
"Oh, atau jangan-jangan kak Gladies hamil?"
Jhonatan membisu, jantungnya berdetak kencang. Kalau memang benar Gladies hamil, artinya ia akan menjadi seorang ayah. Ah, iya, dia menginginkan menjadi seorang ayah.
Mendadak ia jadi teringat perkataan dokter, kalau kondisi rahim Gladies lemah. Dia pernah keguguran dan sampai saat ini belum di karuniai seorang anak.
"Apa benar begitu?"
"Iya, temen ku juga ada yang begitu. Istrinya hamil malah suaminya mual-mual, pengen makan ini, pengen makan itu, gak mau ini, gak mau itu, ribet."
Jhonatan mengulas senyum, ia berniat akan memeriksa Gladies dan menjemputnya pulang. Ia senangnya bukan main, bisa memiliki anak adalah anugerah terindah hidupnya.
"Aku tidak sabar ingin mengatakan," ucap Jhonatan. Dia pun beranjak pergi ke lantai atas, mengambil ponselnya dan akan menghubungi Gladies.
Sedangkan Ana tersenyum penuh arti, dari jarak jauh dia memang di tugaskan untuk mengawasi makan malam Jhonatan, takut sewaktu-waktu menginginkan yang lain.
Terimalah kekecewaan mu tuan, anggap saja kau mendapatkan anugerah kekecewaan terindah.
Sedangkan bibi Su dia menoleh ke arah Ana. "Ana apa kau menyembunyikan sesuatu?" tanya bibi Su. Melihat mata Ana yang menatap tajam dan menyeringai itu, ia merasa Ana seperti merencanakan sesuatu. Satu hal perkataan Angelina membuatnya teringat dengan Bella.
"Dia akan menuainya, tapi untuk apa memberitahu tuan, dia sudah tidak menginginkannya."
Mulut bibis Su menganga dengan lebar, perkataan Ana membuatnya mengertikan sesuatu, bahwa ada sesuatu pada Bella. "Kau mengetahuinya," bibi Su mencekal sebelah lengan Ana dan wanita itu malah tersenyum sambil menatapnya.
__ADS_1
"Iya, katakan saja pada tuan, Bella sudah pergi dan di bawa oleh tuan besar."
###
Jhonatan mengetik ponselnya dan mengubungi Gladies, sejenak ia menunggu dan akhirnya terhubung.
"Honey," sapa Jhonatan dengan lembut. Saking gembiranya ia ingin berjingkrak-jingkarak.
"Sayang, kapan kau menjemput ku?"
"Secepatnya," ucap Jhonatan. "Aku akan menjemputnya besok pagi, jadi bersiap-siap lah."
"Benarkah? kau ingin menjemput ku," teriak Gladies, saking gembiranya ia sampai berteriak senang. "Baiklah aku bersiap-siap."
Jhonatan pun tersenyum, ia memiliki sebuah rencana untuk menyulap kamar sebelah menjadi kamar bayi, ia akan memberikan hadiah untuk istrinya. Bahkan ia lupa, kalau besok ia berjanji akan menemui sang Daddy.
"Aku tidak sabar ingin melihatnya," gumam Jhonatan.
Dia pun keluar dari kamarnya dan menuju ke arah Angelina. "Angel, aku ingin besok kau mempersiapkan semua keperluan bayi."
Hah
"Kak, ini terlalu mendadak dan kakak ipar belum di periksa," ucap Angelina. Besok ia ingin bersantai dan bermanja di rumah sang kakak, tapi malah harus belanja keperluan bayi. Ia merutuki kebodohannya sendiri.
__ADS_1
"Kau tidak perlu ragu, aku yakin Gladies pasti hamil."
"Tuan, anu .. " Bibi Su ingin angkat bicara, ia tidak mau Jhonatan kecewa, namun tangannya di remas oleh Ana.
"Ada apa Bi? o iya, besok kamu temani Angelina untuk menyiapkan bayi, sekaligus kamar sebelah di sulap menjadi kamar bayi."
Jhonatan pun berlalu tanpa mendengarkan perkataan bibi Su lebih lanjut, begitu pun Angelina, makanannya sudah habis dan berniat untuk istirahat.
"Apa yang ingin kamu lakukan? kamu ingin mengadu?"
"Iya, tuan Jhonatan harus tahu kalau Bella hamil," ucap bibi Su.
Ana pun menggertakkan giginya, ia kesal dengan bibi Su yang terus membela anak asuhnya itu.
"Kau bekerja di rumah Jhonatan, jadi berhati-hatilah kalau kau tidak ingin hidup susah," tekan bibi Su.
"Begitu? dengan senang hati aku akan hidup susah. Dengar bibi Su, sebaiknya kau pikirkan tentang rencana mu itu, ingin mengatakannya pada tuan Jhonatan, apa kau tidak pernah berpikir? kalau nyonya Gladies memang benar hamil artinya anak nyonya Gladies memiliki saingan, yang kedua, Bella sudah pergi dia hamil atau tidak, tuan Jhonatan tidak akan peduli, apa kau tidak kasihan pada anaknya Bella, kau tidak memiliki hati yang kejam kan?"
Ana pun melangkah ke arah meja, dia menyatukan satu piring ke piring lainnya dan membawanya ke dapur, sedangkan bibi Su, dia malah mematung memikirkan ucapan Bella.
Benar saja, kalau Bella hamil belum tentu majikannya akan menerimanya, ia juga kasihan pada anak yang tak bersalah itu dan kalau nyonya Gladies tahu, wanita itu akan kecewa.
"Jadi pikirkan perkataan ku, Bi."
__ADS_1