Gundik Sang Mafia

Gundik Sang Mafia
#93 : Dia Wanita Berlian, Tidak Seperti Mu


__ADS_3

Austin dan Justin yang berad di lantai bawah, kedua melihat ke lantai atas ketika mendengarkan sebuah teriakan.


"Tuan,"


"Nona,"


Keduanya pun langsung bergegas berlari menaiki anak tangga. Langkah keduanya berhenti melihat seorang wanita yang memunggungi mereka.


"Austin,"


Laki-laki itu menahan langkahnya, setiap melihat wanita yang persis dengan wajah ibunya. Hatinya melemah dan sakit yang langsung menyerang begitu saja.


Justin melihat putranya yang tak bisa bergerak, dia pun langsung menarik paksa pergelangan tangan Gladies dan membuat wanita itu menatap kedua maniknya. Dengan tegas, Justin menjauhkan Gladies dari Velli dan bocah itu menangis sesegukan.


Dia merasakan sakit di lengannya, akibat di tarik paksa. Jhonatan gelap mata, dadanya membuncah kesakitan Dia pun turun dari ranjang dan menghampiri Gladies.


Plak


Gladies menahan pipinya berdenyut, sudut bibirnya terasa perih dan bau anyir darah. Dia memegangi pipinya lalu menoleh pada Jhonatan. Kedua kalinya dia mendapatkan kesakitan di pipinya. Dia pun menatap Jhonatan dengan tatapan yang sangat sulit di artikan.


"Kau menyakiti putri ku Gladies!" sentak Jhonatan.


Gladies mematung, tidak ada satu kata pun yang ia katakan. Ia hanya menatap Jhonatan dengan air mata mengalir.


"Tuan, saya akan mengobati nona muda," ucap bibi Su.


Jhonatan dan tuan Alexander membawa Velli keluar. Jhonatan menurunkan tubuh Velli ke atas sofa dan anak itu pun diam, tapi masih sesegukan.


"Maafkan Daddy ya sayang, ini pasti sakit."


Seandainya tidak memikirkan Austin, sudah ia cekik wanita itu. Tapi takut akan mengenai mental Austin. Ia pun menahan amarahnya, untung saja Jhonatan dengan sigap menamparnya. Kalau tidak, sudah pasti dirinya yang akan menamparnya. Ia pikir, tamparan manisnya dulu belum membuat Gladies sadar.


"Lihatlah barang bawa'an mu, Jho. Dia tidak berkualitas sama sekali. Terlihat mahal tapi di dalamnya tak berkualitas, sedangkan yang terlihat sederhana, namun di dalamnya berkualitas, kau malah membuangnya. Kau hanya tahu model baju saja, tapi tidak model wanita."

__ADS_1


"Pasti ibu Bella, sangat berkualitas ya Dad."


"Ya, tapi aku juga akui, ibu mu juga berkualitas. Meskipun aku menyakitinya, tapi dia sangat baik. Dia pasti bahagia seandainya aku melepaskannya."


Jhonatan menaruh kapas itu ke atas meja, lalu mengecup kulit yang memerah itu. "Masih sakit?" tanya Jhonatan. Dia mengelus pipi Velli.


Velli pun menggeleng dan langsung memeluk leher Jhonatan. "Daddy ikut Velli saja, nanti ada Daddy Dominic, kakak Vello dan kita bermain bersama."


Deg


Jhonatan mengecup dalam kening Velli, sekali pun ia merasakan sakit. Ia tidak akan marah pada anaknya. Wajar kalau Velli dekat dengan Dominic, bahkan ia melihat tuan Dominic yang terhormat mengupas udang untuk putrinya.


"Velii sangat menyayanginya?"


"Iya," jawab Velli sambil mengangguk mantap.


"Lebih sayang Daddy Jho apa Daddy Dominic?"


Velli tampak berpikir keras, dia tidak bisa memilih. Baginya Daddy Jho, ayah terbaik dan Daddy Dominic, Daddy terbaik.


Tuan Alexander mengusap pundak Jhonatan. Ia mengerti perasaan putranya, anaknya akrap dengan Daddy yang lain, bukankah sangat sakit melebihi apa pun.


"Jangan membuatnya bingung Jho," ucap tuan Alexander. "Ayo ikut Daddy, Bella juga setuju kau ikut, tapi jangan memaksakan apa yang tidak Bella sukai."


