
Iya, aku memang tidak ada artinya bagi mu.
Bagaikan berada di atas rumput yang berduri, kaki yang terkena duri itu seakan membuat urat-urat di tubuhnya putus. Tubuhnya bagaikan lemah dan di hujani oleh anak pedang.
"Ya, kau tahu Bella, kau hanyalah..."
"Aku tau, Gladies lebih baik dari ku, maka dari itu aku tidak pernah mengharapkan balasan apa pun. Jho, ketahuilah cinta ku tidak akan berubah kecuali aku sudah tidak kuat lagi," ucap Bella sambil menyiram rambut Jhonatan.
Nyes
Ada rasa nyeri, namun ia tidak tahu rasa nyeri apa.
Jhonatan bangkit, dia menarik lengan Bella dengan kasar. "Kau mencintai ku, selamanya tidak akan berubah, dan ingat, jangan pernah menyebut nama pujaan hati ku dari mulut kotor mu itu."
Jhonatan mendorong tubuh Bella hingga jatuh ke lantai. Bella perlahan berdiri, "Maaf, semua tubuh ku memang kotor."
"Keluar! aku tidak mau melihat mu lagi, jangan pernah muncul di hadapan ku." Titah Jhonatan.
Bella melangkah dengan pelan. Dia menutup pintu kamar mandi itu, menyandarkan punggungnya dan memejamkan matanya.
__ADS_1
Sedangkan Jhonatan, dia bangkit dari kamar mandi, menyalakan shower di atasnya. Terlintas di otaknya perkataan Bella. Cinta? ia benci cinta Bella padanya. Ia tidak mengharapkan sama sekali cinta itu. Ia sudah memiliki cinta Gladies, ia tidak membutuhkan cinta yang lainnya.
Bella menghentikan langkahnya di anak tangga terakhir, ia menggenggam erat pagar pembatas itu. Suaminya, selalu merendahkannya, tidak pernahkah dia melihat cintanya, sedikit saja, ia tidak akan meminta lebih.
###
Jhonatan keluar dengan menyeret kopernya, ia melihat ke arah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Sebentar lagi, tinggal sebentar lagi ia akan meninggalkan kota Jakarta. Lalu bertemu dengan istrinya, ia memeriksa setelan jasnya, agar terlihat rapi. Menggunakan parfum kesukaan sang istri, sudah lama ia tidak menggunakan parfum itu. Ia sengaja menggunakan parfum lain karena tidak ingin parfum yang ia pakai terlihat sama di hidung orang lain.
"Tuan ..."
Jack memberikan hormat, untung saja ia tidak telat. Kalau ia telat, sudah di pastikan ia langsung di bom oleh sang bos.
"Tuan, tidak mau sarapan dulu?" tawar Bella.
Jhonatan belum sarapan, ia takut suaminya sakit. Sekuat-sekuatnya orang kalau sudah di jatuhkan sakit oleh yang di Atas, maka akan sakit meskipun orang itu tidak mau.
"Tidak perlu," ketus dan datar.
"Jhoo, kau nanti sakit. Sarapanlah dulu, kalau kau tidak mau makan, tunggu sebentar." Bella berlari ke arah dapur, ia menaruh beberapa sandwich ke dalam kotak, lalu kembali berlari menghampiri Jhonatan.
__ADS_1
"Ini, makanlah di jalan."
Jhonatan melirik ke sekilas ke arah kotak bekal itu, sama sekali ia tidak berniat untuk membawanya. Lagi pula ia sehat, ia tidak membutuhkan makanan dari gundiknya itu.
"Aku tidak butuh, Jack, kau ambil saja. Mungkin nanti kau butuh."
Bella menarik kedua sudut bibirnya, ia menatap Jack dan menyodorkan makanan itu. "Bawalah Jack, aku menaruh beberapa sandwich untuk mu dan Jho.."
Jack tersenyum, dengan ramah ia mengambil kotak bekal itu. Ia cukup bersyukur, karena memang dirinya tidak sarapan.
"Terimakasih, Nyonya."
"Ayo Jack!"
"Jho..." Panggil Bella. Seketika langkah Jhonatan berhenti, namun pria itu tidak menoleh.
"Berhati-hatilah, jangan telat makan, jaga kesehatannya."
"Aku menunggu mu pulang."
__ADS_1
Walaupun kau tidak akan pulang batin Bella sambil menjatuhkan air matanya.