
"O-om ... "
Angelina menelan ludahnya susah payah, seandainya ada air galon, ia akan menceburkan dirinya dan menghapus rasa panas di tubuhnya, tetesan keringat pun membasahi sebelah pipinya.
Berulang kali ia menelan ludahnya, tenggorokannya seperti di panggang oleh bara api yang langsung kering dalam sekejap.
"O-om, kenapa ada di sini?" tanya Angelina dengan terbata-bata. Kedua tangannya ia sembunyikan di belakang punggungnya, sambil meremas jari-jarinya.
"Tidak perlu tau ada urusan apa aku kesini, yang jelas untuk apa kamu datang kesini?" Tegas tuan Alexander.
Angelina semakin mundur saat langkah kakinya semakin mendekat, ia sangat takut, ia merutuki kakak sepupunya itu yang tidak memberitahunya, ingin sekali ia berlari keluar dari rumah ini.
*Sialan!!! kenapa kakak tidak mengatakannya pada ku?
Apa dia ingin aku di makan monster, hah?!
Angelina bodoh, kenapa kamu begitu sial?
Malam ini, pasti malam kematian mu batin Angelina*.
"O-om, maksudnya ke-kedatangan ku," Angelina menunduk dan berbicara terbata-bata, pita suaranya seakan putus nyambung berhadapan dengan pria di depannya. Jangankan ia, orang tuanya saja takut pada orang di depannya.
"Be-begini om, aku datang kesini, mencari kakak?"
Semakin tuan Alexander mendengarkan perkataan Angelin, semakin ia menaruh curiga, semenjak kapan putranya akrap dengan Angelina? padahal dia anti wanita kecuali Gladies.
__ADS_1
Tuan Alexander duduk sambil memasang wajah sangar. "Aku tidak peduli dengan kedatangan mu, yang aku ingin tanyakan kenapa kamu bersikap kasar pada Bella?"
Angelina semakin mengeluarkan keringat di pipinya. "Dia bersikap kurang ajar, Om."
"Sikap yang mana yang membuat mu tidak suka?"
"Dia membuatkan aku teh hangat," ucap Angelina. Kakinya terasa kram karena berdiri sangat lama.
"Kau," tunjuk tuan Alexander. "Katakan! tadi Angelina menyuruh mu apa?"
"Nona Angelina mengatakan pada saya mencari nyonya Bella, eh pelayan Bella untuk membawakannya teh." Jelas sang pelayan dengan gugup. Jangan tanya dirinya yang saat ini gemetar.
"Sudah jelas kan? kau mengatakannya hanya menyuruhnya untuk membuat teh, tidak mengatakan teh hangat, panas dan teh dingin."
"Tapi om, dia wanita kurang ajar. Dia merayu kakak, aku tidak suka padanya. Om saja tidak boleh termakan wajah lugunya, dia bukan gadis yang benar."
Mati aku, batin Angelina.
"Sikap mana yang kamu maksud? apa kamu pikir kamu wanita yang baik? apa kamu pikir sudah menjadi wanita yang sempurna hingga menuduh dan mencaci orang lain seenaknya."
"Kau tahu, kau saja tidak menghargai orang tua mu dan lihatlah dirimu sekarang?" tangan tuan Alexander naik turun seakan mengukur tubuh Angelina, memberikan sebuah penilaian.
"Kau jauh kata sukses, sukses di luar tapi di dalam tidak. Apa kau pernah berfikir membagi kebahagian mu dengan keluarga mu, tidak, kau hanya bersenang-senang dan membahagiakan dirimu sendiri."
Angelina mengepalkan tangannya, bibirnya gemetar. Ia akui, ia sukses tanpa cinta dari orang tuanya, yang tak mendukungnya sama sekali menjadi model.
__ADS_1
"Kesuksesan mu tidak akan membawa kebahagian sempurna pada mu, karena kau," tunjuk tuan Alexander. "Tidak mendapatkan restu dari orang tua mu, kau harus tau, kesuksesan mu adalah restu dari orang tua mu dan kamu belum mendapatkannya, sama sekali tidak mendapatkannya."
"Om, aku tahu aku salah, tapi aku tidak ingin di kekang orang tua ku."
Angelina tidak bisa menahan emosinya, ia selalu di kekang ini dan itu. Hidupnya bagaikan dewi dalam sangkar, tidak bisa melakukan apa pun.
"Aku tanya, apa pernah orang tua mu melarang mu keluar? tidak, mereka hanya menyuruh untuk menjaga batasan dalam pergaulan. Kamu tau Angelina, kamu wanita yang sangat di sayangkan. Demi karir mu, kamu melepaskan orang tua mu dan membuatnya menangis. Om ingin lihat, seberapa besar kamu akan bahagia tanpa restu orang tua mu."
Tanpa mengucapkan sepatah kata apa pun, Angelina langsung berlari keluar sambil menangis, Alexander, om nya mengungkit masa lalu rasa sakit di hatinya.
"Aku berharap kau berubah Angelina." gumam tuan Alexander. Ia merasa kasihan pada adik iparnya yang kadang menangis mengingat Angelina, putri mereka satu-satunya.
"Kau! bawa Bella kesini!" titahnya pada pelayan tadi. Dia pun buru-buru pergi dan mencari Bella.
......................
"Oh, enak ya kau Bella. Setelah merayu tuan Jhonatan sekarang merayu tuan Alexander, apa yang pantas sebutan untuk wanita penggoda ini?" caci Ningsih. Dia bersyukur, Bella merasakan sakit di tangannya. Kalau saja ada air mendidih, sudah pasti ia akan menyiramkan air panas itu ke tubuhnya.
"Benar, sudah menggoda tuan Jhonatan sekarang ayahnya, dasar wanita murahan. Kenapa gak sekalian saja kamu pergi ke klub malam, melayani orang hidung belang," umpet salah satu pelayan yang sepemikiran dengan Ningsih.
Bella diam, bibirnya tak berniat membalas ucapan pedas mereka.
"Bella, kau di panggil tuan Alexander," ucap pelayan tadi. Nafasnya naik turun, padahal jarak tempuh dari ruang tamu ke dapur tidak memakan waktu berjam-jam. Saking takutnya, ia merasa jaraknya sangat jauh.
"Tu kan benar, entah kapan dia akan naik ranjang tuan Alexander? pasti ibunya seperti itu."
__ADS_1
Bella menahan sakit di hatinya, rasa sakit itu sangat sulit ia sembuhkan. Cacian dari Jhonatan dan cacian pelayan, ia bagaikan manusia hewan yang tidak memiliki hati, seenaknya saja mengakliem dirinya sebagai wanita penggoda.