Gundik Sang Mafia

Gundik Sang Mafia
#97 : Sebuah Panggilan Dari Gladies


__ADS_3

"Tidak bisakah ada cara lain?" tawar Jhonatan, membiarkan Bella hidup bersama dengan Dominic, rasanya ia tidak ingin hidup lagi.


Vello menggeleng, menatap lekat Jhonatan dan membuat pria itu menggenggam putranya.


"Nak, Daddy tahu salah, tapi Daddy ingin melakukan yang terbaik untuk kalian. Daddy akan melakukan apa pun termasuk berpisah dengan istri pertama Daddy."


Deg


Ada rasa senang di hati Vello, ia tidak memungkirinya. Setiap anak pasti menginginkan bersama dengan orang tuanya, keluarga yang utuh seperti yang sering ia lihat. Tapi Mommynya begitu menderita.


"Aku rasa tidak Dad, Daddy bisa menemui ku kapan pun."


Jhonatan memejamkan kedua matanya, lalu menyanggah dagunya dengan siku di atas pahanya. Kedua matanya berair, akankah semuanya berakhir? tapi ia tidak akan menyerah.


Selama tiga hari Jhonatan dan Dominic merebutkan Bella, keduanya kadang saling beradu mulut dan beradu tenaga, selalu membantu Bella, namun akan muncul perdebatan.


Jhonatan pun tak pernah menghubungi Gladies, dia pun tidak tahu bagaimana keadaan istri pertamanya, justru ia kecewa dengan sikap Gladies yang berbuat kasar pada putrinya, jadi ia membiarkan saja.


Sedangkan Dominic, pria itu seakan tidak memiliki pekerjaan. Selama tiga hari dia menginap di rumah tuan Alexander dan pria itu membiarkan saja. Asistennya Marvin, justru dia lah yang bolak-balik mengantarkan tumpukan Dokumen.


Seperti saat ini keduanya malah memperebutkan pot bunga. Karena tidak ada kesibukan lain, Bella berniat menanam bunga mawar. Sedangkan si kembar bermain dengan kakeknya.


"Biar aku saja, kau cari yang lain saja," ucap Jhonatan yang merasa jengkel.


Dominic tidak menyerah, apa yang di pegang Bella, harua ia pegang juga. "Kau saja yang mengambil lainnya, apa kau tidak memiliki kesibukan tinggal di sini."


"Apa salah ku? aku tinggal di rumah Daddy ku. Sedangkan kau yang tidak tau malu malah tinggal di sini, apa kau tidak memiliki pekerjaan."


Bella menghembuskan nafas kasarnya, sampai sore pun pekerjaannya tidak akan selesai.


Ia pun menyelipkan anak rambut yang mengganggu penglihatannya, tanpa sadar ada tanah yang sedikit mencoreng pipinya.

__ADS_1


Jhonatan menoleh, dengan sigap pria itu menghapus jejak tanah di sebelah pipi Bella dan menghapusnya dengan jempolnya. Kedua saling tatap, Jhonatan merasakan debaran jantungnya semakin cepat. Wajah cantik berbentuk oval dan hidung mancung itu selalu menyita perhatiannya, hari ini Bella menggunakan dres warna merah dengan motif bunga merah, rambut hitamnya di biarkan tergerai, bahkan di kedipan matanya, bayangan Bella yang bagaikan dewi yang menyita hati dan pikirannya.


Drt


Bunyi dering benda pipih itu membuyarkan lamunan keduanya, Dominic merasa jengah, hari-harinya kacau semenjak Jhonatan kembali mendekati Bella.


"Iya bibi Su?"


"Tuan, nyonya Gladies pingsan. Kami sudah membawanya ke rumah sakit," ucap bibi Su dengan nada khawatir.


Kedua telinga Bella mendengarkan suara bibi Su, dia pun mengambil pot di tangan Dominic, lalu menaruh tanah ke dalam potnya.


