
Seorang pria duduk termenung di sebuah kursi berwarna putih, sinar matahari kini mulai redup, di ufuk barat kini terlihat warna jingga dan burung pun mulai berterbangan menuju tempat peraduannya. Langit semakin sore, dia begitu enggan untuk beranjak. Kilasan masa lalu pun terlintas di depannya.
Flasback
Seorang anak berumur 10 tahun sangat merah, kilatan kemarahan berapi di wajahnya sangat jelas. Sepulang sekolah ia berniat menemui sang Daddy di kantornya, dan ternyata sang Daddy tengah rapat, jadi ia menunggu di ruang kerjanya. Ia begitu kagum pada ruangan sang Daddy, sangat rapi, ada sebuah sofa santai, sebuah rak buku kecil dan sebuah kamar khusus. Penasaran yang kuat itu pun ingin membuatnya duduk di singgasanah hitam itu, hingga matanya tertuju pada laci kecil yang terbuka. Di buka laci itu dan sebuah foto wanita.
Amarahnya langsung memuncak, ia jadi teringat temannya yang menangis karena sang ayah membawa ibu tiri masuk ke dalam rumahnya, yang di sebut mama keduanya.
"Apa maksudnya foto ini Dad? apa dia selingkuhan Daddy?" tanya anak itu. Dia membanting foto yang ia temukan di kaci meja kerja sang Daddy di kantornya.
Pria yang di sebut dengan Daddy itu sangat marah, dia menampar putranya begitu keras hingga membuat cetakan di wajahnya.
"Apa kau mulai bertindak tidak sopan?!" geramnya. Dia mengambil foto seorang wanita yang tersenyum dan memakai gaun berwarna putih dan rambut tergerai.
"Jadi selama ini alasan Daddy bertengkar dan membuat mama menangis?"
Alexander menggeram, semua orang bahagia di atas penderitaannya. "Benar, sudah saatnya kamu tahu. Karena mama mu, Daddy berpisah dengan wanita yang Daddy cintai."
"Kau tahu, Daddy menikah dengan Mommy mu karena sebuah perjodohan." Dia mulai meninggikan suaranya. "Kau ingin tahu,"
"Aku tidak mau tahu, yang jelas Daddy menyakiti Mommy."
"Suatu saat kau akan merasakannya, seperti apa yang Daddy rasakan saat ini. Saat itulah kau akan tahu, rasanya di tinggalkan oleh orang yang mencintai mu dan kau mencintainya," ucap Alexander dengan mata memerah. Air matanya langsung keluar. Ia segera menghapus air matanya.
__ADS_1
"Daddy!"
"Daddy mengorbankan semuanya demi Mommy mu dan demi kamu. Suatu saat kau akan merasakannya."
Jhonatan kecil kehilangan arah, anak beranjak dewasa itu terlihat bingung. Keduanya sangat ia sayangi, Mommy nya yang menangis dan Daddy nya yang menangis.
......................
"Daddy, Jhonatan ingin berbicara dengan Daddy," ucap Jhonatan. Semenjak pertengkaran itu, dia tak saling sapa dengan sang Daddy, keduanya sama-sama diam. Bahkan Alexander pun kini berbeda, jarang pulang dan jarang makan bersamanya.
"Aku tidak memiliki waktu, sebaiknya kau belajar dan suatu saat kau yang akan memimpin perusahaan," ucap Alexander tanpa melihat ke arah Jhonatan yang tengah berdiri di depannya.
"Apa karena wanita itu yang membuat Daddy berubah? aku akan menemukannya untuk Daddy dan membawanya."
"Aku akan menjadi kuat dan memimpin perusahaan, aku akan menemukannya dan memberikannya pada Daddy."
"Apa kau merencanakan sesuatu dan Mommy mu?"
Jhonatan kecil menggeleng, "Mommy sudah menceritakannya pada ku, dia menyesal telah menghancurkan kehidupan Daddy, yang di sangka bahagia malah menderita. Mommy meminta Jhonatan untuk membawa kekasih masa lalu Daddy ke hadapan Daddy, tapi sebagai gantinya, Jhonatan memohon, perlakukan Mommy sebagai ratu satu-satunya di hati Daddy, walaupun sementara."
Flasback Off.
"Hah .... "
__ADS_1
Kenyataannya sampai saat ini Jhonatan tidak berhasil menemukan kekasih masa lalunya, termasuk dia. Kekasih masa lalunya hilang bagaikan di telan bumi.
"Kemana dirimu?"
Bella menengok seseorang yang ia kenal, baru tadi siang mengenalnya. Jauh dari pengawal dan duduk menyendiri di bawah sinar matahari yang mulai tenggelam. Angin sore pun terasa begitu dingin, ia masuk ke dalam, mencari sebuah selimut.
Entah keberanian dari mana? seperti seseorang yang menyuruhnya, ia menyelimuti tubuh Alexander dan sontak pria itu menoleh.
"Maaf, mengganggu, kenapa tuan duduk sendiri? udara mulai dingin, tidak baik untuk kesehatan tuan.
Alex masuklah, angin sore tidak baik untuk kesehatan mu
"Aku tidak peduli,"
"Kenapa tidak peduli? semua orang yang menyayangi tuan akan sedih kalau tuan sakit," ucap Bella. Ia merasa kasihan pada papa mertuanya, wajahnya memang tegas dan menyeramkan, namun ada kesedihan di wajahnya itu.
Kalau kau sakit, semua orang yang menyayangi mu akan sedih, termasuk aku.
Pria itu tersenyum kecut, benar dia merindukan sosok itu, tapi kehadiran seorang wanita yang sama persis wajahnya dan sikapnya.
"Apa ada orang yang mengatakan mu?"
"Iya, ibu saya selalu menasehati saya kadang dia marah kalau saya keluar waktu sore menjelang magrib."
__ADS_1