
Setelah puas menangis, tidak mengangkat rasa sakit di hatinya, kini ia lampiaskan pada beberapa botol Wine.
Pria itu mengingat kembali masa lalunya.
Jangan bilang kau menyukainya, dia memang cantik, tapi dia sudah memiliki suami
Benar, sebaiknya kau mencari gadis lain. Walaupun dia bunga kampus. Aku dengar dia melahirkan putranya empat bulan yang lalu
Jhonatan tidak peduli, yang ia inginkan hanya wanita itu yang menarik hatinya, dia selalu saja melihat wanita itu di antar seorang laki-laki dan sering melihatnya di cium. Baru satu bulan ia pindah kampus dan mendapatkan seorang wanita yang menjerat hatinya.
Tapi sepertinya dia menyukai ku,
Kedua teman Jhonatan saling tatap, dia tidak setuju dengan Jhonatan yang berhubungan dengan Gladies. Memang cantik, tapi sayang sudah memiliki suami.
Kau tidak sebrengsek itu kan?
####
"Lepaskan aku!" teriak Jhonatan pada seorang laki-laki yang tengah memeluk sebelah kakinya. Wajah pria itu sudah babak belur karena anak buahnya memukulnya.
"Aku mohon, jangan ambil dia." lirihnya memohon. "Aku akan melakukan apa pun, tapi jangan ambil dia, putra ku sangat membutuhkannya."
"Kau bisa mencarinya pada orang lain, atau kau tanya saja pada mantan istri mu," ucap Jhonatan tersenyum sinis. Dia menatap penuh cinta pada Gladies, pengejarannya berbulan-bulan membuahkan hasil, ternyata Gladies juga menyimpan rasa padanya. Hingga keduanya memutuskan berpacaran dan mengakhiri pernikahan Gladies.
"Aku memilih Jhonatan,
"Gla," pria itu berpindah, memohon dan memegang kedua kaki Gladies. "Kau harus mengingat putra kita," lirihnya.
"Maaf, tapi aku mencintai Jhonatan. Tiap bulan aku akan menanggung kebutuhan kalian."
__ADS_1
Pria itu menggeleng, ia tidak butuh uang. Ia hanya butuh istrinya yang sangat ia cintai.
"Tolong, jangan tinggalkan aku dan putra kita. Dia butuh kamu Gla,"
"Pergilah, cari wanita lain. Masih banyak wanita yang akan menggantikan ku, ayo sayang kita pergi. Jangan lupa, cepat tanda tangani surat perceraian kita, kalau kau ingin aku bahagia, maka turuti semua permintaan ku."
"Oh Tuhan ... " Jhonatan melemparkan sebotol Wine itu ke lantai, cairan merah dan kaca pecah itu berserakah di lantai. Selama ini, ia hanya mengingat pengejarannya pada Gladies, masa-masa indahnya. Namun, ia melupakan masa lalu yang mencekam di hatinya.
"Aku .... " Jhonatan menangis tergugu, dia butuh sandaran. Namun tidak ada yang bisa membantunya untuk bersandar.
Jho, apa yang kau lakukan? jangan minum ini. Hemm, ini tidak baik kesehatan mu, Jho.
Jhonatan mendongak, ia menatap kedua manik yang indah dan tersenyum itu. Seorang wanita memakai dres bermotif bunga tulip berwarna kuning dan rambutnya bergerai.
Kau harus menghindarinya, kau tidak boleh meminumnya lagi. Aku tidak suka, apa lagi minuman ini tidak boleh di minum semacam kita.
Senyum Bella yang memancarkan aura itu membuatnya menghentikan tangisannya. Bella mendekat dan menghapus air mata Jhonatan.
Jangan menangis, masih ada Allah SWT, mintalah pada Allah, apa keinginan mu dan hajat mu.
Deg
Bayangan itu langsung sirna dalam sekejap, ia tersenyum. Ternyata Bella telah menguasai seluruh hati dan pikirannya.
"Bella ... "
Jack menatap sang bos yang rapuh itu sampai meneteskan air matanya. Ia sudah mengingatkannya, ia takut kejadian itu membuat sang bos terluka. Namun sayang, ia tidak bisa mencegahnya, mungkin ini tulisan takdir kehidupan majikannya.
Keesokan harinya
__ADS_1
Seorang pria dan anak kecil berumur 7 tahun tengah menatap sekeliling rumah megah itu, anak kecil itu begitu takjub dengan rumah megah dan besar itu, selama ini ia hidup di sebuah rumah berlantai dua, tapi tidak semegah di depan matanya ini, dan ayahnya bekerja di sebuah Restaurant, menjadi Managernya.
"Waw, Dad. Apa ini istana?" tanya anak itu begitu takjub. Wajahnya begitu mirip dengan Gladies, ibunya yang telah meninggalkannya.
"Ini rumah kakek Alexander, kau tidak boleh nakal," ucapnya tersenyum. Air matanya keluar, ia berjongkok dan memeluk putranya. Ia ingat percakapannya di telpon, awalanya ia menolak, tapi demi permohonan tuan Alexander, ia luluh. Karena selama ini, yang menunjang kehidupannya adalah tuan Alexander.
Karena Gladies telah mejadi menantu ku, maka dia juga cucu ku
Perkataan itu terus terngiang di hatinya, pada awalnya ia membenci tuan Alexander dan Jhonatan, tapi pria itu terus meminta maaf padanya, hingga ia tidak tega dan memaafkannya, tapi tidak dengan Jhonatan dan Gladies.
Kenapa anda menolong saya? kalau anak anda lah yang menghancurkan rumah tangga saya.
Iya, karena itu aku minta maaf dan aku malu mengakuinya sebagai putra ku, ketahuilah, aku dan Mommynya tidak pernah mengajarkannya seperti ini.
"Ayahnya yang baik, tapi putranya," gumamnya dengan penuh kebencian pada Jhonatan. Mendengarkan namanya saja membuatnya muak, apa lagi bertemu dengannya. Seandainya saja bukan untuk tuan Alexander, ia sudah tidak mau. Apa lagi bertemu dengan mantan istrinya, ia tidak sudi.
"Anda sudah datang?" sapa Theo tersenyum ramah. "Silahkan masuk," ucapnya.
"Om Theo," seru bocah itu dengan girang.
Theo langsung menggendong bocah itu dan saling tos. Itulah yang ia lakukan ketika sang kakek dan Theo menemuinya.
"Aku kangen Om," seru bocah itu berteriak girang.
"Sama, kau sudah di tunggu kakek di dalam," ucap Thoe sambil menyentil hidungnya.
"Ayo Dad, aku tidak sabar bertemu dengan kakek." Girangnya sambil memamerkan giginya yang bolong.
Ketahuilah, Nak. Kau akan bertemu dengan ibu mu, ibu yang telah menelantarkan mu batinnya dengan hati yang sesak.
__ADS_1