Gundik Sang Mafia

Gundik Sang Mafia
#17 : Bagaimana Kabar Istrinya?


__ADS_3

"Jack,"


Pria berjas hitam itu memutar tubuhnya, "Iya tuan," sahutnya dengan hormat.


Jhonatan menaikkan sebelah alisnya, satu tangannya berdecak pinggang. "Jangan pernah mengatakan apa pun pada Daddy."


Jack terkejut, seperti memiliki indra ke enam, sang tuan seakan mengobrak otaknya. Ia baru saja ada niatan. Namun, sang tuan sudah memperingatinya.


"Jack, kau tidak berniat mengatakannya, kan?" Jhonatan tidak suka ada pengkhianat, jadi sekali ada yang berkhianat, ia akan menumpas habis nyawanya.


Jack menggeleng cepat, nyawa bagi sang tuan bagaikan angin yang bisa menghilang kapan saja. Seumur hidupnya, ia benar-benar meminta maaf pada nyonya mudanya karena tidak bisa menolongnya.


"Baguslah, jangan sampai ada yang tahu."


Jhonatan berbalik, awalnya dia mengurungkan niatnya untuk ke kamarnya. Dia teringat akan Jack, ia takut bawahannya itu berkata jujur kalau di tanya tentang dirinya. Jack, pria itu tidak pernah berbohong padanya atau ayahnya, sudah pasti laki-laki itu tidak akan menutupinya.


Krek


Aroma Familiar itu menyambutnya, setiap menghirup aroma manis itu. Ia teringat akan istrinya.


"Aku merindukan mu, honey."


Jhonatan mengarahkan kakinya ke balkon, kedua tangannya berpangku pada pagar pembatas balkon. Sambil menikmati udara malam, ia tidak sabar malam ini akan berlalu. Besok, ia akan bertemu dengan Gladies.


###

__ADS_1


Di tempat lain.


Seorang wanita tengah bersandar, menggunakan pakaian rumah sakit dan kepala yang di perban. Badannya lebih kurus dari sebelumnya. Tetesan demi tetesan di infus itu mengalir di lengan kanannya. Ia tidak menyangka, ternyata ia telah tertidur dalam waktu yang lama.


Ia menghabiskan waktunya di pembaringan brankar rumah sakit. Saat pertama kali membuka matanya, yang pertama kali ia inginkan adalah suaminya. Namun, sayang sekali, suaminya seorang Bilioner sudah pasti sibuk dan ia pernah menanyakan pada pengawal yang menjaganya, bahwa Jhonatan, suaminya itu sering mengunjunginya.


Ia tidak sabar menunggu kedatangan Jhonatan, berharap waktu saat ini cepat berlalu.


"Jho, aku merindukan mu." Air mata itu mengalir dari pelupuknya.


###


Bella membalikkan tubuhnya, sejak tadi ia tidak bisa tidur. Ia beranjak keluar kamarnya, untung saja. Ketua pelayan dengan sigap membuat pintunya di perbaiki. Kalau tidak, ia pasti akan menumpang di kamar Ana atau Ani.


Memang dalam kediaman ini, satu kamar, satu orang dan ada kamar mandi. Baginya, orang yang tidak punya sepertinya. Rumah seperti ini sudah bersyukur.


"Jhoo..."


Seperti biasa, ia akan duduk di kursi belakang dekat kolam Koi atau di Gazebo. Namun, saat ini ia memilih duduk di dekat kolam ikan Koi.


Kedua tangannya menyilang, lalu, mengusap kedua lengannya, agar tubuhnya tidak terlalu kedinginan.


"Hah.."


Hembusan nafas dari mulutnya mengepul, udara semakin malam, semakin dingin.

__ADS_1


"Nyonya... " sapa Jack.


Pria itu akhirnya memilih berkeliling saja dan tanpa di sangka, ia malah bertemu lagi dengan Bella. Tanpa permisi, ia duduk di samping sang nyonya.


"Nyonya..."


Bella tertawa, lucu baginya bila di panggil nyonya. "Panggil saja Bella, kau seharusnya sudah mengingatnya."


Jack mengangguk, tapi, tak menjawab. "Apa kau tidak bisa tidur, Bella?" tanya Jack dengan gugup. Kedua matanya tak lepas dari senyuman Bella dan mata indahnya yang terpancar ketenangan. Namun, dalam ketenangan itu jika di telusuri telah menyimpan kesedihan.


"Iya begitulah, o iya. Kau ada perlu apa dengan Jho?"


"Membahas masalah pekerjaan," jawabnya dengan berbohong.


"Kapan Jho akan berangkat?"


Deg


Jack mulai takut, ia mulai khawatir dengan arah pembicaraannya. "Maksud nyonya,"


"Aku sudah tahu, Jho akan keluar dan lebih tepatnya menjenguk istrinya."


Hening


Keduanya terdiam dengan seribu bahasa, sehingga Bella membuka percakapannya kembali.

__ADS_1


"Bagaimana kabar istrinya?"


__ADS_2