"Sebaiknya kau temui dia," ucap Bella. Jhonatan tak bergeming. Dia begitu tidak ingin meninggalkan Bella bersama Dominic.


"Kau pergilah, bagaimana pun juga dia istri mu," ucap Bella dengan hati yang amat sakit. Dia mengangkat wajahnya dan tersenyum. Hal itulah yang membuat Jhonatan rapuh, ia tidak pernah melihat senyuman itu lagi. Tapi perjalanannya selama tiga hari ini membuat Bella tidak begitu dingin padanya.


"Iya benar, Gladies masih istri mu kan."


"Kau lucu sekali Jho," ejeknya.


"Jho, sebaiknya kau temui dia," ucap Bella.


"Biarkan saja, aku akan menghubungi Jack untuk mengeceknya."


"Aku akan menghubungi mu kalau ada sesuatu Jho," bujuk Bella dengan tatapan memelas. Ia merasa kasihan pada Gladies, pasti wanita itu sedang menunggu Jhonatan.


"Baiklah, tapi aku mendatanginya demi permohonan dirimu bukan dirinya. "Kalau ada sesuatu, katakan pada ku," ucap Jhonatan sambil melirik Dominic.


Jhonatan pun pergi dengan perasaan aneh, dia ingin sekali membuat Dominic pergi dari Bella, tapi ia tidak tahu caranya harua bagaimana.


Drt

__ADS_1


Begitu pun Dominic, dia merasa sial baru saja Jhonatan pergi, Marvin menghubunginya dan mengatakan ada klaien dari jepang.


"Tapi aku tidak bisa, kau saja yang urus."


"Dominic tidak baik meninggalkan pekerjaan mu, kau seharusnya bertanggung jawab. Pulanglah,"


"Tapi Bella,"


"Kau akan aku larang bertemu dengan Vello dan Velli," ucap Bella dengan kesal.


Dominic mencolek dagu Bella. "Baiklah, bertemu dengan ibunya tidak apa-apa kan?"


"Dominic!" teriaknya dengan kesal dam Bella memukul Dominic dengan tangannya, hingga membuat pria itu jatuh ke tanah sambil tertawa.


Sedangkan Marvin langsung mematikan ponselnya, memang tidak baik untuk darahnya berbicara dengan orang yang di mabuk cinta. Tapi ia merasa amat di sayangkan kalau proyek itu batal.


Setelah kepergian dua pria yang menghantuinya beberapa hari. Dia duduk di tanah, menekuk kedua lututnya. Ia merasa bingung dengan kehidupannya, bersama Dominic ia merasa nyaman, namun tidak mencintai pria itu. Sedangkan bersama Jhonatan, ia mencintainya, namun sangat sakit berada di dekatnya. Selama tiga hari ia berpura-pura tangguh, tapi luarnya saja. Tetapi, hatinya selalu merasa sesak yang tak pernah orang tahu.


*Flasback


"Bella aku ingin berbicara dengan mu," ucap Gladies. Jantungnya terbakar oleh panasnya api cemburu dan ketakutan.


Sama halnya dengan Bella, bibirnya bergetar, air matanya mengalir. Ia meremas ponselnya dan ingin membantingnya.


"Aku ingin berbicara empat mata dengan mu," imbuhnya lagi.


"Apa kita bisa bertemu?"


"Aku bisa bertemu dengan mu," ucap Bella tersenyum sinis. Akhirnya, ia harua menguatkan hatinya bertemu dengan istri sah sang Jhonatan, pria yang telah meluluh lantahkan hatinya.


"Baiklah, aku akan mengubungi mu kembali."

__ADS_1


Gladies mematikan ponselnya dan langsung membanting ponselnya. Dia tidak pernah berpikir hidupnya akan rumit seperti ini, bertemu dengan wanita yang telah merebut suaminya. Sakitnya membuat jiwanya seakan terkurung oleh tanaman rambat yang berduri. Semakin ia melepaskan, semakin sakit*.


__ADS_2