
Tuan Alexander menuruni anak tangga itu satu per satu sambil menyeka air matanya, rasanya terlalu sakit sama seperti dulu. Dari arah berlawan, tanpa ia sadari, Gladies menaiki anak tangga dan berhenti beberapa langkah, menunggu tuan Alexander turun.
"Dad," sapa Gladies, ia merasa ada sesuatu yang terjadi pada Jhonatan dan sang ayah mertua.
"Iya," tuan Alexander mengangkat wajahnya, namun tanpa ekspresi tersenyum. Rasanya sangat sulit tersenyum pada wanita di depannya.
"Apa terjadi sesuatu? Daddy tidak mengancam suami ku kan?" tanya Gladies, hubungan anak dan ayah ini tidak pernah akur, jadi ia merasa ada sesuatu yang telah terjadi.
"Aku hanya titip Jhonatan pada mu,"
"Tentu saja, tanpa di suruh Daddy, aku akan menjaga Jhonatan, mencintainya setulus hati ku," ucap Gladies.
Tuan Alexander mengangguk, tersenyum hambar. "Iya, aku yakin kau bisa melupakannya. Tapi, jangan lupakan kalau sudah menyangkut perasaan sangat sulit di lupakan."
Gladies meremas gaunnya, ia merasa tertohok dengan perkataan tuan Alexander. Sebuah perasaan, perasaannya hanya milik Jhonatan.
Dia pun mempercepat menaiki anak tangga untuk melihat suaminya. Ia mencari ke kamar Jhonatan, kamar yang dulu ia tempati. Namun tidak ada Jhonatan.
"Apa dia ada di ruangan Daddy?"
__ADS_1
Dia pun memutar tubuhnya ke ruangan kerja sang ayah mertua, dan melihat seorang pria tengah duduk membelakanginya. Dia menyentuh bahu suaminya dan seketika pria itu menoleh.
"Honey, kau kenapa?" tanya Gladies. Dia mencium kening Jhonatan, lalu memeluknya. "Apa Daddy melakukan sesuatu? biar aku yang menghadapinya, pasti karena aku?" tebaknya.
"Bukan, bukan masalah mu. Ini masalah ku,"
"Masalah mu, juga masalah ku," ucap Gladies.
Jhonatan tersenyum, tentu saja bukan masalah Gladies, sekalipun ini masalahnya. "Aku hanya minta maaf tidak bisa menjadi seorang suami yang baik untuk mu."
"Bukan, kau suami yang baik." Galdies terisak dan menempelkan keningnya ke kening Jhonatan. "Kau suami yang luar biasa, aku tidak peduli apa pun yang terjadi, aku akan tetap bersama mu, sekalipun itu mengancam nyawa ku."
##
"Hallo, temui Bella di pulau Xxx," ucap tuan Alexander. Lalu mematikan ponselnya.
Dia pun kembali menghubungi seseorang. Wajahnya sangat serius, ia sudah memikirkannya secara matang, sudah beberapa tahun dia tidak menemui pria itu dan hanya mencukupi bulanannya.
"Bawa dia ke sini," titahnya dengan tegas.
__ADS_1
Tuan Alexander pun mematikan kembali ponselnya, dia menaruh ponsel itu ke dalam saku celananya.
"Tuan, apa tuan yakin?" tanya seorang pria di depannya.
"Aku yakin, sudah waktunya dia mendapatkan pengakuan dari Gladies," ucap tuan Alexander.
##
Seperti mendapatkan angin segar, Dominic mematung, hanya kedipan kedua matanya yang menyadarkan orang kalau dia masih hidup. Pria itu seakan di buat tercengang, tuan Alexander langsung mengatakan keberadaan Bella.
"Oh, aku mau terkena serangan jantung," ucap Dominic. Dia langsung mengelap keringat dahinya.
"Bapak tua itu berarti sudah mengakui ku dan aku ... Yes ... "
Saking senangnya, tanpa rasa lalu dia pun berputar-putar dan menggoyangkan tubuhnya.
Marvin menggaruk dahinya yang tak gatal, ia merasa sang bos telah di rasuki iblis. Seumur hidup baru kali ini dia melihat pria datar itu menari layaknya anak kecil. Ingin sekali ia menendang bok.ongnya itu.
"Vin, cepat carikan aku bunga mawar, ah bunga mawar apa saja? kita akan menuju pulau Xxx."
__ADS_1
"Baik tuan," ucap Marvin segera berlalu. Jangan sampai iblis di tubuh sang bos berpindah padanya.