Gundik Sang Mafia

Gundik Sang Mafia
#47 : Perpisahan Termanis


__ADS_3

"Jack, kau tidak menyembunyikan sesuatu kan?" tanya Gladies. Melihat wajah Jack yang merasa cemas berlebih, tapi wajahnya selalu menunduk dan merasa bimbang. Kadang dia berdecih dan memejamkan kedua matanya.


"Tidak nyonya, buat apa saya menyembunyikan sesuatu. Saya merasa tidak menyembunyikan apa pun terhadap nyonya. Saya hanya khawatir pada tuan yang tidak bisa di hubungi," tutur Jack setenang mungkin. Padahal hatinya komat-kamit semoga tidak terjadi sesuatu. Entah bagaimana keadaan di kediaman Jhonatan saat ini? apakah sudah hancur?


"Sebaiknya kita pulang Jack, cepat pesan tiket," ucap Gladies.


"Tidak nyonya, saya tidak bisa melakukan nya, ini masalah keselamatan nyonya, saya tidak mau ambil resiko." Kalau terjadi sesuatu pada sang nyonya, pasti dia yang akan di makan habis oleh sang bos.


"Jack, tidak akan terjadi apa-apa pada ku, ayo kita pulang. Aku sangat mengkhawatirkan suami ku."


Gladies duduk di sofa putih itu, dia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya dan menangis tersedu-sedu. Jack yang tidak berpengalaman pun hanya diam, ia tidak tahu cara menenangkan hati wanita.


"Nyonya, saya yakin tuan akan baik-baik saja."


"Jack coba kau hubungi seseorang di kediaman, mungkin bisa membantu," ucap Gladies.


Jack seakan mendapatkan Jackpoot, dia pun sedikit bernafas lega dan menghubungi Ani. Tak butuh waktu lama, Ani mengangkat panggilannya.


"Bagaimana keadaan di sana?" tanya Jack. Dia melirik Gladies yang menatapnya. Ia berusaha tenang mendengarkan penjelasan Ani, ternyata tuannya tengah mengamuk karena Bella telah di bawa pergi oleh tuan Besar.


"Baiklah,"

__ADS_1


"Bagaimana Jack?" tanya Gladies dengan cepat. Kecemasan di hatinya pada sang suami membuatnya begitu ketakutan setengah mati.


"Tuan tidak apa-apa nyonya, sekarang berada di kantor," ucap Jack berbohong. Mana mungkin dia mengatakan kalau sang bos tengah mencari istri keduanya.


"Huft, syukurlah." Gladies tersenyum dan kini bernafas lega. "Jack, coba kau tanyakan kapan aku bisa pulang? aku tidak betah di sini," lirih Gladies.


"Saya akan menanyakannya, nyonya," ucap Jack. Selama ini Gladies wanita yang penurut, yang membuat sang bos betah dengannya. Keputusan sang bos sangat mutlak bagi Gladies. Entah sang nyonya tidak suka atau suka, dia tidak pernah mengatakannya, baginya hanya menjadi istri penurut.


##


Sedangkan Jhonatan.


"Tuan, sebaiknya kita pulang, besok kita lanjutkan pencarian lagi," ucap salah satu bawahannya mendekat ke arah Jhonatan dan berjongkok.


"Siapkan penerbangan ku ke Prancis, aku akan menemui Daddy ku," ucap Jhonatan. Dia akan bernegoisasi dengan ayahnya. Hanya kekasih masa lalunya lah kelemahan ayahnya untuk menurut padanya.


"Baik tuan,"


Jhonatan pulang dengan langkah lunglai, dia tidak peduli dengan bau tubuhnya dan betapa kotor bajunya. Bibi Su pun mendekatinya dan menawarkan minuman.


"Tidak perlu, aku masih kenyang."

__ADS_1


Bibi Su menunduk, dia tidak pernah melihat putra kecil yang ia asuh sejak kecil sangat putus asa. Cintanya pada Bella begitu besar, ia bisa melihatnya sendiri, hanya karena egonya, putra kecilnya itu tidak mau mengakuinya.


###


"Putri ku, ingat kau harus menjaga kesehatan mu dan tidak boleh terlalu banyak pikiran." Tuan Alexander berkata dengan lembut sambil merangkul Bella menuju jet pribadi nya yang telah di awasi beberapa bodyguard.


"Baik Daddy, tenang saja, tidak akan terjadi sesuatu pada Bella. Jangan lupa, beri tahu Daddy kalau terjadi sesuatu,"


"Iya Dad," Bella tersenyum dia menarik tangan tuan Alexander dan menyaliminya.


Hati tuan Alexander menghangat, dia seperti menemukan suasana baru, kedamaian yang baru dan hati tenang yang tak pernah dia dapatkan. Jangankan Jhonatan menyaliminya, istrinya saja tidak pernah. Mereka hanya akan melambaikan tangan padanya.


"Jaga kesehatan Daddy,"


"Iya putri ku."


Bella menatap tuan Alexander yang perlahan menjauh dan kemudian menaiki pesawat jetnya, angin berhembus kencang menerpa tubuhnya, perlahan pesawat itu meninggi dan menjauh dari pandangan matanya.


"Terima kasih Jho, walaupun kau memberikan sejuta sakit, tapi berkat mu juga aku menemukan seseorang yang menyayangi ku. Akan aku jadikan perpisahan ini termanis dalam hidup ku dan semoga kau bahagia."


Bella tersenyum, meskipun ada rasa sakit di hatinya. Dia berbalik menuju kamarnya, hari ini ia akan curhat pada sang ibu dan ayahnya, kalau dia menemukan keluarga baru yang sangat menyayanginya.

__ADS_1


__ADS_2