
Terlalu pahit, terlalu sakit, terlalu panas untuk di dengarkan. Bahkan hatinya, tak mampu menghadapinya. Kesakitan yang sekian kalinya, bagaikan mimpi untuknya. Namun, langsung menghancurkannya berkeping-keping. Tidak peduli seberapa ia bersabar, tidak peduli seberapa ia mencintainya. Kenyataannya, kenyataannya dia tidak di inginkan.
Kilasan bayangan suaminya ternyata hanya untuk tujuan lain. Ia pikir, suaminya akan berubah. Akan seperti laki-laki yang ia cintai.
Sedangkan Jack menatap dari jauh. Ia melihat di pintu jendela mobilnya. Rasa bersalah tak mampu ia bendung. Ia tahu, kebenaran ini jauh lebih menyakitkan dari pada sebelumnya.
"Aku harap nyonya bisa bahagia," ucap Jack. Dia melajukan mobilnya keluar dari rumah itu.
"Bella!" seru Ani. Dia membantu Bella berdiri. "Kamu kenapa?" tanya Ani. Ia tak lagi memanggil nyonya, karena Bella menyuruhnya memanggil namanya saja.
Bella tak mampu membuka mulutnya. Dia berjalan sempoyongan dan Ani berhasil menangkap tubuhnya.
"Bella, kau ingin ke kamar mu kan. Aku akan mengantar mu," ucap Ani. Dia memapah tubuh Bella menuju kamar para pembantu.
"Ada apa dengan Bella?" tanya Ana melihat Ani memapah tubuh Bella.
"Aku tidak tahu, aku melihatnya di teras samping sudah seperti ini," jawab Ani.
__ADS_1
"Bella ada apa? apa ada yang menyakiti mu?" tanya Ana.
"Sebaiknya jangan di tanyakan, lebih baik kita bawa saja ke kamarnya," ujar Ani. Ana pun membantu Ani memapah tubuh Bella. Kedua membantu Bella duduk di sisi ranjang. Ana dan Ani pun keluar, dia berharap esok hari Bella seperti biasanya.
Selepas kepergian kedua saudara kembar. Bella menangis sejadi-jadinya. Dia membuang seprai tempat tidurnya dan selimut putih kecil agak tipis itu.
Tidak puas, dia membuang lampu tidur kecil yang berada di atas nakas. Ia duduk di lantai dekat tepi ranjang. Bayangan ayahnya. senyuman ayahnya, ternyata pembunuhnya adalah istri dari suaminya, yang ia cintai, yang ia harapkan kelak akan berubah.
"Aku membenci mu, Jho. Aku membenci mu, kau pembunuh, kau...." Dada Bella sangat sesak. Dia meringkuk di lantai. Air matanya terus mengalir deras.
Sedangkan Jhonatan, wajahnya terlihat berseri-seri. Dia baru mendapatkan kabar bahwa Gladies mulai sadar. Itu artinya, ia akan kembali bersama dengan istrinya. Tidak akan ada lagi yang perlu ia khawatirkan, tidak akan ada lagi yang memisahkan dirinya.
Tidak salah dia membuat Gladies berobat di Singapura. Semua penantiannya dan perjuangannya tidak sia-sia.
Jack sudah menyiapkan semuanya. Jadi besok, dia akan berangkat. Sebelum itu ia akan pulang ke rumahnya lebih dulu.
Jhonatan merebahkan tubuhnya di kasur empuknya. Dia terus membayangkan wajah istrinya yang tersenyum.
__ADS_1
Membayangkan pertemuan pertamanya dengan Gladies dan pernikahannya. Perlahan kedua matanya terpenjam di iringi senyuman.
Waktu terus berdetak, jam kecil itu terus berputar. Tepat jam 12 malam. Keringat dingin mulai membasahi wajah tampannya. Keningnya berkerut, seakan ia melihat sesuatu. Di alam bawah sadarnya. Jhonatan melihat Bella yang berdiri sangat jauh darinya. Kedua kakinya tak mempu ia gerakkan. Di hamparan padang rumput dan bunga mawar yang mengelilingi tubuh Bella. Darah segar mengalir dari setiap tubuhnya. Duri mawar itu menancap di kulitnya.
"Kau pembunuh Jho..!!" teriakan itu memekik di telinganya.
Jhonatan menggeleng, dia terus berusaha bergerak. Namun, usahanya sia-sia. Tubuhnya yang tak seimbang pun jatuh ke padang rumput itu.
"Kau pembunuh Jho." Tawa yang di iringi sebuah tangisan.
Tangan Jhonatan bergerak terulur, ia sekuat tenaga mengeluarkan suaranya.
Berhenti Bella, duri mawar itu akan terus melukai mu batin Jhonatan.
Hanya gelengan yang ia mampu. Bella berjalan ke arahnya. Ia tidak tega, semakin Bella bergerak, mawar merah itu melilit tubuh Bella. Gaun putihnya berubah warna karena darahnya yang terus mengalir.
"Kau pembunuh Jho, aku membenci mu. Aku menyesal pernah mencintai mu."
__ADS_1
"Kau pembunuh!"
"Kau pembunuh!" teriak Bella. Hingga mawar itu mengeratkan lilitannya pada tubuh Bella dan tubuh itu pun menghilang menjadi mawar yang berterbangan di sapu angin.