Gundik Sang Mafia

Gundik Sang Mafia
#Mari Kita Bercerai


__ADS_3

Jhonatan tersenyum, dia membayangkan wajahnya seperti Bella tanpa sadar ia mengungkapkan isi pikirannya.


"Dia pasti mirip dengan Bella," ucapnya sambil terlihat gelembung wajah Bella dan wajah putranya.


Gladies menekan dahinya dan menggeleng, suaminya selalu menghayal Bella dan Bella. Apa semua otaknya hanya di isi dengan nama Bella.


"Bagaimana kalau dia mirip dengan Dominic?" tanya Gladies yang membuat gelembung di depan Jhonatan langsung meledak.


Dia melirik istrinya itu dengan wajah jengkel dan berkata, "Tidak bisakah kau membuat ku senang?" tanya Jhonatan. Ia sudah berusaha melupakan Bella, namun sayangnya hatinya masih terpaut.


"Jho, aku ingin berbicara sesuatu dengan mu." Gladies menarik dalam nafasnya. Ia pikir, bertahan di depan Jhonatan adalah pilihan yang terbaik, tapi sepertinya dia memang egois. Dia membelenggu Jhonatan yang saat ini memikirkan perasaannya, namun sayangnya, pria di depannya bodoh tidak bisa mengontrol perkataannya.


"Maaf, aku menyebut Bella lagi," ucap Jhonatan merasa bersalah.


"Kau tidak bersalah, aku rasa, aku ingin hidup bebas."


Dahi Jhonatan berkerut, selama ini ia selalu membebaskan Gladies. Entah wanita itu pergi kemana atau kadang ia menyuruhnya untuk pergi berlibur. "Apa aku terlalu mengekang mu? Hah, maaf Gla, aku sudah berusaha."


"Aku paham," ucap Gladies tersenyum. Mungkin karena sudah sering mendengarkan nama Bella, jadi sudah terbiasa dan membuat air matanya tidak mengalir. "Selama ini aku hidup bersama mu, jauh, jauh kau lebih bahagia bersama Bella. Dalam hati mu,"


Gladies menunjuk dada berjas hitam di depannya. "Kau bahagia, tapi ego mu lebih tinggi dari kebahagiaan mu, dan aku bisa melihat itu Jho.


"Aku ingin kau bahagia, aku sudah mengajukan surat perceraian."


Jhonatan menggeleng, bukannya dia tidak setuju. Tapi semua yang ia lakukan demi amanah Bella. "Gla, kamu harus pikirkan. Perkataan mu yang kemarin, menurut ku itu yang terkahir. Aku tidak ingin mengungkit ini lagi."


Pria itu melenggang pergi, namun Gladies mencekal tangannya. "Aku ingin bebas, Bella pasti mengerti. Kalau kau takut, jangan mengatakannya. Cinta tidak bisa di paksa, begitu pun kebersamaan. Sama seperti dirimu, sudah cukup kau menjaga perasaan ku, ya walaupun perasaan itu hanya demi Bella. Tapi aku cukup bahagia."

__ADS_1


"Tapi bagaiman dengan Austin dan Adam?"


"Adam? kau boleh memilikinya dan Austin akan ikut aku."


"Bukannya aku tidak mau dengan Adam, tapi sepertinya kau lebih berhak dari pada aku. Aku yakin, kalau kau akan mendidik Adam dengan baik."


Jhonatan berbalik dan menatap wajah Gladies. Ia tahu, Gladies pasti masih mencintainya. "Kau mencintai ku kan? kenapa tidak bertahan sedikit lagi? lagi pula kita memikirkan Adam? sekalipun dia bukan putra ku, dia tidak bersalah dan berhak mendapatkan kasih sayang orang tua setelah dia memasuki rumah ini."