"Benarkah? Jhonatan boleh ikut Daddy,"


"Sebaiknya begitu, kau harus menenangkan hati mu. Biarkan Gladies juga tenang dan Justin akan mengurus Gladies."


Jhonatan pun langsung menggendong Velli, pria itu tampak senang. Akhirnya ia bertemu dengan Bella dan putranya. Betapa ia merindukan keduanya.


##


Sedangkan di lantai atas, Justin melepaskan cengkramannya. Merasa di lepaskan, Gladies melangkah ke arah ranjang dan menghempaskan bokongnya dengan kasar. Air matanya terus mengalir, dia bagaikan tubuh yang kehilangan jiwanya.

__ADS_1


Justin meraih sebuah sapu tangan di dalam sakunya. Lalu mendekati Gladies dan menyodorkan sapu tangan hitam itu. "Hapuslah, darah di sudut bibir mu."


"Kau pasti menertawakan aku? kau pasti bahagia melihat ku seperti ini. Dulu aku juga melakukan hal yang sama pada mu kan?"


Justin menurunkan tangannya. Dia tidak berniat mengungkit masa lalu. Baginya sudah berlalu, ia sudah bisa move on dan tidak ada dendam lagi, sekalipun masih sedikit ada rasa kebencian. Tapi melihat mantan istrinya menderita, ia merasa iba.


"Aku memang membenci mu, tapi aku kasihan pada mu saat ini. Kau berniat mencari kebahagian, tapi ya ... " Justin mengedikkan kedua bahunya. "Aku pikir tuan Jhonatan hanya terobsesi pada mu, bukan cinta. Namun sekarang kau sangat mencintainya."


Gladies beralih menatap bocah laki-laki di depannya. Hatinya luluh lantah, dia ingin memeluk bocah laki-laki di depannya, tapi ia takut dan malu. "Kau sudah besar? ya, aku tidak tahu kau sudah sebesar ini dan tuan Alexander merawat mu dengan baik, ayah mu juga hebat dia merawat mu sampai tumbuh seperti ini. Kau pasti menertawakan wanita seperti ku kan?" tanya Gladies.


Bocah di depannya hanya diam dan mengepalkan kedua tangannya.


Gladies mengeri kepalan tangan itu dan tersenyum miris.


"Apa dengan aku menerima kedua putri Jhonatan, Jhonatan akan berubah?"


"Aku tidak tahu, entah perasaannya akan berubah atau tidak, tapi yang penting saat ini dia sudah berubah. Dia mencintai kedua anaknya."


"Seharusnya kau menerimanya, tidak akan ada yang berubah. Darah Jhonatan mengalir di dalam tubuh Vello dan Velli."


Sesak, seperti di sengat listrik dan di himpit batu. Nafasnya seakan hilang dalam sekejap. Ia merasa ada di awan, lalu ia di hempaskan dalam sekejap. Arti kebahagian selama tujuh tahun ini seakan hilang begitu saja.


"Nyonya Bella tidak akan merebut Jhonatan, karena dia mengerti sebagai seorang wanita. Kau akan sakit,"


"Kau sangat memahaminya,"


"Benar, dia perempuan yang baik. Seandainya aku bertemu dengannya lebih dulu, aku tidak akan melepaskannya."


"Dan kau bertemu dengan orang yang salah seperti ku."


Justin tertawa sumbang, ia tidak bisa apa selain menerima takdirnya. Dari Bella, wanita kuat itu. Dia menemukan dan belajar banyak hal, banyak yang ia ketahui dari Bella, sikap dan sifatnya yang sangat lembut dan penuh kasih sayang. Dia pernah marah meskipun ada yang mencacinya.


"Dia wanita berlian. Seandainya aku tidak bersaing dengan tuan Dominic dan tuan Alexander, aku akan memperjuangkannya, tidak seperti dirimu."

__ADS_1


"Pantas tuan Jhonatan merasa kehilangan," imbuhnya lagi yang membuat Gladies terbakar cemburu. "Kau harus berubah, belajar iklas dan bersabar sama sepertinya. Percayalah pada ku, nyonya Bella tidak akan merebut tuan Jhonatan," ucap Justin dengan penuh keyakinan. Dia mendengarkan sendiri pembicaraan tuan Alexander dan Bella, entah apa yang akan terjadi kedepannya? ia tidak tahu, tapi yang jelas, ia melihat ketegasan di kedua matanya.


__ADS_2