karenanya, tidak mungkin ia akan berakhir tragis.

__ADS_1


Tuan Alexander bangkit. "Seharusnya kalian bersyukur aku tidak menghukum kalian, ini tidak seberapa bagi kalian yang sudah membuat Bella pingsan."


Bella, awas kau. Aku bersumpah akan menjadi hantu yang jahat dalam hidup mu.


Ningsih dan kedua pelayan itu pun di seret oleh ketiga penjaga, mereka meminta waktu untuk mengemasi barang-barang mereka. Sedangkan Ningsih, ia tidak akan pulang kampung dan menunggu kedatangan sang nyonya.


Aku akan mengadukannya pada tuan Jhonatan.


krek


"Kau sudah bangun?"


Tuan Alexander muncul di ambang pintu, dia melihat menantunya telah bangun dan melihat seisi ruangan.


"Tuan saya .... "


"Tidak usah turun, kau istirahat saja," cegah tuan Alexander. Dia melangkah mendekati Bella. Kemudian duduk di kursi, du samping ranjang itu.


"Bella, kau harus menjaga kesehatan mu dan pikiran mu, jangan sampai mempengaruhi janin yang sedang tumbuh di perut mu."


Wajah Bella langsung pias, rahasianya telah terbongkar, apa yang akan ia katakan pada tuan Alexander? ia bingung, ia sangat takut, hingga tubuhnya gemetar.


"Aku tidak akan bertanya banyak siapa ayah anak mu, yang jelas aku akan melindungi mu dan anak mu, karena kau sudah menjadi pelayan Pribadi ku. Aku akan bertanggung jawab penuh."


Bella menangis, air matanya mengalir deras dan tidak menyangka tuan Alexander mau menerimanya. "Terimakasih tuan."


Bella berhambur memeluk tuan Alexander. Dia memeluk erat sang tuan sekaligus mertuanya, ia merasa bersyukur, mertuanya mau menerimanya, meskipun ia harua berbohong dan ia bersyukur, jika tidak mendapatkan kasih sayang dari ayahnya, setidaknya putranya tidak jauh dari kakeknya.


"Aku akan menjaga mu Bella dan cucu ku. Mulai sekarang aku akan melindungi kalian."

__ADS_1


Ningsih keluar dengan rasa dendam yang membara, ia seperti wanita yang tidak memiliki harga diri. Ia bersumpah akan datang pada Bella dan membuatnya menderita.


"Aku akan menghubungi tuan Jack," gumamnya sambil menatap pintu gerbang dan rumah megah itu.


__ADS_2