
Jhonatan merasakan lelah dan letih yang seakan membuat tubuhnya tak bisa berdiri, ia pun memejamkan kedua matanya saat kedua mata itu terasa panas. tapi demi sayangnya pada baby Gio, ia akan berusaha kuat. Bocah gembulnya tidak boleh menangis lagi. Seumur hidup ia akan merasakan bersalah pada Dominic.
"Setelah sampai di kediaman Dominic, kau harus periksa. Aku tidak mau terjadi sesuatu pada mu," ucap seorang pria yang berdiri di sampingnya, sejak tadi ia memperhatikan anaknya yang berwajah pucat itu, ia sudah menyarankan untuk menunggu tubuhnya pulih, tapi putranya sangat keras kepala dan tetap memaksakan dirimu untuk menemui bocah gembulnya.
"Iya Dad,"
Berkali-kali ia meminum gelas di depannya. Rasa pahit membuatnya tidak ingin memakan apa pun, meskipun ada beberapa hidangan yng telah tersaji dan menggugah selera.
Tuan Alexander memeriksa kening Jhonatan yang terasa panas yang menyengat kulitnya.
"Badan mu sangat panas Jho," ucap tuan Alexander yang tampak khawatir.
"Aku baik-baik saja Dad,"
"Hah, apa perlu kepala mu meledak dulu, baru kau mengatakan tidak akan baik-baik saja,"
Jhonatan tersenyum, tuan Alexander menyerah, senyumannya itu mengartikan, percuma dia membujuknya atau memarahinya, tidak akan ada gunanya.
***
__ADS_1
Melihat sebuah mobil hitam yang di kenal, Pak Khimar pun membukakan gerbang, dan dua mobil hitam itu pun masuk melewati gerbang. Pak Khimar menutup kembali gerbang itu dan menyapa kedua majikannya.
"Tuan Jhonatan, tuan Alexander,"
Kedua pria itu mengangguk dan tersenyum, rasa kantuk dan lelah itu seakan hilang bagi kedua pria itu setelah menapaki kakinya di depan pintu bercat putih.
"Ayo Dad,"
Kedua pria itu serempak melangkah dan Jhonatan lebih dulu mendorong pintu itu, lampu utama di matikan dan hanya lampu remang-remang yang memperlihatkan ruangan itu.
"Aku ingin melihat keadaanya, Dad."
Dengan senyuman lebar dan langkah yang di percepat, Jhonatan tak sabar ingin menemui baby Gio, kedua anaknya dan Bella. Dia pun membuka pintu kamar Bella, setelah Dominic pergi, Bella memindahkan tempat tidur baby Gio bersamanya.
Jhonatan menaikkan sebelah alisnya, dia sama tidak menemukan keberadaan Bella dan hanya baby Gio, sedangkan di samping ranjangnya telah ada pembatas agar baby Gio tidak terjatuh ke bawah.
"Kemana dia?"
Dia pun mengalihkan pandangannya ke kamar mandi. "Bella, kau ada di dalam?"
__ADS_1
Tidak ada sahutan dan suara air dari dalam kamar mandi. Dia pun bergegas keluar menuju kamar kedua anaknya, namun ia tidak berhasil melihat keberadaan Bella. Sejenak dia mencium kening kedua anaknya dan akhirnya pergi mencari keberadaan wanita yang ia cari.
Jhonatan kembali menuruni anak tangga, dia menuju halaman belakang, di mana tempat peristirahatan Dominic.
Dia pun mempercepat langkahnya, namun tidak ada siapa pun. Dia kembali berpikir dan membalikkan tubuhnya, kembali lagi menaiki anak tangga dan menuju sebuah ruangan.
Samar-samar dia mendengarkan suara tertawa, yang ia yakini suara itu, suara Bella. Ruangan temaram itu terlihat seberkas cahaya yang muncul di balik dinding. Ia pun terus melangkah dan melihat sebuah vidio, vidio kebersamaannya dulu dengan Dominic dan baby Gio.
Di vidio itu, Bella berlarian dan Dominic mengejarnya sambil menyemprotkan air, keduanya terlihat sangat bahagia. Dominic membuat selang itu, dan meraih pinggang Bella, lalu berputar-putar.
Jhonatan beralih pada sofa, di sana ia melihat Bella yang tidur pulas. Dia pun mengambil selimut untuk menyelimutinya, ingin memindahkannya, ia takut Bella terbangun dan marah padanya. Ia duduk di lantai sambil menatap pahatan indah di depannya, tangannya sangat gatal ingin menyentuh pipi Bella. Ia pun menyentuhnya dan tersenyum, namun air matanya mengalir. Sekian lama, baru sekarang ia bisa menyentuh pipi itu yang selama bertahun-tahun ia tahan.
Aku sangat merindukan mu, Bella batinnya.
Dia beralih pada hidung mancungnya, mengetuknya pelan. Ia teringat saat bersama Bella, waktu itu ia sering mengetuk hidung mancungnya. Biasanya, kebanyakan pria akan mengetuk kening kekasihnya, tapi ia tidak, ia suka mengetuk hidung mancungnya dan membuat Bella langsung memukul lengannya.
Jangan di ketuk, hidung ku sudah pesek dan kau membuatnya pesek lagi Jhonatan.
*Tapi imut, persis seperti kucing persia
__ADS_1
Kau*
Jhonatan begitu rindu masa-masa itu, seandainya waktu bisa di putar kembali, dia ingin mencintai Bella, melebihi cinta Bella padanya.