Sekalipun hatinya menahan koyakan harimau yang mencabik-cabiknya, tapi ia tidak bisa mempertahankannya lebih lama lagi. Saat dia mendengarkan perkataan Dominic, hatinya pun juga sangat sakit. Tapi ia sadar, Jhonatan sudah melakukan yang terbaik.


"Tapi Gla,"


Jhonatan masih memikirkan Bella, bagaimana kalau wanita itu membencinya karena tidak menepati janjinya.


"Aku mohon, aku ingin mencari kebahagian ku sendiri. Aku ingin mendapatkan orang yang mencintai ku."


"Aku yakin, kalian akan menjadi keluarga yang utuh," ucap Gladies tanpa sadar.


"Maksud mu apa Gla? siapa yang bahagia?" tanya Jhonatan tak mengerti. Tatapannya seakan menyelidiki wajah Gladies yang langsung berubah.


"Maksud ku, kalau kau menemukan pengganti ku, kau pasti bahagia. Ya, begitulah," ucap Gladies tersenyum palsu.


"Kau tidak sedang merencanakan sesuatu atau menyembunyikan sesuatu kan?"


"Tidak, sebaiknya kita mencari keperluan anak Bella dan Dominic, sampai kapan kau akan mencurigai ku. Ya aku tahu, kau tidak akan melupakannya, huh."


Jhonatan menaikkan kedua bahunya, mungkin dia hanya banyak berpikir tentang Gladies.

__ADS_1


Flasback


"Hallo Gladies," sapa seseorang di seberang sana. Hatinya bergetar melihat foto kecil pernikahannya yang kini ia pandangi.


"Dominic? ada apa? tumben kau menghubungi ku? apa Jhonatan tidak mengangkat panggilan mu?" tanya Gladies. Seumur hidup baru kali ini dia di hubungi oleh Dominic.


"Bercerailah dengan Jhonatan."


Deg


Hati Gladies bagaikan di hantam oleh tusukan batu. "Apa maksud mu?"


"Bercerailah dengan Jhonatan, biarkan dia menjaga putra ku."


"Apa maksud mu? aku mencintai Jhonatan dan ... "


"Dia tidak mencintai mu," ucap Dominic dengan cepat. Ia tidak tahu kapan ia akan mati, tapi penyakitnya memang sudah tidak memungkinkan. Ia sudah berusaha, tapi sepertinya ia memang tidak bisa.


"Dominic? jangan memancing amarah ku atau aku akan mengatakan ini pada Bella."


"Hidup ku tidak banyak." Dominic tersenyum, dia mengelus wajah Bella yang melirik ke arah kamera dan ia mencium pipi sebelahnya. "Aku memiliki penyakit kanker dan aku sudah berusaha berobat, tapi sepertinya memang tidak memungkinkan."


Ponsel yang di pegang Gladies tanpa sadar jatuh ke lantai, dia sangat syok ketika dengan kabar saat ini. Tidak mungkin Dominic memiliki penyakit seperti itu. Pasti semuanya bercanda, ia pun memungut kembali ponselnya dan Dominic belum memutuskan panggilannya.


"Dominic, kau jangan bercanda."


"Aku tidak bercanda Gla, apa hidup ku kau pikir lelucon? Bella tidak tahu, tidak ada satu pun orang yang tahu kecuali Marvin dan juga kau. Pikirkan baik-baik, aku yakin, Jhonatan masih mencintai istri ku, begitupun istri ku, dia pasti mencintai Jhonatan walaupun sedikit. Aku percaya, Jhonatan akan membuatnya mencintainya seperti dulu, dan aku tidak khawatir karena nama ku pasti telah terukir di hati istriku. Kami memiliki tempat yang berbeda, entah aku jantungnya atau Jhonatan hatinya, begitupun sebaliknya, apa aku hatinya atau Jhonatan jantungnya. Tolong pikirkan baik-baik, dan satu lagi, percakapan kita akan menjadi rahasia kita."

__ADS_1


Flasback Off


__ADS_2